Asa Mencipta Mesin Waktu

Delorean DMC-12 yang dijadikan mesin waktu di film fiksi 'Back to the Future'. FOTO/Poster/Universal Pictures
Oleh: Tony Firman - 26 Agustus 2017
Dibaca Normal 3 menit
Menjelajah waktu bukan hal mustahil bagi sains, tapi membuat mesin waktu adalah hal lain.
Pada 2029, umat manusia hampir musnah akibat perang nuklir dan komputer cerdas bernama Skynet berkuasa di atas planet bumi. Komputer tersebut mampu mempertahankan diri dan berpikir ke depan layaknya manusia, bahkan melampauinya. Mirip manusia pula, Skynet menciptakan kerusakan di muka bumi.

Mendapati perlawanan yang sengit dari seorang manusia bernama John Connor, Skynet mengirimkan robot T-800 untuk menumpas sisa-sisa manusia yang dianggap mengancam. Seorang wanita pelayan restoran menjadi target utama pembunuhan oleh T-800. Diketahui kemudian, sang pelayan akan melahirkan John Connor di masa depan.

John Connor pun tak tinggal diam, ia berbalik turut mengirimkan prajurit terbaiknya ke tahun 1984 guna melindungi ibunya dari T-800.

Baca juga: Fiksi Ilmiah Kerap Menginspirasi Penemuan Teknologi

Penggalan cerita di atas berasal dari film The Terminator (1984), sebuah thriller yang menyajikan kisah perjalanan waktu secara apik. Lakon yang dimainkan oleh Arnold Schwarzenegger ini merupakan bagian dari tradisi fiksi ilmiah yang kerap membahas perjalanan waktu melalui pencapaian teknologi di masa depan.

Ada banyak film fiksi ilmiah yang menyajikan unsur perjalanan waktu lainnya, di antaranya Looper (2012), Interstellar (2014), Predestination (2016), hingga yang lawas dan tak kalah legendaris seperti trilogi film Back to the Future (1985).

Dirilis setahun setelah The Terminator, Back to the Future menyajikan kisah perjalanan waktu menggunakan sebuah mobil yang telah dimodifikasi oleh ilmuwan jenius bernama Doc Brown. Marty McFly, kawan sang ilmuwan, mencoba mesin waktu bertenaga plutonium ini kembali ke tanggal 5 November 1955.

Mundur ke belakang lagi, di ranah novel fiksi ilmiah, karya Herbert George Wells berjudul The Time Machine (1895) dengan apik menarasikan sekaligus mempopulerkan konsep perjalanan waktu dengan menggunakan kendaraan. Istilah mesin waktu yang dibuat Wells, nyatanya sampai saat ini dipakai untuk merujuk ke sebuah kendaraan penjelajah waktu.

Dalam perkembangan di abad ke 21, konsep perjalanan waktu terus menghantui para ilmuwan. Fisikawan besar Albert Einstein, melalui teori umum tentang relativitas yang tersohor itu, menyatakan bahwa perjalanan waktu mungkin terwujud melalui terowongan “lubang cacing” yang menghubungkan berbagai lapisan-lapisan ruang dan waktu yang berbeda.

Maret lalu, dua ilmuwan Benjamin K Tippett dan David Tsang turut menambah daftar ilmuwan yang terus mengkaji akan kemungkinan-kemungkinan menjelajah waktu.

Melalui artikel “Traversable acausal retrograde domains in spacetime” yang dipublikasikan di jurnal Classical and Quantum Gravity menyajikan rincian pola susunan geometri, termasuk hitung-hitungan fisika dan matematis yang dirancang agar sesuai dengan cara kerja sebuah mesin penjelajah waktu.

Baca juga: Hidup dengan Secuil Otak

Tippet, ahli teori umum relativitas Einstein, telah mempelajari lubang hitam dan fiksi ilmiah saat cuti dari kampusnya. Bersama David Tsang, seorang astrofisikawan di University of Maryland, Tippet meneruskan aplikasi teori umum relativitas Einstein untuk menghasilkan model matematis yang dinamainya TARDIS.

"Orang menganggap menjelajahi waktu sebagai sesuatu yang fiktif dan kita cenderung menganggapnya mustahil, karena kita sebenarnya tidak pernah mencobanya. Tapi, secara matematis, hal itu dimungkinkan," ungkap matematikawan Ben Tippett kepada Phys.

Menurut Tippett, pembagian ruang menjadi tiga dimensi ditambah waktu dalam dimensi yang terpisah tidaklah benar. Pola ini membuat sebuah rangkaian ruang dan waktu menjadi berbeda dan tidak saling berhubungan secara kontinu atau melingkar.

