Bill Russell

Atlet Hebat di NBA dalam Pusaran Diskriminasi Rasial

Penulis: Felix Nathaniel , tirto.id - 15 Agu 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Bill Russell adalah atlet NBA hebat. Meski begitu dia tak luput dari diskriminasi rasial.
tirto.id - Rasisme berurat berakar di Amerika Serikat di semua aspek kehidupan. Di dunia bola basket, contohnya tampak jelas dalam hidup Bill Russell, atlet kulit hitam yang selama 13 tahun berkarier di Boston Celtics memberikan 11 kali juara.

Russell benar-benar merangkak dari bawah. Kemampuannya baru mulai berkembang di bawah asuhan pelatih SMA McClymonds, George Powles. Powles-lah yang percaya bahwa Russell bisa menjadi pemain tengah (center) yang agresif.

Ketika masuk Universitas San Francisco (USF), Russell berhasil membawa kampus tersebut juara liga universitas (NCAA) dua tahun berturut-turut, 1955 dan 1956.

Meski berperan penting dalam kemenangan, Russell tidak menjadi Most Valuable Player (MVP). Sebabnya adalah bahwa sistem pemungutan suara oleh para jurnalis yang kebanyakan orang kulit putih. Mereka tak mau mengakui bahwa seseorang yang kulitnya berbeda lebih unggul.

Orang tua Russell sebenarnya sudah sering mengingatkan bahwa dunia di luar sana begitu kejam. Dalam buku The Last Pass: Cousy, Russell, the Celtics, and What Matters in the End (2018), Gary Pomerantz mengatakan ada dua pelajaran yang kemudian dipegang teguh oleh Russell.

Pertama, orang kulit hitam harus memahami orang kulit putih, bukan sebaliknya. Kedua, orang kulit hitam harus selalu berhati-hati karena “tidak pernah tahu apa yang akan orang kulit putih lakukan.”

Warna kulit juga membuat keinginan Russell untuk berkarier di NBA terhalang. Berdasar catatan Russell dan William Mcsweeny di Go Up for Glory (2020), Abe Saperstein, pemilik Harlem Globetrotters yang ingin mengajak Russell bergabung, memperingatkan tim di NBA bahwa mereka akan melakukan boikot jika ada yang merekrut orang kulit hitam sebagai pemain. Harlem Globetrotters adalah tim basket ekshibisi yang memasukkan unsur sirkus dan komedi di lapangan.


Cita-cita Russell masuk NBA tercapai karena pelatih Boston Celtics, Red Auerbach, tidak peduli warna kulit seseorang. Ia hanya melihat kemampuan dan sadar bahwa Russell adalah tipikal pemain yang dibutuhkan. Auerbach merekrut Russell.

Sebelumnya, pada 1950, Auerbach merekrut Chuck Cooper. Hal ini membuat Cooper tercatat dalam sejarah sebagai orang kulit hitam pertama di NBA.

Tentu saja ada penolakan. Eddie Gottlieb, pemilik Philadelphia Warriors, misalnya, merasa pendukung kulit putih mereka tidak bakal lagi mau menonton pertandingan jika ada orang kulit hitam di lapangan. Gottlieb bahkan membuat saran konyol agar orang kulit hitam hanya boleh menjaga orang kulit hitam.

Tapi Auerbach tidak peduli dengan itu semua. Sebuah sikap yang berbuah manis.

Auerbach terus mempertahankan sikap anti-rasismenya ketika naik pangkat menjadi petinggi klub. Ia menyerahkan kursi pelatih kepada Russell pada 1966. Russell, dengan demikian, menjadi orang kulit hitam pertama yang menjadi pelatih NBA.

Sebagai pelatih, Russell berhasil membawa kemenangan beruntun pada Celtics pada 1968 dan 1969. Ini adalah parade kemenangan terakhir Celtics sebelum memasuki era Larry Bird.

Ironisnya, meski telah berkontribusi besar bagi Boston, tak semua warga menerima Russel sebagai bagian dari mereka.

Selama 1950-1960 gerakan perlawanan orang kulit hitam yang dikomandoi Martin Luther King Jr. sedang ramai-ramainya. Russell turut serta bersuara. Dia ikut dalam demonstrasi tahun 1963 di Washington dan berada di barisan depan mendengarkan pidato legendaris “I Have a Dream”.

Dalam salah satu kesempatan Russell bahkan berterus terang tidak suka kepada orang kulit putih karena perlakuan-perlakuan buruk mereka.

Ganjarannya dari sikap tersebut ternyata mahal. Rumah Russell dan keluarga sering mendapat teror seperti dimasuki dan dirusak. Pernah dia melapor ke polisi karena tempat sampah di depan rumahnya diacak-acak, tapi polisi hanya tertawa dan mengatakan itu ulah rakun. Russell yang tak puas mengajukan izin memiliki senjata dengan tujuan menembak rakun tersebut. Setelah itu aksi vandalisme berhenti.

“Itulah ketika aku tahu seberapa pintar rakun. Aku bahkan belum dapat senjata, tapi rakun-rakun itu sudah mendengar aku mendapat izin dan mereka tidak pernah lagi merusak tempat sampahku,” kesan Russell dalam Red and Me: My Coach, My Lifelong Friend (2009).

Kejadian serupa lazim dialami Russell setiap Celtics bertandang ke kandang lawan.

Muak dengan semua perlakuan itu, Russell memutuskan membelanjakan 100 ribu dolar AS untuk membeli ratusan hektare tanah di Liberia. Ketika rasisme masih marak kala itu, dia berharap dapat menghabiskan masa tua di sana.

Russell juga menjaga privasi dengan tidak mau memberikan tanda tangan kepada orang-orang. Namun itu justru dicatat oleh FBI bahwa Russell adalah “negro sombong yang tak mau memberikan tanda tangannya kepada bocah kulit putih.”


Infografik Bill Rusell
Infografik Bill Rusell. tirto.id/Ecun


Atas semua ini tidak mengherankan jika Russel pada Boston--meski ia tetap bersyukur dan menaruh hormat pada Celtics karena telah membesarkan namanya. Russell mendeskripsikan kota tempat timnya berada sebagai “kota paling rasis di Amerika Serikat.”

Karen Russell, putri Russell, dalam sebuah esai berjudul “Growing Up With Privilege and Prejudice” menyebut ayahnya membuat jurang pemisah yang jelas antara tim dan kota tempat dia bermain.

“Aku bermain untuk Celtics, sudah,” kata Russell menurut Karen. “Aku tidak bermain untuk Boston. Aku berhasil memisahkan Celtics dari kota dan para fansnya dan ketika aku mengirimmu sekolah di Harvard, aku berharap kau melakukan hal yang sama.”

Pada 2009 lalu, NBA menjadikan “Bill Russell” sebagai nama penghargaan finals MVP. Kemudian, pada 2013, Boston membuat “penebusan dosa” dengan mendirikan patung Russell di City Hall Boston. Dan untuk sumbangsihnya pada perjuangan kesetaraan ras, pada 2011 lalu Presiden Barack Obama menganugerahinya Presidential Medal of Freedom.

Bill Russell, tokoh penting yang mengantarkan Celtics mencapai masa kejayaan, meninggal dunia pada 31 Juli lalu di umur 88 tahun. Di ujung hidupnya, setidaknya Russel tak harus mengungsi ke daerah lain. Dia mengembuskan napas terakhir di Mercer Island, Washington.

Russell dihormati berbagai orang tanpa lagi dilihat rasnya. Diskriminasi yang dulu dia rasakan juga tak nampak lagi di NBA sekarang.

Baca juga artikel terkait RASISME atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Rio Apinino

DarkLight