Arti Hagia Shopia dan Maknanya Bagi Sejarah Dunia

Oleh: Abdul Hadi - 6 Agustus 2020
Dibaca Normal 2 menit
Hagia Sophia memiliki makna bagi sejarah dunia. Arti Hagia Shopia adalah "tempat suci bagi Tuhan."
tirto.id - Pada 1985, UNESCO menetapkan bahwa Hagia Sophia merupakan salah satu situs warisan sejarah dunia. Lantaran itu UNESCO menyatakan kekecewaannya setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengkonversi museum Hagia Sophia menjadi masjid.

Organisasi PBB yang menangani sektor pendidikan, pengetahuan, dan kebudayaan ini memberikan peringatan bahwa bisa jadi status Hagia Sophia sebagai situs warisan dunia akan dicabut sehingga ia menjadi bangunan keagamaan biasa.

"Penting untuk menghindari keputusan apa pun sebelum berunding dengan UNESCO, yang akan mempengaruhi akses fisik ke situs, struktur bangunan, properti yang dapat dipindahkan, atau manajemen situs bersejarah," kata Ernesto Ottone, Asisten Direktur UNESCO, sebagaimana dilansir situs resmi UNESCO.

Dalam sejarah keberadaannya, Hagia Sophia sudah kerap menjadi rebutan pelbagai rezim. Selama 15 abad terakhir, bangunan megah ini mengalami beberapa kali alih fungsi, mulai dari gereja (325 - 1453 m), masjid (1453 - 1935 m), museum (1935 - 2020 m), dan kini menjadi masjid lagi.

Perubahan status Hagia Sophia tidak terlepas dari siapa yang memimpin rezim di Instanbul (dulu Konstantinopel). Pada masa Kekaisaran Bizantium, Hagia Sophia adalah katedral besar, kemudian di masa Kesultanan Ottoman, ia menjadi masjid. Lalu, ketika Turki menjadi negara republik, Hagia Sophia dikonversi menjadi museum, dan kini menjadi masjid lagi pada masa kekuasaan Erdogan.

Arti Hagia Sophia


Dalam bahasa Turki, Hagia Sophia disebut Aya Sofya, dan di bahasa Latin: Sancta Sophia. Hagia Sophia juga pernah dikenal sebagai Gereja Kebijaksanaan Suci (Church of the Holy Wisdom) dan Gereja Kebijaksanaan Ilahi (Church of the Divine Wisdom).

Sebagaimana makna kata sophia dalam bahasa Yunani adalah kebijaksanaan, maka arti lengkap dari Hagia Sophia adalah tempat suci bagi Tuhan.

Sejak pertama kali didirikan, Hagia Sophia dianggap sebagai lambang ekumenisme. Ia adalah gereja besar sebagai simbol kerja sama dan saling-paham antar-kelompok keagamaan, baik itu dalam badan agama sendiri ataupun singgungannya dengan agama lain.

Hal ini dibuktikan dari asal Hagia Sophia sendiri, sebagaimana dilansir dari ensiklopedia Britannica, bahwa bangunan Hagia Sophia pertama kali didirikan di atas pondasi atau tempat kuil pagan pada 325 Masehi, atas perintah Kaisar Konstantinus I.

Kemudian, oleh Konstantius II, Hagia Sophia dijadikan gereja Ortodoks pada tahun 360. Saat itu, ia menjadi gereja tempat para penguasa dimahkotai dan menjadi katedral paling besar yang beroperasi sepanjang periode Kekaisaran Bizantium.

Sekitar satu milenium setelahnya, saat Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II menaklukkan Konstantinopel (sekarang Istanbul), nama Hagia Sophia sendiri tidak diubah. Hal ini dirujuk dari bahasa Yunani, yang maknanya: Hagia Sophia adalah tempat suci bagi Tuhan. Sultan Mehmed II, saat itu mempertahankan kesucian Hagia Sophia dan hanya mengubah status fungsinya dari gereja menjadi tempat ibadah umat Islam.

Alasannya tertera dalam Hagia Sophia from the Age of Justinian to the Present (1992) yang ditulis Robert Mark dan Ahmet S. Cakmak. Keduanya mengutip Diegesis, saat alih fungsi Hagia Sophia dari gereja ke masjid: "Tuhan yang disembah umat Kristen dan Islam adalah Tuhan yang sama," (Hlm. 201).

Simbol dan Lambang di Hagia Shopia


Lambang ekumenisme Hagia Sophia bertambah di masa Kesultanan Ottoman ini. Kendati ornamen kekristenan ditutup dan diplester, karena alih fungsinya jadi masjid, Hagia Sophia memperoleh sentuhan arsitektur Islam, mulai dari tambahan menara, mihrab, tempat adzan, serta guratan kaligrafi indah di masanya.

Lantas, saat Mustafa Kemal Ataturk menjadi presiden pertama Turki, pada 1935, Hagia Sophia dikonversi menjadi salah satu museum unik di dunia. Ketika plester penutup dibuka, maka tampaklah lukisan Bunda Maria dan bayi Yesus, yang ternyata berjejer dengan kaligrafi Allah SWT dan Muhammad SAW.

Lantaran lambang dan simbol ekumenis inilah Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis mengutuk keputusan Presiden Erdogan mengenai alih fungsi itu. Menurut Kyriakos Mitsotakis, konversi Hagia Sophia dari museum menjadi masjid merupakan penghinaan terhadap karakter ekumenis Hagia Sophia.

Bantahan atas hal tersebut, Otoritas Keagamaan Turki, Diyanet menyatakan bahwa Hagia Sophia tetap menjadi bagian dari sejarah dunia. Lambang dan ornamen kekristenan masih akan dipertahankan dan Hagia Sophia tetap dibuka untuk wisatawan umum di luar waktu salat.

"Dari perspektif agama untuk Masjid Hagia Sophia, ia boleh terbuka bagi pengunjung di luar waktu sholat," sebagaimana dikatakan Diyanet, diwartakan dari Arab News.


Baca juga artikel terkait HAGIA SOPHIA atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Addi M Idhom
DarkLight