Autopsi Mahasiswa Diklat Menwa UNS: Diduga Tewas akibat Kekerasan

Oleh: Adi Briantika - 27 Oktober 2021
Dibaca Normal 1 menit
Kepolisian menyebut hasil autopsi sementara menunjukkan mahasiswa UNS tewas akibat penyumbatan di bagian otak.
tirto.id - Kepolisian menduga mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Gilang Endi Saputra tewas akibat tindak kekerasan saat Diklatsar Resimen Mahasiswa (Menwa).

Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol M Iqbal Alqudusy mengatakan hasil autopsi sementara menunjukkan korban tewas akibat penyumbatan di bagian otak.

"Korban terkena beberapa pukulan di bagian kepala," kata Iqbal, Selasa (26/10/2021).

Kepolisian masih menunggu hasil resmi autopsi terhadap jenazah korban untuk memastikan penyebab kematiannya. Proses autopsi dilakukan pada Senin (25/10/2021) pukul 12.45-14.15 WIB.

“Kami masih menunggu hasil autopsi dari Tim Kedokteran Forensik RS Moewardi,” ujar Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak ketika dihubungi reporter Tirto, Rabu (27/10/2021).

Keluarga korban memutuskan lapor ke kepolisian pada 25 Oktober setelah melihat ada lebam dan darah di jenazah Gilang. Diklat Menwa UNS diikuti 12 peserta yang berlangsung sembilan hari sejak 23 hingga 31 Oktober 2021.

Sementara UNS menyatakan tidak ada lebam pada tubuh korban. Wakil Rektor UNS Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UNS Ahmad Yunus mengaku sempat melihat jenazah.

"Saat jenazah belum diautopsi, saya lihat mata ditutup seperti deplokan daun lembut seperti jamu. Saya tidak bisa melihat memar atau tidak. Sekilas secara fisik saya tidak bisa melihat darah karena dari (pihak) rumah sakit sudah dibersihkan. Mulai dada sampai perut tidak ada tanda-tanda merah atau hitam," kata dia.

Berdasarkan kronologis yang disampaikan UNS dari panitia acara, kegiatan dimulai pada 23 Oktober pada pukul 06.00 dan sampai pukul 23.00 WIB di sekitar kampus. Penyambutan para peserta dilakukan di Markas Menwa UNS. Selanjutnya, kegiatan di gedung olahraga, di musala Fakultas Teknik kemudian jembatan danau.

Pada hari yang sama Gilang mengatakan bahwa kakinya kram sehingga harus ada pendamping. Bakda subuh, peserta mulai senam senjata, apel pagi, kemudian melakukan kegiatan di luar kampus, tepatnya di Jembatan Jurug. Gilang pun mengikuti rangkaian kegiatan itu dan kembali ke kampus.

Di kampus, pemuda 21 tahun itu mulai mengeluhkan sakit punggung dan mendapatkan perawatan dengan alat kompres. Lantas ia mengigau dan mulai tak sadarkan diri. Pukul 21.00 WIB, panitia membawa Gilang ke rumah sakit. Pukul 22.05 di dalam mobil yang mengangkutnya, Gilang tak bernapas lagi. Tiba di rumah sakit, dia dinyatakan meninggal dunia.


Baca juga artikel terkait MENWA UNS SOLO atau tulisan menarik lainnya Adi Briantika
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight