Menuju konten utama

Asteroid Emas Tidak Akan Bikin Seluruh Penduduk Bumi Kaya Raya

Sebuah asteroid raksasa bernama 16 Psyche diyakini menyimpan mineral logam mulia.

Asteroid Emas Tidak Akan Bikin Seluruh Penduduk Bumi Kaya Raya
Ilustrasi Asteroid Emas 16 Pysche. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Beberapa pekan terakhir, Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) sedang serius mempersiapkan proyek misi perjalanan luar angkasa ke sebuah asteroid raksasa berdiameter 223 kilometer. Asteroid yang mengorbit di matahari itu terletak di kumpulan sabuk asteroid antara planet Mars dan Jupiter.

NASA tertarik mengunjungi asteroid bernama 16 Pysche itu karena tersusun atas besi, nikel, dan logam lainnya. Ini berbeda dengan asteroid pada umumnya yang tersusun atas mineral silikat (tipe-S) atau senyawa berkarbon (tipe-C). Kesimpulan itu diambil setelah pengamatan melalui teleskop.

Komposisi yang sedikit tak lazim telah membuat para ilmuwan luar angkasa menduga bahwa 16 Psyche adalah sebuah planet yang belum matang dan hanya menyisakan intinya saja (core planet) ketika kehilangan lapisan terluar setelah bertabrakan dengan benda angkasa lainnya miliaran tahun lalu.

Dugaan inilah yang membuat ilmuwan NASA sangat tertarik untuk meneliti lebih jauh. Dengan mempelajarinya dari dekat, mereka berharap bisa mengungkap fase awal terbentuknya tata surya sekaligus mengetahui isi dalam inti bumi itu sendiri.

"Kita tidak bisa mengunjungi inti bumi karena tekanan dan suhu yang terlalu tinggi," kata Jim Bell ilmuwan planet dari Arizona State University sekaligus wakil peneliti utama misi Psyche NASA sebagaimana diberitakan oleh NBC News. "Hal yang sama berlaku untuk inti Mars, bulan, dan planet-planet lainnya. Tapi kami beruntung. Kami pikir ada inti di luar sana, di sabuk asteroid yang terbuka untuk kita lihat. ” ujar Bell menjelaskan.

Dipimpin oleh Arizona State University, NASA telah mempersiapkan pesawat luar angkasa Psyche bertenaga surya untuk diberangkatkan ke asteroid 16 Pysche yang berjarak 750 juta kilometer dari bumi pada Agustus 2022 mendatang. Pesawat dijadwalkan tiba di tujuan pada 31 Januari 2026. Selama 21 bulan, pesawat akan memetakan permukaan dan komposisi kimia, mengukur kekuatan medan magnet, serta mengambil citra asteroid dengan kamera beresolusi tinggi.

Saat ini perangkat pesawat luar angkasa dan penunjang lainnya dalam tahap pengujian ketat sebelum dikirim ke Kennedy Space Center di Florida, Amerika Serikat, untuk diluncurkan.

Asteroid 16 Pysche sebenarnya telah lama ditemukan. Keberadaannya pertama kali dideteksi oleh astronom Italia Annibale de Gasparis pada 1852. Nama Psyche sendiri diambil dari mitologi Yunani.

Di sisi lain, asteroid raksasa yang kaya akan unsur logam ini juga jadi bahan perbincangan hangat di kalangan bisnis tambang. Pasalnya, 16 Psyche diyakini menyimpan logam mahal seperti emas dan platinum.

Nilainya diyakini bisa menyentuh angka 700 dolar quintillion. Jika satu triliun terdiri dari 12 nol, dan satu dwiyar (quadrillion) terdiri dari 15 nol, maka dalam satu quintillion berjejer 18 nol. Seandainya uang sebanyak itu dibagikan seluruhnya ke penduduk bumi yang berjumlah 7,6 miliar orang, maka per kepala bakal mendapat uang sekitar 93 miliar dolar.

Presiden Royal Astonomical Society John Zarnecki berpendapat penambangan komersil di asteroid 16 Psyche bisa dilakukan dalam puluhan tahun ke depan.

"Pendapat saya, mungkin butuh 25 tahun untuk menghasilkan 'bukti konsep', dan 50 tahun untuk mengawali pertambangan komersial. Tetapi ada begitu banyak ketidakpastian. Tergantung perekonomian dan kemajuan teknologi ruang angkasa," papar Zarnecki.

Menghancurkan Nilai Komoditas

Ada yang pesimistis bahwa 16 Pysche bisa mendatangkan kekayaan melimpah bagi penduduk bumi. Malahan, jika seluruh kekayaan emas dari asteroid tersebut diboyong ke bumi, nilai komoditas logam mulia akan hancur dan ekonomi bisa runtuh. Mengapa demikian?

Noah Smith, asisten profesor keuangan dari Stony Brook University dalam opininya untuk Bloomberg menyatakan bahwa membanjirnya emas di pasaran justru akan merusak harga logam mulia yang selama ini dijual mahal karena eksklusif dan tak melimpah. Ditambah lagi, pasokan emas melimpah belum tentu berbanding lurus dengan tingginya permintaan.

Anjloknya nilai emas karena surplus pasokan pernah terjadi saat Spanyol menaklukkan Amerika Selatan dan Tengah pada abad ke-16 dan menemukan cadangan emas dan perak dalam jumlah besar. Emas langsung dikirim ke Eropa untuk menopang anggaran belanja perang (sebagian besar untuk perang).

Karena emas dan perak juga dipakai sebagai alat pembayaran, limpahan emas perak asal Amerika latin ini malah menyebabkan penurunan nilai mata uang. Walhasil, tingkat inflasi naik, persis ketika negara mencetak dan mengedarkan terlalu banyak uang untuk menopang perekonomian (dan perang) sebagaimana yang terjadi pada Jerman pada Perang Dunia I.

Alasan lain yang lebih mendasar mengapa asteroid emas raksasa mustahil membuat penduduk bumi kaya raya adalah fakta bahwa sebagian besar kekayaan tidak berasal dari logam mulia, tetapi dari kemampuan manusia untuk menciptakan hal-hal yang memuaskan keinginan.

Sebuah pabrik yang memproduksi baja, catat Smith, memiliki kekayaan yang nyata ketimbang orang yang memiliki baja semata. Dengan alat produksi, baja diolah menjadi suku cadang mobil, bahan bangunan, dan barang-barang lainnya. Pendeknya, pikiran dan ketrampilan manusia juga merupakan bentuk kekayaan yang hakiki. Karena dari situlah lahir beragam ide yang mampu memberikan nilai pada suatu barang atau jasa.

"Jika Anda ingin kaya, jangan pikirkan bagaimana cara merebut sumber daya yang langka. Pikirkan tentang bagaimana menggunakan sumber daya dengan cara yang inovatif untuk membuat sesuatu yang benar-benar diinginkan atau dibutuhkan orang." tulis Smith.

Infografik Asteroid 18 nol

Infografik Asteroid 18 nol. tirto.id/Quita

Akan Dimonopoli Pemain Besar?

Meski begitu, perusahaan mana pun yang nantinya mampu menemukan sumber daya bernilai tinggi di asteroid adalah mereka yang paling diuntungkan. Monopoli memungkinkan mereka membatasi pasokan agar harga tetap tinggi di pasaran.

Scott Moore, CEO Eurosun Mining yang bermarkas di Toronto Kanada, menyatakan bahwa asteroid memang berpotensi jadi sasaran penambangan di masa depan. Apalagi sumber daya di planet bumi kian tipis dan aktivitas pertambangan terbukti telah merusak lingkungan hidup.

"Empat sampai lima juta ons emas yang dibawa ke pasar setiap tahun tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan apa yang tersedia di antariksa sana," ujar More kepada Oil Price menanggapi keberadaan asteroid 16 Pysche.

Pendapat Moore diamini oleh Mitch Hunter Scullion, pendiri Asteroid Mining Corporation yang berbasis di Inggris. "Ini akan jadi industri besar. Begitu kita membangun infrastruktur, kemungkinannya tak terbatas. Uangnya luar biasa besar bagi mereka yang mau menerima tantangan," kata Sculiion.

Dalam beberapa tahun terakhir penambangan luar angkasa sudah dirintis beberapa perusahaan besar dan pemodal ventura. Salah satunya Planetary Resources, sebuah perusahaan tambang luar angkasa yang didirikan oleh duo Larry Page dari Google dan Bryan Johnson dari Braintree. Pada Januari 2018, Planetary Resources meluncurkan Arkyd-6 CubeSat, sebuah satelit eksperimen yang didesain untuk mendeteksi keberadaan air di asteroid.

Pada 2017, perusahaan swasta asal AS seperti Moon Express mengumumkan bakal membangun pangkalan robot untuk menambang di kutub selatan bulan pada 2020 mendatang. Mereka mempersiapkan pesawat luar angkasa MX Robotic yang didesain untuk mengangkut dan membongkar muatan hasil tambang.

"Anda tidak bisa menganggap penambangan luar angkasa sebagai sesuatu yang tiba-tiba akan terjadi dalam 25 atau 50 tahun," ujar Moore lagi. "Ini sudah terjadi dari perspektif investasi. Dan sabuk asteroid hanyalah salah satu aspek dari pasar ini. Seluruh pasar luar angkasa global sudah bernilai ratusan miliar. ”

Sejauh ini, beberapa perusahaan dari Cina, Luksemburg, Jepang, dan Amerika Serikat telah memulai menjajaki tambang sumber daya alam di benda-benda luar angkasa.

Baca juga artikel terkait MISI LUAR ANGKASA atau tulisan lainnya dari Tony Firman

tirto.id - Bisnis
Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf