Arti Resesi 2023, Penyebab, Dampak & Kondisi Indonesia Saat Ini

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari, tirto.id - 6 Okt 2022 08:07 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Resesi adalah kelesuan dalam kegiatan dagang, industri, serta menurunnya kegiatan dagang dan industri, apakah Indonesia akan mengalami resesi 2023?
tirto.id - Resesi 2023 ramai menjadi perbincangan akhir-akhir ini. Sebab, resesi 2023 bisa saja terjadi pada negara manapun di dunia termasuk Indonesia.

Beberapa waktu lalu Jokowi bahkan sudah mengingatkan soal kondisi dunia saat ini yang ada dalam pusaran 'awan gelap' dan tahun depan ada kemungkinan terjadi badai besar atau ancaman resasi termasuk di Indonesia.

Selain itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam rapat paripurna di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (29/9/2022) lalu menyebut negara seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) bahkan berpotensi mengalami resesi pada 2023 mendatang. Padahal seperti yang kita ketahui bersama bahwa negara maju tersebut merupakan penggerak perekonomian dunia.

"Negara maju seperti AS dan Eropa yang juga merupakan penggerak perekonomian dunia berpotensi mengalami resesi pada 2023," ucapnya.

Apa Indonesia akan mengalami resesi 2023?


Sri Mulyani mengatakan, untuk kondisi Indonesia, sejauh ini pemerintah masih memperkirakan sampai dengan akhir tahun pertumbuhan masih cukup resilience. Terutama ditopang pada kuartal III-2022. Hal ini tercermin dari konsumsi masih bagus, ekspor masih sangat kuat, dan investasi sudah mulai pulih.

"Kalau untuk kuartal IV tadi saya sampaikan, belanja pemerintah mungkin akan cukup banyak mengkontribusikan," kata dia.

Namun di 2023, kata Sri Mulyani jika dilihat environment-nya maka akan menjadi lebih melemah. Sebab itu, pemerintah tetap menjaga resiliensi sebagai shock absorber dan domestic demand harus tetap terjaga.

"Oleh karena itu daya beli harus dijaga secara sangat hati-hati, makanya tadi yang disampaikan dari dunia usaha pertumbuhan kredit sudah meningkat itu semuanya bisa menciptakan pekerjaan, income, dan daya beli," jelasnya

"Ini semuanya adalah cara kita, dan kita menggunakan tools APBN dan bekerja sama dengan BI untuk terus menjaga stabilitas ekonomi Indonesia dan mendorong pemulihannya," sambungnya.

Apa itu resesi 2023?



Dilansir dari laman KBBI, resesi adalah kelesuan dalam kegiatan dagang, industri, serta menurunnya kegiatan dagang dan industri.

Sementara itu, dilansir dari laman Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Mojokerto, resesi adalah penurunan signifikan dalam aktivitas ekonomi yang tersebar di seluruh ekonomi, berlangsung lebih dari beberapa bulan, biasanya terlihat dalam Produk Domestik Bruto (PDB) riil, pendapatan riil, lapangan kerja, produksi industri, dan penjualan grosir-eceran.

Pengertian yang lebih sederhana dan lazim digunakan, seperti dijelaskan Julius Shiskin pada tahun 1974, yang menyatakan resesi adalah penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) yang terjadi selama dua kuartal berturut-turut.



Penyebab resesi 2023 menurut pakar

Pengamat Perbankan, Keuangan, dan Investasi dari UGM, I Wayan Nuka Lantara, Ph.D., menyampaikan bahwa resesi yang akan terjadi kedepannya dikarenakan lonjakan inflasi sebagai dampak dari konflik Rusia-Ukraina.

Peningkatan inflasi tersebut diikuti oleh kebijakan pengetatan moneter oleh bank sentral di negara Eropa dan Amerika dengan menaikkan tingkat bunga acuan yang akan berdampak juga pada kebijakan yang diambil bank sentral di negara lainnya.

Menurutnya, apabila bunga acuan meningkat, maka biaya modal dan bunga kredit yang akan ditanggung bisnis juga akan naik. Dampak lanjutannya biasanya diikuti oleh mata uang lokal yang melemah terhadap mata uang asing.

Jika suatu negara memiliki banyak pinjaman dalam mata uang asing baik oleh pemerintah maupun swasta maka jumlah mata uang lokal yang akan dikeluarkan untuk membayar pinjaman dalam mata uang asing juga akan meningkat.

"Jika kondisi tersebut tidak membaik, maka kombinasi rentetan harga produk yang meroket, inflasi yang meningkat, bunga acuan kredit yang naik, serta pelemahan mata uang lokal pada akhirnya akan berisiko menyebabkan terjadinya krisis ekonomi global," paparnya, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Tirto.

Lalu, dampak dari resesi ekonomi?

Dampak resesi 2023



Ada beberapa dampak resesi ekonomi yang bisa terjadi, di antaranya,

1. Terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi yang tentu saja akan membuat sektor riil menahan kapasitas produksinya. Hal ini akan mengakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang biasanya akan sering terjadi bahkan beberapa perusahaan mungkin saja akan gulung tikar dan tidak lagi beroperasi.

2. Kinerja instrumen investasi akan mengalami penurunan sehingga investor cenderung menempatkan dananya pada bentuk investasi yang lebih aman.

3. Ekonomi yang semakin sulit pasti akan berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat karena mereka akan lebih selektif menggunakan uangnya dengan fokus terhadap pemenuhan kebutuhan dasar terlebih dahulu.

Cara mengelola keuangan untuk hadapi resesi 2023



Lantas bagaimana cara mengelola keuangan pribadi menghadapi ancaman resesi ini?

Pengamat Perbankan, Keuangan, dan Investasi dari UGM, I Wayan Nuka Lantara, Ph.D., mengimbau masyarakat untuk tetap tenang sembari melakukan revisi pada rencana keuangan yang sebelumnya sudah dibuat. Menurutnya, upaya penyiapan dana darurat penting dilakukan, namun perlu juga dibarengi upaya pada dua hal lainnya yaitu,

1. Cari alternatif tambahan penghasilan selain dari gaji tetap.

Anda sebaiknya perlu berupaya untuk mencari alternatif penghasilan tambahan di luar gaji Anda. Misalnya, Anda bisa memanfaatkan hobi Anda untuk bisnis dan menghasilkan uang tambahan, berjualan online, dan tetaplah rutin berinvestasi.

2. Lakukan identifikasi ulang pada pos-pos pengeluaran.

Disaat yang sama sembari mencari celah untuk melakukan penghematan pada pos-pos pengeluaran yang kurang penting atau yang bisa ditunda.

Saat disinggung apakah masih aman melakukan investasi di tengah situasi yang serba tak menentu. Wayan menyebutkan bahwa investasi selama ini terbukti menjadi cara yang efektif untuk melawan dampak negatif inflasi.

Namun, pilihan investasi yang cocok untuk mengantisipasi terjadinya krisis ekonomi global adalah menggeser bobot dana investasi kita lebih banyak pada aset investasi yang tergolong aman (safe haven).

Ia mencontohkan jenis investasi yang aman dilakukan antara lain deposito, emas, surat berharga yang diterbitkan oleh negara. Jika ingin melakukan investasi di saham, ia menyarankan sebaiknya investasi pada saham-saham yang bergerak pada sektor industri yang defensif, tetap bisa bertahan meskipun ada krisis.

"Misalnya saham perusahaan yang bergerak di industri consumer goods, kesehatan, bank, energi dan utilitas," pungkasnya.


Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan menarik lainnya Nur Hidayah Perwitasari
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight