Baba Vanga dan Kegemaran Manusia Meramal Kiamat

Oleh: Tony Firman - 14 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Ramalan yang diduga dari Baba Vanga, 2019 Eropa mengalami keruntuhan ekonomi, Vladimir Putin menghadapi percobaan pembunuhan dari orang terdekat, Donald Trump sakit keras, hingga tsunami 2004 yang terulang di Asia.
tirto.id - Menjelang penghujung akhir tahun 2018, nama Baba Vanga mencuat di jagad maya dan masuk daftar pencarian Google Trend pada Rabu (12/12). Kendati sudah meninggal pada Agustus 1996 silam di usianya yang ke-85, Baba Vanga yang mengalami kebutaan sejak usia belasan tahun ini terus dibicarakan, terutama soal ramalan-ramalannya seputar peristiwa di dunia yang bakal terjadi.

Dilaporkan bahwa tahun depan, beberapa peristiwa penting akan terjadi, seperti keruntuhan ekonomi Eropa dan upaya pembunuhan terhadap Presiden Rusia, Vladimir Putin. Upaya serangan pembunuhan Putin berasal dari tim keamanannya sendiri namun tidak disebut apakah Putin akan tewas atau tidak.

Donald Trump disinggung bahwa ia akan jatuh sakit setelah diserang penyakit misterius. Ia akan tuli dan menderita trauma otak. Selain itu, bencana alam berupa tsunami besar seperti tahun 2004 akan melanda Asia. Sementara Rusia akan kejatuhan meteorit.

Bukan kali ini saja perempuan bernama asli Vangelia Pandeva Dimitrova meramalkan kejadian masa depan. Serangan 9/11 di menara kembar World Trade Center (WTC) pada 2001 kerap dikaitkan dengan ramalan Baba Vanga pada 1989.


Ketika itu, ia diduga pernah berkata, "Mengerikan, Mengerikan! Saudara-saudara Amerika akan jatuh setelah diserang oleh burung-burung baja. Serigala akan melolong di semak-semak, dan darah tak berdosa akan tercurah," kata Baba Vanga.

Burung baja dikaitkan dengan pesawat yang menabrakkan diri ke gedung, dan serigala di semak-semak dikaitkan dengan Presiden George W. Bush yang berada di kantor selama kejadian berlangsung.

Beberapa peristiwa yang dikaitkan dengan kebenaran ramalan Baba Vanga lainnya adalah seperti terpilihnya Barack Obama sebagai presiden AS, gelombang besar yang dikaitkan dengan tsunami 2004, kemunculan kelompok Islam di Suriah yang dikaitkan dengan kebangkitan ISIS, akhir Eropa pada 2016 yang dikaitkan dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit, dan lainnya.

Sulit Diverifikasi

Baba Vanga lahir pada 31 Januari 1911 di Strumica yang kini masuk bagian Republik Makedonia. Menurut cerita turun temurun, Vanga menjalani kehidupan biasa sampai usia 12 tahun. Setelah itu, ia kehilangan kemampuan penglihatannya saat badai pasir menghantam tubuhnya. Sosoknya kemudian dikenal luas sebagai peramal di kampung halamannya dan di kawasan Balkan. Hampir setiap tahun, ramalan Baba Vanga terus muncul dengan menyajikan prediksi peristiwa besar yang bakal terjadi di dunia.

Masalahnya, prediksi tersebut sulit diverifikasi terkait apakah benar Baba Vanga pernah menubuatkan hal tersebut semasa ia hidup. Terlebih, Baba Vanga tidak pernah membikin catatan tertulis soal ramalannya.

Sulit mencari bukti-bukti rujukan teks yang memuat ramalan Baba Vanga bahkan ketika ia masih hidup sekalipun.

Judith Joyce dalam bukunya berjudul The Weiser Field Guide to the Paranormal: Abductions, Apparitions, ESP, Synchronicity, and More Unexplained Phenomena from Other Realms (2011) menjelaskan bagaimana Baba Vanga meramal. Vanga tidak pernah menulis buku. Kemampuan dan nubuatnya banyak ditulis oleh orang lain yang pernah mendatanginya. Ia mengklaim mendapat informasi masa depan dari wujud yang tak kasat mata dan mengatakan soal peristiwa masa depan.


Jika seseorang berdiri di depannya, Vanga dapat melihat kehidupan pribadinya dari awal sampai akhir. Pengunjung yang datang kepadanya kerap dimintai gula batu yang ia gunakan sebagai kristal untuk memfokuskan energi dan menerima informasi.

