Bagaimana Beyonce Menjelma Jadi Ikon Musik Pop

Oleh: Faisal Irfani - 25 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Menggebrak pop dan membikin puluhan ribu hingga jutaan pasang mata terkesima: secuil peninggalan dari konser Beyonce di panggung Coachella 2018.
tirto.id - Dua tahun lalu, Beyonce dijadwalkan untuk mengisi line-up utama di Coachella, salah satu festival seni dan musik bergengsi di AS. Kabar tersebut tentu membuat calon penonton Coachella girang tak karuan.

Namun, kabar gembira ini harus direvisi manakala Beyonce mengumumkan kepada alam semesta bahwa ia tengah mengandung dua saudara kembar dari Blue Ivy Carter yang kelak diberi nama Sir dan Rumi. Kehamilan itu seketika membikin Beyonce urung tampil di Coachella. Publik pun terpaksa harus gigit jari━menunggu entah sampai kapan.

Penantian publik akhirnya terbayar tuntas ketika pada 2018 kemarin, Beyonce dipastikan hadir di Coachella. Setelah melewati masa hiatus kurang lebih setahun, Beyonce siap untuk comeback. Pilihan Beyonce tak salah. Di Coachella, Beyonce menyajikan penampilan yang sepertinya akan terus dikenang sepanjang sejarah musik pop di AS━dan mungkin juga dunia.

Panggung Seorang Ibu, Musisi, dan Perempuan

Setiap peristiwa bersejarah, sekiranya harus memperoleh dokumentasi dengan baik. Penampilan Beyonce di Coachella 2018 termasuk dalam kategori itu.

Pertengahan April silam, Netflix merilis film dokumenter berjudul Homecoming. Film dengan durasi 137 menit ini merekam perjalanan Beyonce dalam mempersiapkan penampilan di Coachella.

Bagian penting yang ditonjolkan dalam film ini adalah bagaimana Beyonce menyeimbangkan perannya sebagai seorang ibu dan superstar. Penonton akan melihat segala upayanya untuk kembali tampil prima setelah melahirkan Sir dan Rumi. Beyonce rela menjalani diet ketat sampai-sampai ia sering merasa lapar dan lelah.

“Ada hari-hari ketika aku berpikir bahwa aku tidak pernah lagi sama. Secara fisik, kekuatan, daya tahan tubuh,” ucap istri dari rapper Jay Z ini.

Beyonce mengaku, pikiran dan tubuhnya tidak terhubung dengan maksimal. Di saat ia menjalani latihan fisik, pikirannya melayang ke buah hatinya. Keadaan ini membuatnya beberapa kali tidak fokus.

Namun, sekali lagi, Beyonce berusaha menepis hal itu. Ia ingin semuanya terkendali dengan baik: waktunya bersama kedua buah hati maupun aksi panggungnya di Coachella.

Sembari menyiapkan fisik seperti sedia kala, Beyonce mulai menyusun segala hal yang berkaitan dengan aspek teknis pementasan. Beyonce tak mau show-nya biasa saja dan, oleh karenanya, ia bakal membuka berbagai kemungkinan yang dapat menjadikan panggungnya lebih semarak.

Maka sudah diputuskan. Dalam panggung Coachella, Beyonce akan membawa puluhan penari, pemain musik, serta pelbagai macam properti yang salah satunya berwujud … piramida.

“Aku yang mengatur setiap penari, cahaya lampu, tangga, bentuk dan ketinggian piramida,” paparnya. “Setiap hal yang kecil punya detail tersendiri.”

Hari yang dinanti━selepas menjalani masa persiapan selama berbulan-bulan━pun tiba. Mengenakan dandanan bak Nefertiti, permaisuri Fir’aun, ia memasuki panggung dengan sangat percaya diri. Di belakangnya, marching band dan orkestra memainkan musik pengiring yang membahana.

Sejurus kemudian, Beyonce menyapa penonton dengan hangat. Lagu pertama yang ia bawakan yaitu “Crazy in Love”. Setelahnya, Beyonce seolah tak bisa dihentikan. Dua jam ke depan menjadi arena Beyonce untuk bernyanyi, berpesta, dan menumpahkan segala keriaannya bersama kerumunan penonton yang beruntung bisa menontonnya di Coachella.

Ada repertoar klasik milik Nina Simone, duetnya bersama sang suami maupun adiknya, Solange, hingga reuni kecil-kecilan dengan Destiny’s Child. Beyonce di Coachella tak sekadar berbicara mengenai dirinya sendiri. Lebih dari itu, Beyonce mengajak turut serta mereka yang punya kontribusi besar dalam kerier bermusiknya untuk sama-sama bersuka cita.


INFOGRAFIK Beyonce
undefined

Politik Kulit Hitam

Di panggung Coachella, Beyonce tak sebatas bicara soal musik━tapi juga politik.

Apa yang ia bawa selama dua jam pertunjukan adalah suara politiknya sebagai seorang kulit hitam. Beyonce menyentil masa lalu, sekarang, dan masa depan. Baginya, menjadi kulit hitam di AS tak pernah mudah━sebab itu Beyonce mengajak semua pihak untuk meleburkan tembok yang ada.

Yang paling kentara mungkin ketika Beyonce mengangkat isu HBCU (Historically Black Colleges Universities). Representasi tema HBCU dituangkannya ke dalam konsep marching band beserta segala atributnya.

Dalam film, Beyonce menggambarkan bagaimana ia selalu ingin menempuh pendidikan di salah satu institusi HBCU. Akan tetapi, Beyonce mesti menutup pintu keinginannya rapat-rapat manakala ia disibukkan dengan Destiny’s Child maupun kehidupan selebritasnya. Kendati begitu, ia tetap sesekali mengunjungi kampus-kampus seperti Prairie View A&M University atau Texas Southern University untuk merawat mimpinya.

“Aku ingin menuangkan apa yang aku rasakan ketika nonton Battle of the Bands [kompetisi marching band antar kampus HBCU],” ujar Beyonce tentang set-nya di Coachella. “Karena aku tumbuh dengan melihat pertunjukan itu.”

Selain mengangkat narasi HBCU sebagai refleksinya atas budaya masa lalu, Beyonce, dalam kesempatan tampil di Coachella, juga menyertakan kutipan berbentuk audio dari para tokoh intelektual kulit hitam. Salah satunya adalah kalimat W.E.B. Du Bois yang berbunyi: “Pendidikan tak semata soal pekerjaan━pendidikan harus mengajarkan kehidupan.”

Kutipan Du Bois tersebut diambil dari esainya yang berjudul “Talented Tenth” (1903). Esai ini berisi pandangan Du Bois tentang pentingnya pendidikan bagi orang-orang kulit hitam sekaligus kritik keras terhadap argumen Booker T. Washington, tokoh kulit hitam terkemuka abad 19, yang menyatakan bahwa alih-alih fokus pada pendidikan, orang-orang kulit hitam seharusnya lebih mementingkan pekerjaan di industri dan agraria.

Gagasan Du Bois ini lantas menginspirasi lahirnya Gerakan Niagara 1905 (Niagara Movement) serta menjadi cikal bakal berdirinya Asosiasi Nasional untuk Kemajuan Orang Kulit Berwarna (NAACP), organisasi hak-hak sipil di AS, empat tahun setelahnya.

Tak hanya Du Bois, Beyonce turut pula menyertakan kutipan orasi Malcolm X yang menggambarkan betapa tidak dihormatinya perempuan kulit hitam di Amerika.

“Perempuan yang paling diabaikan di AS adalah perempuan kulit hitam,” Malcolm bilang.

Troy Patterson, dalam tulisannya berjudul “Beyoncé’s “Homecoming” Is a Total Synthesis of the Pop Arts” yang dimuat di The New Yorker (2019) mengatakan, penampilan Beyonce di Coachella 2018 merupakan potret diri yang penuh kemenangan, sintesis dari seni pop yang terdiri atas rap, tarian, sastra, dan derai panggung, hingga ekspresi politik kelompok kulit hitam.

Aksi panggung Beyonce di Coachella, tambah Troy, berakar pada sejarah panjang pergerakan seni kulit hitam yang berandil dalam membentuk kualitasnya seperti sekarang.

Lahir untuk Besar

Sejak memutuskan pecah kongsi dengan Destiny’s Child pada 2003, Beyonce langsung berlari membentuk jalan seninya sendiri.

Momentum emasnya datang enam tahun lalu ketika ia merilis album Beyonce. Di album ini, Beyonce menyertakan video musik untuk setiap lagu dan dilepas secara tiba-tiba di iTunes pada tengah malam.

Hasilnya tokcer: album tersebut terjual 800 ribu kopi lebih di seluruh dunia hanya dalam waktu tiga hari━terima kasih Twitter. Sementara di saat bersamaan, tur albumnya bersama sang suami, Jay Z, menghasilkan sekitar 100 juta dolar dari penjualan tiket.

Puncak artistik Beyonce terjadi pada 2016 kala ia melepas Lemonade, sebuah album musik dengan kepingan film-film pendek yang berkisah tentang kemarahan, keputusasaan, dan kekuatan perempuan.

Album Lemonade kian terasa sempurna manakala Beyonce turut melibatkan musisi-musisi seperti Kendrick Lamar, The Weeknd, Jack White, sampai Ezra Koenig dari Vampire Weekend.

Dua album tersebut membuktikan bahwa Beyonce, dalam kapasitasnya sebagai musisi, punya visi yang jelas lagi mumpuni. Ia mampu menangkap setiap peluang maupun inovasi yang dapat menjadikan musik-musiknya tak terlindas zaman. Secara kualitas, albumnya bersuara dan secara aspek bisnis, albumnya bertaji.

Beyonce merupakan gambaran perempuan renaisans: musisi, pebisnis ulung, feminis, merek dagang bernilai tinggi, dan, tak ketinggalan, seorang ibu. Ia mewakili nilai-nilai artistik, aktivisme, sekaligus pengabdian━dan semua mampu dijalaninya dengan baik-baik saja.

Baca juga artikel terkait BEYONCE atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Musik)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono