Bagaimana Atlet Asian Para Games 2018 Lolos Klasifikasi?

Atlet Indonesia Ni Nengah Widiasih bersiap melakukan angkatan dalam babak final Women's Up to 41 kg group A para powerlifting Asian Para Games 2018 di Balai Sudirman, Jakarta, Minggu (7/10). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz/18
Oleh: Renalto Setiawan - 8 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Dari 886 atlet yang turut serta proses klasifikasi, ada 11 atlet gagal lolos, dua di antaranya adalah atlet dari Indonesia.
tirto.id - Olahraga bisa menjangkau siapa saja, tak terkecuali bagi para difabel. Di Eropa para atlet difabel sudah mulai berlomba untuk menjadi yang terbaik dalam olahraga kompetitif sekitar 100 tahun lalu. Melangkah lebih jauh, pada 1960 Roma menjadi tuan rumah Paralympic Games pertama, semacam ajang Olimpiade untuk para atlet difabel. Pada 2010 lalu, di Guangzhou, Cina, Asia pun mulai menyelenggarakan kompetisi olahraga serupa dengan tajuk Asian Para Games.

“Untuk menjadikan Asia sebagai salah satu penggerak utama Paralimpik yang memungkinkan atlet yang memiliki ‘kekurangan’ bisa berprestasi maksimal dalam olahraga dan menjadi inspirasi dunia,” begitulah visi Komite Paralimpik Asia [APC] yang mulai terbentuk pada 2006 lalu, menyoal Asian Para Games yang mereka gagas.

Setelah terhitung sukses saat diselenggarakan di China (2010) dan di Korea Selatan (2014), Indonesia menjadi tuan rumah Asian Para Games 2018. Dibuka di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Sabtu (6/10), acara multi olahraga internasional tersebut akan berakhir pada 13 Oktober 2018 nanti. Dalam acara tersebut, atlet-atlet difabel dari 39 negara akan bertanding untuk menjadi yang terbaik dalam 18 cabang olahraga yang akan dipertandingkan.

Yang menarik, saat Raja Sapta Oktohari, Ketua INAPGOC, panitia penyelenggara Asian Para Games 2018 mengatakan bahwa “para atlet difabel adalah manusia super”, ternyata tak semua atlet difabel di seluruh Asia bisa ikut serta dalam kejuaraan tersebut. Selain harus benar-benar berbakat, mereka ternyata juga harus memenuhi dua standar yang sudah ditetapkan oleh Asian Paralympic Committe (APC).

Pertama, agar bisa ikut dalam Asian Para Games para atlet harus memiliki lisensi Komite Paralimpik Internasional [IPC], otoritas tertinggi Paralimpik, yang masih aktif pada musim 2018. Selain itu, mereka harus mencapai Minimum Entry Standard (MES) dalam World Para Athletic Recognice Competition. Kedua, mereka juga harus lolos proses klasifikasi Asian Para Games 2018.

Bagaimana proses klasifikasinya?


Diwartakan oleh Tempo, INAPGOC mendatangkan 91 classifier bersertifikat internasional untuk proses klasifikasi. Sekitar 52 classifier berasal dari Asia, sementara sisanya dari Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, hingga Afrika. Tidak hanya menentukan nomor pertandingan, hasil klasifikasi tersebut juga akan menentukan jumlah atlet yang ikut serta dalam Asian Para Games 2018.

Dalam proses klasifikasi yang dilakukan pada 2-5 Oktober lalu tersebut, para atlet akan dikelompokkan berdasarkan jenis dan tingkat disabilitasnya. Kelompok itu dibagi menjadi tiga: Phsycal Impairment (PI), Visual Impairment (VI), dan Intelectual Impairment (II). Kelompok PI adalah kelompok atlet disabilitas daksa, kelompok VI adalah kelompok atlet disabilitas netra, dan Kelompok II merupakan kelompok atlet dengan disabilitas intelektual.

Di antara kelompok tiga kelompok tersebut, kelompok PI atau disabilitas daksa atau para atlet yang memiliki kelemahan fisik mempunyai sub-jenis paling banyak. Ada jenis disabilitas karena panjang kaki yang berbeda, kerja otot yang lemah, hingga athetosis. Dan tiap-tiap sub-jenis tersebut dilakukan proses klasifikasi yang berbeda.

Selain itu, tingkat disabilitas yang dialami atlet juga akan sangat berpengaruh terhadap nomor perlombaan yang akan mereka ikuti. Dalam cabang bulutangkis, misalnya. Sesuai dengan buku panduan Asian Para Games 2018, cabang bulutangkis akan memainkan dua kategori, yakni Wheelchair dan Standing. Dua kategori tersebut akan dibagi lagi ke dalam sejumlah kelas.

Kategori Wheelchair akan mempertandingkan dua kelas, yakni WH1 dan WH2. WH1 adalah kelas untuk atlet dengan gangguan berat pada tangan dan kaki serta gangguan pinggul ke bawah, sedangkan WH2 untuk gangguan yang lebih ringan daripada WH1. Sementara dalam kategori standing, akan dibagi lagi menjadi empat kelas: untuk atlet bertubuh pendek, untuk atlet dengan kekurangan di bagian tubuh atas, untuk atlet dengan gangguan keseimbangan kategori ringan, juga untuk atlet dengan gangguan keseimbangan berat.





Meski begitu, tidak semua atlet Asian Para Games 2018 wajib melakukan klasifikasi. Hal ini berdasarkan dari identitas yang dimiliki sang atlet. Dalam Asian Para Games 2018, atlet mempunyai empat identitas: yakin New (N), Review (R), Review with a fixed Review Date after 2018 (R+), dan Confirmed (C). Dari empat identitas tersebut, hanya atlet dengan identitas N dan R yang wajib melakukan klasifikasi terlebih dahulu. Sementara atlet dengan identitas R+ dan C, asal sudah memenuhi standar APC, tidak perlu ikut dalam proses klasifikasi.

Seperti dugaan Christofer Muliadi, Direktur Klasifikasi INAPGOC, proses klasifiaksi tersebut akhirnya membuat jumlah atlet yang rencananya akan berpartisipasi dalam Asian Para Games 2018 mengalami perubahan. Dilansir dari situs Asian Para Games 2018, beberapa jam sebelum proses klasifikasi berakhir pada Jumat (5/10/18) lalu, dari total 886 atlet, 11 atlet dinyatakan gagal lolos proses klasifikasi. Dan dua di antaranya berasal dari Indonesia.

Yang menarik, 3 dari 11 atlet yang mengalami kegagalan tersebut melakukan protes. Prosesnya, pihak yang melakukan protes wajib membayar 200 dolar Amerika. Jika protes itu diterima, dana pengajuan tersebut akan dikembalikan.

Selain menyebabkan perubahan peserta, proses klasifikasi tersebut juga menyebabkan banyak atlet mengalami perubahan kelas. Masih menurut situs Asian Para Games 2018, sekitar 100 orang atlet mengalami perubahan kelas. Dan setelah proses klasifikasi rampung, peserta Asian Para Games 2018 berada di kisaran 2.400 atlet, sama seperti Asian Para Games 2010 dan Asian Para Games 2010.

Setelah dibuka pada Sabtu lalu, Asian Para Games sudah mempertandingkan sejumlah kelas dan nomor dari beberapa cabang olahraga. Hingga Minggu (08/10/18), Cina berhasil memimpin perolehan medali dengan 10 medali emas, 5 medali perak, dan 3 medali perunggu. Sementara Indonesia berada di peringkat ke-6 dengan 1 medali emas, 1 medali perak, dan 1 medali perunggu. Satu-satunya medali emas Indonesia dipersembahkan oleh tim beregu putra cabang bulutangkis. Dalam pertandingan final, Indonesia berhasil mengalahkan Malaysia dengan skor 2-1.

Baca juga artikel terkait ASIAN PARA GAMES 2018 atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Suhendra
DarkLight