Selama Perang Dunia Kedua, banyak orang berbondong-bondong mendatangi Vanga untuk menanyakan perihal keberadaan mayat yang tewas bertempur. Raja Boris III dari Bulgaria pernah mendatangi Vanga untuk berkonsultasi pada 8 April 1942. Rumornya, pemimpin Soviet, Leonid Brezhnev pernah pula mendatangi Vanga untuk berkonsultasi.

Dilansir dari The Washington Post, Baba Vanga semakin populer saat ramalannya mengenai tenggelamnya kapal Rusia terbukti. Pada tahun 2000, kapal selam nuklir Rusia bernama Kursk tenggelam dan menewaskan semua awak di dalamnya. Ramalan Vanga soal Rusia dan Putin yang bakal mendominasi dunia saat diwawancarai penulis Valentin Sidorov pada 1979 juga membikin sejumlah nasionalis Rusia sumringah.

Sejak itu, para penggemar Baba Vanga di Rusia makin antusias mencari-cari omongan terkait ramalan dan mencocokkan dengan beberapa peristiwa.

Namun tidak semua ramalan yang diduga berasal dari omongan Vanga terbukti terjadi. Pada 2018 misalnya, nubuat tentang penemuan ilmiah besar-besaran berupa energi baru di planet Venus tidak terbukti. Ada pula kabar bahwa ramalan soal Venus itu untuk tahun 2028 mendatang dan makin menambah kebingungan.


Menurut Elana Glowatz yang menulis untuk International Business Times (IBT), fenomena mempercayai atau mencari bukti kebenaran ramalan ini mirip dengan apa yang disebut sebagai Efek Forer atau Efek Barnum: fenomena psikologis ketika seseorang menganggap akurat informasi tentang diri mereka sendiri.

Seorang yang terkena efek Barnum percaya bahwa informasi itu khusus untuk diri sendiri, padahal itu adalah hal umum dan sangat mungkin cocok bagi orang lain. Akibatnya, orang tersebut mempercayai ramalan horoskop, paranormal dan sejenis yang dianggap akurat. Dengan efek ini pula, orang cenderung mengingat prediksi atau ramalan yang dirasa dapat ditasfirkan sebagai kebenaran di peristiwa masa kini.

Ramalan Vanga pun banyak yang tak terbukti. Misalkan ketika ada ramalan Barack Obama akan menjadi presiden Amerika Serikat yang terakhir, adanya Perang Dunia Ketiga pada 2010, atau muslim akan menginvasi Eropa dan mengosongkan benua pada 2016.

Ramalan Kiamat

Soal kiamat, Baba Vanga diduga bilang hari akhir akan terjadi pada 2341. Di masa itu, akan ada serangkaian bencana alam maupun ulah manusia yang membikin planet bumi tidak dapat lagi dihuni. Tetapi ada pula yang menuliskan bahwa ramalan Baba Vanga tentang kiamat akan terjadi pada tahun 5079.

Di sisi lain, ramalan soal hari akhir memang selalu menarik perhatian. Ada seabrek orang yang mengeluarkan prediksi kapan semua kehidupan akan berakhir.

Infografik Klaim Kiamat
Infografik Klaim Kiamat


Michel de Nostredame, peramal terkenal abad ke-16 asal Prancis menyebut Agustus 1999 ada raja teror dari langit. Nubuat itu kerap diinterpretasikan sebagai kiamat namun tidak terbukti. Lalu ada pula heboh tentang kalender suku Maya berakhir pada 21 Desember 2012 diinterpretasikan oleh sebagian orang sebagai kiamat.

Ronald Weinland, Kristen evangelis meramalkan kiamat 9 Juni 2019 atau 2020. Bediuzzaman Said Nursi, ulama Islam Turki keturunan Kurdi dikabarkan memprediksi kiamat 2129. Vilna Gaon, Rabi Yahudi memprediksi dunia berakhir tahun 2239, dan masih banyak lagi.


Para ilmuwan luar angkasa punya prediksi sendiri mengenai hari kiamat. Kehancuran bumi akan terjadi, salah satunya, ketika matahari sebagai pusat tata surya makin menua dan kehabisan bahan bakarnya sendiri. Di fase ini matahari akan membengkak secara maksimal yang kemudian disebut raksasa merah. Setelah itu planet bumi mungkin akan terhisap ke matahari. Namun kejadian itu masih akan terjadi dalam waktu yang panjang, sekitar 5 hingga 7,76 miliar tahun mendatang.

Dalam perhitungan para ilmuwan, ada banyak cara lain yang bisa membuat planet bumi musnah. Mulai dari menabrak planet lain, tertelan oleh lubang hitam, atau dihujani asteroid.

Baca juga artikel terkait KRISIS EKONOMI GLOBAL atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Tony Firman
Editor: Nuran Wibisono