Atlet Berprestasi Selain Zohri, Tunggu Viral untuk Diapresiasi

Oleh: Felix Nathaniel - 20 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Lalu Zohri beruntung karena kisah suksesnya di kejuaraan atletik dunia kelas junior jadi viral di media sosial. Namun, tak semua atlet nasibnya bisa langsung seperti Zohri.
tirto.id - Fauzan Noor perlu waktu untuk bersabar. Ia tak langsung mendapat apresiasi dan sambutan hangat masyarakat Indonesia selepas meraih juara pada ajang karate tradisional tingkat dunia atau WASO World Championship, Desember 2017 di Praha Ceko. Fauzan harus menunggu untuk bisa mengambil peluang menjadi abdi negara yang berkiprah di lembaga militer atau kepolisian.

Pemuda 21 tahun asal Banjarmasin ini menjadi terkenal setelah masyarakat Indonesia dikagetkan dengan kabar kemenangan Lalu Muhammad Zohri di ajang atletik internasional. Meski sama-sama berprestasi, perlakuan yang diterima Fauzan berbeda jauh dengan Zohri.

Kepada Tirto, Fauzan menceritakan ia sempat mendaftar jadi Satpol PP, tapi belum mendapat informasi lebih lanjut apakah diterima atau tidak. Ia mencoba peruntungan dengan mendaftar menjadi anggota Polri dan TNI. Sayang, Fauzan terkendala tinggi badan sehingga harus mengubur impiannya dalam-dalam.

"Untuk lamaran [Satpol PP] itu, sampai sekarang enggak ada panggilan. Sempat kemarin, saya [melamar] jadi polisi [tapi] gagal. TNI saya enggak mendaftar karena badan kecil," ucap Fauzan, Kamis (19/7/2018).

Fauzan menuturkan, awalnya tak banyak pihak yang memberinya apresiasi atas keberhasilan menjadi juara. Saat itu, Wali Kota Banjarmasin pun tak memberinya ucapan selamat meski menurutnya sang wali kota tahu keberhasilannya lantaran Dinas Olahraga Banjarmasin saat itu sempat memberikan ucapan selamat.


Lebih kurang enam bulan, Fauzan hanya mendapat ucapan selamat tanpa mendapat bantuan keuangan. Bantuan baru didapatkannya selepas Lalu Muhammad Zohri viral di dunia maya. Ia mendapat uang dari sejumlah pihak.

"Dari situ saya akhir-akhir ini ada bantuan dari Wali Kota, dari Kapolda Kalimantan Selatan, dari Danrem juga perhatian kepada saya. Dari Pertamina juga ada," ucapnya.

Namun, ia belum mendapat apresiasi dari Kementerian Pemuda dan Olahraga. "Alhamdulillah, belum."

Bikin Kaget TNI


Keinginan Fauzan menjadi anggota TNI akhirnya didengar Danrem 101/Antasari Kolonel Yudhianto Putra Jaya. Putra pun mengaku kaget mendengarnya. Ia menuturkan tak pernah mendengar kabar kemenangan Fauzan sebelum kabar kemenangan Lalu Muhammad Zohri viral. Lebih ironis, perlakukan yang diterima Fauzan tak jauh lebih baik daripada Zohri.

"Kok ada orang berprestasi saya tidak tahu," katanya kepada Tirto, Kamis sore (19/7/2018).


Ia kemudian meminta bawahannya mengatur pertemuan pada Selasa, 17 Juli 2018. "Saya panggil ke rumah dan ngobrol. Dia [ternyata] pernah menjadi juara dunia, pernah melamar sebagai Satpol PP," kata Putra.

Putra mengatakan bisa jadi Fauzan tidak dikenal sebagai atlet berprestasi karena olahraga karate tradisional tidak masuk dalam pantauan Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia. Meski begitu, ia tak bisa memberikan dan menjanjikan apa pun kepada Fauzan yang berniat menjadi tentara.

"[Karena] tetap ada tahapan-tahapan yang harus kita ikuti agar tak terjadi kecemburuan," kata Putra.

Ia juga mengaku sudah melaporkan keinginan Fauzan ini kepada Pangdam VI/Mulawarman. Namun, Fauzan tetap tak bisa jadi anggota TNI lantaran jalur penerimaan TNI tahun 2018 lewat prestasi telah tertutup. Peluang yang paling mungkin adalah tahun depan.

"Tidak mungkin kami langsung terima begitu saja, karena kan ada tahapan yang sama dengan warga lainnya," ucap Putra.

Dihubungi terpisah, Kapuspen TNI Mayjen Sabrar Fadhillah memberi keterangan berkebalikan dari Putra. Sabrar menjelaskan jalur prestasi selalu terbuka bagi siapa pun yang mempunyai catatan kemenangan di bidang nasional dan internasional. Bila Fauzan mau menjadi anggota TNI tentu tidak masalah.

Soal tinggi badan Fauzan yang dirasa tidak mencukupi, Sabrar merasa hal itu bisa dibicarakan lebih lanjut. "Mudah-mudahan kalau prestasi internasional tinggi badan sudah enggak masalah. Saya kira bisa jadi ada pengecualian untuk prestasi yang luar biasa. Kenapa tidak?" kata Sabrar kepada Tirto.


Sementara Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengaku belum mengetahui tentang nasib Fauzan yang tidak diterima menjadi anggota Polri dengan statusnya sebagai juara dunia. Setyo menegaskan bahwa calon tetap akan dilakukan tes kesehatan.

"Memang harusnya ada prioritas. Nanti saya akan cek dulu," kata Setyo kepada Tirto.

"Jalur khusus tetap harus dicek juga tentang kesehatan dan segala macam agar standar rata-rata itu terpenuhi."

Tanggapan Kemenpora


Sekretaris Jenderal Kemenpora Gatot S. Dewa Broto menampik anggapan bahwa apresiasi kepada atlet berprestasi hanya diberikan setelah viral di dunia maya. Menurut Gatot, apresiasi selalu bagi siapa saja yang berhasil mengukir prestasi.

Ia mengaku fokus apresiasi memang pada atlet-atlet yang berlaga di cabang olahraga prestasi, yaitu olahraga yang menurut UU 3/2005 dikelola secara profesional, terencana, berjenjang dan berkelanjutan melalui kompetisi untuk mencapai prestasi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan. Masalahnya Fauzan tak termasuk kriteria itu.

"Fauzan itu olahraga rekreasi. Beda," kata Gatot kepada Tirto.

Gatot mengaku tak tahu soal prestasi yang didapatkan Fauzan. Ia balik bertanya apakah Fauzah melaporkan kepergiannya ke luar negeri kepada Kemenpora atau tidak. "Kalau pergi tanpa memberitahu kepada kami, gimana kami bisa tahu?"

Untuk mencegah hal serupa, Gatot berjanji untuk melakukan langkah antisipatif dengan mengimbau kembali kepada federasi olahraga betapa pentingnya pemberitahuan, meski, katanya, "tidak ada jaminan kami akan membiayai."

"Ini untuk menghindarkan suatu kondisi manakala semakin banyak atlet olahraga rekreasi ke luar negeri tanpa pemberitahuan pemerintah, namun ketika memperoleh prestasi langsung menuntut penghargaan."


Gatot boleh-boleh saya berkilah. Namun, faktanya atlet merasakan kalau pemerintah memang minim apresiasi.

Fachri Firmansyah, mantan anggota tim nasional sepak bola U-21, mengakuinya. Ia mengatakan pemerintah memang cenderung abai sebelum suatu kasus ramai diberitakan media atau jadi perbincangan banyak orang. Fachri adalah salah satu korban buruknya manajemen olahraga Indonesia. Ia menceritakan pengalaman buruknya pada 2003 silam.

"Pernah kejadian waktu kami main di Turkmenistan. Kami transit di Thailand jam 12 atau jam satu pagi. Pesawat ke Indonesia sekitar jam delapan pagi. Selama itu kami tidur di bandara, bukan di penginapan. Padahal pemain lelah," ujarnya.

Fachri berharap pemerintah lebih serius memperhatikan para atlet. Klise memang, tapi tetap relevan sepanjang kasus serupa terus berulang.

"Kami sudah berkorban membela negara semaksimal kami. Itu harus diperhatikan. Jangan hanya satu cabang saja. Ini tugas pemerintah."


Infografik Tunggal Hadiah Zohri

Baca juga artikel terkait ATLET BERPRESTASI atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Mufti Sholih
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live