Menuju konten utama

Badan Geologi Petakan Wilayah Potensi Bencana di Indonesia

Pada dasarnya dari mulai Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua, memiliki potensi kebencanaan gempa bumi.

Badan Geologi Petakan Wilayah Potensi Bencana di Indonesia
Ilustrasi Anggota tim penyelamat dari Manggala Agni melihat jenazah korban gempa dan tsunami yang berhasil ditemukan di kawasan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

tirto.id - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), berupaya memetakan wilayah Indonesia yang memiliki potensi kebencanaan tinggi seperti gempa bumi.

"Pada dasarnya dari mulai Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua, memiliki potensi kebencanaan, umumnya gempa karena berada pada jalur sesar yang panjang," kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Rudy Suhendar di Jakarta, Rabu (3/10/2018).

Namun, menurutnya gempa bumi yang terjadi di Indonesia memiliki tingkatan berbeda antar wilayah, tergantung kondisi geologi masing-masing. Sehingga masyarakat diimbau untuk memantau jalur-jalur sesar apakah wilayahnya dilalui patahan-patahan secara langsung.

"Wilayah mana saja, petanya bisa dilihat di laman geologi Kementerian ESDM, kalau sudah tahu maka mitigasi bencana perlu dilakukan, misalnya tidak membangun rumah dengan bahan yang berat-berat," katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa gempa bumi belum bisa diprediksi kapan akan terjadi, di mana dan berapa besar magnitudonya.

"Hingga saat ini, yang dapat diprediksi adalah potensi maksimum magnitudo dan dampak intensitasnya," ungkap Rudy.

"Terkait gempa bumi dan tsunami yang terjadi di wilayah Palu-Donggala, kita semua berdoa agar tidak ada lagi gempa besar, namun masyarakat diimbau tetap waspada terhadap gempa susulan. Masyarakat juga diminta untuk tetap mengikuti arahan lembaga berwenang dan tidak mempercayai berita yang tidak jelas sumbernya," tambah Rudy.

Baca juga artikel terkait GEMPA BUMI

tirto.id - Sosial budaya
Sumber: antara
Penulis: Yantina Debora
Editor: Yantina Debora