Arti Karakter Protagonis dan Antagonis dalam Drama Serta Contohnya

Oleh: Yuda Prinada - 27 Februari 2021
Dibaca Normal 1 menit
Berikut ini arti dari tokoh antagonis dan protagonis dalam drama serta contoh penggunaannya.
tirto.id - Dalam studi bahasa dan sastra Indonesia, terdapat salah satu jenis karya sastra yang disebut drama.

Karya sastra ini dihasilkan dari beberapa unsur intrinsik yang termuat di dalamnya, meliputi tema, alur, latar, penokohan, dan tokoh.

Berbeda dengan cerita (prosa) dan puisi, drama lebih melampirkan rentetan dialog yang akhirnya menjadi sebuah kisah. Bahkan, tidak jarang karya sastra berupa naskah drama ini memiliki potensi untuk dipentaskan di panggung.

Burhan Nurgiyantoro dalam buku Teori Pengkajian Sastra (2009:23) mengungkapkan, unsur intrinsik karya sastra didefinisikan sebagai pendiri karya itu sendiri (dalam hal ini drama).

Biasanya, seluruh unsur pembangun ini tercantum di dalam drama yang dibaca, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Salah satu unsur intrinsik drama adalah tokoh. Didefinisikan sebagai pemeran, baik utama maupun tambahan, yang mengisi alur cerita.

Terdapat dua istilah tokoh yang diklasifikasikan berdasarkan sifatnya, yakni tokoh protagonis dan antagonis.

Perbedaan Tokoh Protagonis dan Antagonis

Menurut Modul 3, Ceritamu Ceritaku (2018:5) terbitan Kemendikbud, tokoh protagonis adalah individu dalam cerita yang selalu mengutamakan kebenaran dan kejujuran. Dengan kata lain, protagonis bisa disebut sebagai tokoh baik yang ada dalam drama.

Sedangkan, tokoh antagonis merupakan individu yang berkebalikan sifatnya dengan protagonis. Mereka yang dalam kisah drama mententang kejujuran, kebenaran, dan watak buruk lainnya didefinisikan menjadi tokoh antagonis.

Kedua jenis tokoh yang berlainan sifat ini biasanya digunakan oleh pengarang drama dalam menyusun konflik di dalam ceritanya.

Keduanya saling bersinggungan dan beradu pendapat mengenai apa yang seharusnya hingga klimaks atau puncak cerita muncul serta mendapatkan penyelesaian.

Kendati protagonis baik, bukan berarti ia yang akan memenangkan perseteruan di akhir cerita. Antagonis juga terkadang dibuat sedemikian rupa oleh penulis agar bisa menyaingi dan mendominasi.

Contoh Tokoh Protagonis

Alexandra: Hei, apa kau lihat pria yang gagah itu. Kemarin, aku tidak sengaja mendengar bahwa ia ingin mengeluarkan separuh kekayaannya untuk membangun rumah, lalu diberikan ke orang jalanan.

Yohanna: Memang benar harus seperti itu, Alexa. Seorang manusia harus bisa membantu orang yang tidak berdaya.

Dalam kutipan dialog naskah drama tersebut, dapat disimpulkan bahwa pria yang dilihat Alexandra telah berencana melakukan suatu kebenaran, yakni membagi apa yang dia punya kepada orang yang kekurangan.

Sifat baik dan benar yang dimiliki pria itu bisa menjadi gambaran bahwa dirinya merupakan tokoh protagonis.

Contoh Tokoh Antagonis

Veronica: Ndre, kemarin sore aku melihat pacarmu bersama laki-laki lain. Bahkan, mereka berpegangan tangan sambil jalan ke arah taman.

Andre: Hah, serius? Perasaan jam empat sore kemarin aku lagi jalan sama dia. Memang benar, kami berdua pergi ke taman. Udah, lebih baik kamu jangan menuduh-nuduh!

Berdasarkan kutipan drama di atas, Veronica bisa disebut sebagai tokoh antagonis karena berusaha melakukan fitnah terhadap pacar Andre.

Secara sadar, Veronica mengungkapkan sesuatu yang tidak sebenarnya sehingga bisa disimpulkan bahwa dirinya menentang kejujuran.


Baca juga artikel terkait DRAMA atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Yandri Daniel Damaledo
DarkLight