Sebagai tandingan, temuan yang diajukan Tippet menggabung keempat dimensi tersebut dalam sebuah rangkaian ruang dan waktu yang melingkar saling berhubungan. Berpijak pada pada teori Einstein pula, kelengkungan lingkaran akan ruang dan waktu ini layaknya orbit melengkung pada planet.

Baca juga: Kemungkinan dan Cara-cara Menjelajahi Waktu

Temuan Tippett dan Tsang sekaligus menolak pemakaian pola garis lurus untuk skema kinerja penjelajahan waktu. "Arah waktu dari permukaan ruang waktu juga menunjukkan lengkungan. Ada bukti yang menunjukkan bahwa semakin dekat ke lubang hitam, waktu bergerak lebih lambat," ujarnya menjelaskan.



Meskipun secara hitung-hitungan dan teori memungkinkan, Tippett sendiri meragukan bahwa sebuah mesin penjelajah waktu bisa terwujud sekalipun memakai prinsip temuannya. Menurutnya, bahan-bahan penyusun yang dibutuhkan masih menjadi kendala utama, terutamanya bahan yang disebutnya sebagai materi eksotis untuk menekuk waktu.

Materi eksotis sendiri terangkat dan menjadi populer berkat temuan trio ilmuwan bernama David Thouless, Duncan Haldane dan Michael Kosterlitz. Dilansir dari Deutsche Welle, ketiga ilmuwan tersebut melakukan risetnya sejak tahun 1970-an hingga 1980-an. Mereka menggunakan metode ilmu matematika tinggi untuk meneliti fase yang tidak lazim pada materi, di antaranya penghantar listrik super, fluida super dan juga film magnetik yang amat tipis.

Atas dedikasi dan temuan pengetahuannya, mereka bertiga diganjar penghargaan Nobel Fisika tahun 2016 kemarin.

Meskipun sejauh ini mesin waktu berdasarkan kajian-kajian teoretis belum terwujud, tetapi kasus-kasus kecil perjalanan waktu sejatinya pernah terjadi. Ini terutama dialami oleh kalangan para astronot.

Salah satunya adalah Sergei Krivalev, astronot Rusia yang tinggal di stasiun luar angkasa (ISS) selama 803 hari, 9 jam, 39 menit. Ia melakukan perjalanan waktu ke masa depannya sendiri selama 0,02 detik.

Baca juga:

Meski sangat singkat, tetapi itulah yang terjadi pada Sergei Krivalev sebagai efek dari pelebaran waktu. Seperti dikutip dari Universe Today, pelebaran waktu disebabkan oleh perbedaan antara gravitasi atau kecepatan relatif. Masing-masing mempengaruhi waktu dengan cara yang berbeda.

Ketika astronot dan satelitnya mengorbit bumi, posisinya mereka sedikit lebih jauh dari bumi dibandingkan dengan orang-orang di daratan bumi. Kemudian mereka mengalami pelebaran waktu gravitasi, di mana waktu yang dialami para astronot akan berjalan sedikit lebih lambat dibanding di bumi.

Perbedaan waktu ini bagaimanapun sangat kecil dampaknya karena stasiun luar angkasa seperti ISS membatasi kecepatan orbit hanya sekitar 7.7 km/detik. Berbeda jika ISS mengorbit bumi dengan kecepatan cahaya, sekitar 300.000 km/detik. Sehingga, astronot yang tinggal setelah 6 bulan di ISS dengan kecepatan yang ada saat ini, usianya hanya lebih muda sekitar 0,007 detik dari usia normal di bumi.

Majalah New Scientist dalam edisi khusus tentang teori relativitas Einstein, turut memberi catatan bahwa kemungkinan perjalanan waktu dapat menyebabkan paradoks fisik. Contohnya begini. Seseorang bernama Fulan yang berusia 70 tahun menjelajah waktu kembali ke masa lalu menjadi lebih muda. Si Fulan kemudian membunuh kakeknya sendiri yang belum sempat berkeluarga dengan neneknya. Tentu saja orang tua dari si Fulan tidak akan ada karena telah meninggal lebih dahulu. Fulan pun akhirnya tidak pernah ada. Inilah yang dinamakan paradoks.

Tetapi apapun perdebatannya, sangat menarik melihat kemajuan dan bukti-bukti yang terus diuji dan dilahirkan dalam ranah sains. Terlebih jika satu per satu kendala di dalam lab dapat dipecahkan.

Baca juga artikel terkait EINSTEIN atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf
DarkLight