Advertorial

#AVOSustainableLiving Langkah Kecil Kelola Limbah Produk Kecantikan

Penulis: Advertorial, tirto.id - 21 Sep 2022 19:40 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Kecantikan berkelanjutan tak hanya tentang cara suatu produk dibuat dan dikemas, tetapi juga bagaimana perusahaan mengelola limbahnya.
tirto.id - Industri kecantikan dan perawatan kulit tengah berkembang pesat. BPOM mencatat jumlah industri kosmetik naik sebesar 20,6 persen dari 819 pada 2021 menjadi 913 industri hingga Juli 2022. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), kosmetik yang termasuk dalam sektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional, juga menunjukkan pertumbuhan 9,61 persen tahun lalu.

Masing-masing jenama berlomba mengeluarkan produk baru dalam rangka menggaet pasar yang lebih luas sekaligus memenuhi kebutuhan (dan keinginan) konsumennya. Akibatnya jumlah sampah kemasan meningkat, termasuk sampah non-recyclable, karena sebagian besar kemasan produk terbuat dari plastik. Pencemaran air oleh limbah industri pun tak terhindarkan. Pertanyaannya, apakah kecantikan memang harus mengorbankan lingkungan—dan kehidupan?

Kesadaran akan hal ini kemudian memunculkan tren sustainable beauty, atau kecantikan yang berkelanjutan. Baik jenama maupun penggunanya beralih ke produk-produk yang aman untuk manusia maupun lingkungan. Apalagi pandemi membuat orang-orang lebih peduli dengan isu kesehatan dan berkelanjutan.

Kecantikan yang Berkelanjutan

Menariknya, untuk memilih satu atau beberapa dari sekian banyak produk kecantikan yang mengklaim telah menerapkan prinsip kecantikan berkelanjutan, konsumen terbiasa melakukan riset sederhana terlebih dulu. Beruntung teknologi memudahkan segalanya, termasuk dalam mengakses beragam informasi.

Perusahaan riset konsumen dan analitik Milieu Insight dalam survei (2022) yang melibatkan 1000 konsumen produk kecantikan di Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, dan Thailand, menemukan bahwa 67 persen responden tak begitu saja percaya dengan label yang tercantum di kemasan produk kecantikan—misal klaim berkelanjutan, bebas dari bahan kimia, dan etis. Mereka bakal mencari tahu lebih jauh tentang klaim tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh mayoritas konsumen Indonesia sebelum memutuskan membeli suatu produk.

Lebih lanjut, 91 persen konsumen Indonesia lebih senang memilih produk dengan kemasan yang bisa didaur ulang 100 persen. Bahkan banyak orang rela membayar lebih demi produk kecantikan yang berkelanjutan—walau keterjangkauan harga tetap yang utama. Artinya, orang Indonesia pun mulai menyadari manfaat penggunaan produk-produk ramah lingkungan.

Dalam industri kecantikan, prinsip berkelanjutan idealnya diberlakukan produsen mulai dari pengadaan bahan dasar, proses produksi, pengemasan, pengiriman, sampai dengan pengelolaan limbah. Mayoritas masyarakat Asia Tenggara setuju dengan adanya regulasi klaim produk berkelanjutan bersamaan dengan bukti dan juga setuju bahwa perusahaan produk kecantikan harus transparan dalam mengomunikasikan berkelanjutan produknya.

Merawat Wajah, Menjaga Bumi

Kecantikan yang berkelanjutan tak hanya tentang cara suatu produk dibuat dan dikemas, tetapi juga bagaimana perusahaan (termasuk orang-orang yang berkontribusi di dalamnya) mengelola sampah atau limbahnya. Prinsip inilah yang dipegang oleh PT AVO Innovation Technology (selanjutnya disebut AVO), perusahaan asli Indonesia yang bergerak di industri kecantikan.

Demi turut menjaga Bumi dan meminimalkan kerusakan lingkungan, AVO bekerja sama dengan Rekosistem dalam mengelola limbah kosmetik internal menggunakan Rebox, untuk diolah dan didaur ulang dengan cara yang tepat dan transparan. Program ini dinamai #AVOSustainableLiving.

“Program #AVOSustainableLiving merupakan sebuah gerakan untuk mendorong gaya hidup ramah lingkungan. Kerja sama dengan Rekosistem dalam mengelola limbah kosmetik di lingkup karyawan AVO menjadi suatu langkah yang besar dalam mewujudkan program tersebut,” kata Anugrah Pakerti, Founder dan CEO AVO Innovation Technology.

Rebox sendiri merupakan Internet of Things (IoT) drop box, atau tempat sampah pintar yang dilengkapi teknologi machine learning untuk mengumpulkan sampah anorganik. Rebox yang ditempatkan di kantor AVO bahkan dapat mendeteksi produk-produk seperti Avoskin, Looke Cosmetics, Lacoco En Nature, Oasea Laboratories, dan Glow Better.

Limbah kosmetik yang dikumpulkan oleh All Stars—sebutan untuk karyawan AVO—di kantor AVO Yogyakarta melalui Rebox terintegrasi dengan aplikasi Rekosistem. “Teknologi machine learning milik Rebox ini dapat memberikan data dari hasil pengumpulan limbah kosmetik serta papan peringkat untuk penyetor limbah kosmetik terbanyak,” kata Joshua Valentino, Co-Founder dan COO Rekosistem.

Penghitungan reward point bagi tiap kemasan yang dikumpulkan gunanya untuk memberikan sustainability incentive jika All Stars berhasil mengumpulkan minimal tujuh kemasan kosong tiap bulannya, baik dari AVO maupun kemasan kosong dari jenama lain.

Selanjutnya, limbah kosmetik akan dikirim ke Rekosistem Waste Hub yang tersebar di wilayah Jabodetabek oleh Anteraja. Rekosistem kemudian mengelompokkan limbah sesuai jenisnya sebelum didistribusikan untuk proses daur ulang.

“Kami harap AVO dan Rekosistem dapat memperluas cakupan kerja sama ke depannya,” tutup Anugrah Pakerti.

Dalam jangka panjang, harapannya langkah kecil ini bisa menjadikan gaya hidup berkelanjutan dan ramah lingkungan sebagai pilihan sehari-hari para karyawan di mana pun mereka berada, sehingga aksi baik ini bisa disebarluaskan dan ikut menggerakkan hati banyak orang.

Pengelolaan limbah memang tak hanya menjadi “tanggung jawab” produsen kosmetik, tetapi juga konsumennya—yaitu kita semua. Sebagai pengguna setia produk kecantikan, kita bisa menerapkan kecantikan berkelanjutan tak hanya dengan memakai produk-produk ramah lingkungan, tetapi juga bijak menghabiskan produk sebelum berburu yang baru, mengolah atau memanfaatkan kembali limbahnya, atau mendistribusikan sampah ke tangan yang tepat. Seperti wajah, Bumi juga perlu dirawat. []
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Advertorial
Editor: Advertorial

DarkLight