28 Februari 2007

Arthur Schlesinger Jr., "Sejarawan Istana" di Amerika Zaman Kennedy

Oleh: Tyson Tirta - 28 Februari 2021
Dibaca Normal 4 menit
John F. Kennedy mempekerjakan Arthur Schlesinger Jr., seorang sejarawan, sebagai penasihat politik dan penulis pidato.
tirto.id - Dalam salah satu episode acara seri televisi bertajuk “Open Mind”, Richard Hefner, sang pembawa acara, memperkenalkan tamu istimewa. Episode yang direkam pada 9 Juni 2001 itu kedatangan seorang sejarawan yang punya pengaruh politik paling besar sepanjang sejarah Amerika Serikat. Hefner membuka acara dengan menceritakan kenangannya pada dekade 1940-an ketika ia menghadiri sebuah pertemuan yang digelar American Historical Association (AHA). Di acara itu, ia mengaku sangat terkesan kala untuk pertama kalinya bertemu muka dengan seorang sejarawan muda, Arthur Meier Schlesinger Jr.

Pertemuan AHA itu bukan pertemuan biasa. Acara tersebut khusus digelar untuk “mengadili” buku karya Schlesinger berjudul The Age of Jackson (1945). Sekelompok sejarawan dan intelektual AHA yang lebih tua dari Schlesinger seakan-akan penasaran dengan metode penelitian yang ia gunakan sehingga bisa menerbitkan buku brilian dan sangat provokatif. Ia diminta untuk mempresentasikan temuan risetnya di hadapan para senior.

Berkat kecemerlangan Schlesinger dan laris-manisnya penjualan buku itu, karier intelektualnya berubah drastis. Sejak itu ia tak pernah lepas dari politik praktis. Pada 1947, misalnya, ia mendirikian Americans for Democratic Action (ADA), organisasi politik yang aktif mendukung dijalankannya kebijakan-kebijakan progresif. Organisasi ini memperjuangkan keadilan sosial sekaligus melakukan riset politik untuk mendukung kandidat progresif. ADA didirikan Schlesinger bersama dengan mantan Ibu Negara Eleanor Roosevelt, Wali Kota Minneapolis Hubert Humphrey, dan ekonom kesohor John Kenneth Galbraith.

Schlesinger juga sudah mengenal John F. Kennedy (JFK), politikus muda AS yang saat itu dianggap the rising star, sejak berkuliah di Harvard. Keakraban itu berlangsung cukup lama hingga media-media AS mulai menjadikannya komoditas berita. Apalagi ketika Schlesinger sering terlihat muncul bersama Kennedy dan istrinya di dekade 1950-an.

Suatu ketika di tahun 1954, John Fox, jurnalis Boston Post, memulai sebuah proyek pemberitaan untuk memetakan siapa saja tokoh-tokoh di kelompok Harvard yang memiliki potensi bergerak ke arah "kiri". Orang-orang yang dicap itu diberi label “Reds”. Schlesinger jadi salah satu di antaranya. Di luar dugaan, Kennedy pasang badan dan membahayakan karier politiknya sendiri dengan menyatakan Schlesinger tidak bisa dianggap sebagai "Reds".

Sejak itu pula Schlesinger semakin yakin dengan keputusannya menjadi penasihat politik. Baginya, JFK adalah teman baik. Maka, pada 1960, Schlesinger mendukung pencalonan JFK sebagai Presiden AS dan menjadi penulis pidato kampanye. Sumbangan terbesarnya dalam pencalonan JFK adalah terbitnya buku Schlesinger berjudul Kennedy or Nixon: Does It Make Any Difference? (1960). Buku itu membedah habis poin-poin keunggulan Kennedy dibandingkan dengan Nixon yang dianggapnya hanya punya metode tanpa ide yang jelas dan mendasar.

JFK pun akhirnya terpilih menjadi presiden. Ia berencana menawari posisi duta besar atau Asisten Menteri Luar Negeri pada Schlesinger. Namun, Robert Kennedy, saudara kandung JFK, lebih dulu mengarahkan Schlesinger untuk mengambil tugas khusus kepresidenan. Robert melihat kecerdasan Schlesinger bisa sangat bermanfaat untuk membantu kepentingan-kepentingan AS jika ia bertugas dari dalam lingkaran kepresidenan. Bersemangat dengan tugas itu, Schlesinger langsung cabut dari Harvard dan mengundurkan diri secara resmi pada 30 Januari 1961. Selanjutnya, selain membedah permasalahan di Amerika Latin, ia juga menjadi penulis pidato utama presiden selama masa jabatannya.

Tidak lama setelah JFK menjabat, Schlesinger mendengar tentang adanya rencana operasi yang disebut “Cuba Operation”. Saat itu Fidel Castro, yang telah menggulingkan rezim otoriter Batista dan mengambil alih kekuasaan, mulai condong ke kiri. Langkah AS mengadakan operasi apapun di Kuba dianggap Schlesinger sebagai langkah blunder karena akan menyerang balik AS dengan isu moralitas. Ia pun menentang rencana pemerintah. Salah satu pemikirannya adalah operasi di Kuba membuat semua niat baik AS dalam mewujudkan dunia baru yang damai menjadi tertutup.

Di era Perang Dingin, langkah ini sangat berisiko karena AS dianggap memberikan dukungan kepada kelompok militan non-Batista yang anti-Castro. JFK telah menyatakan sebelumnya bahwa setiap komunikasi dengan Castro harus melalui perencanaan yang matang. Akan tetapi Schlesinger terkejut membaca rencana aksi dari surat kabar sore. Ia menceritakan kenangan tersebut dalam buku A Thousand Days: John F. Kennedy in the White House (1965: 177).

“Saya sangat terkejut membaca di koran sore sebuah pernyataan Kennedy yang menyerang partai Republik karena berpuas diri sebelum komunisme di Kuba berhasil diatasi. [Kennedy] juga sampai menegaskan pentingnya sebuah aksi kolektif disertai proposal yang ambigu soal dukungan kepada kelompok militan anti-Castro”, kata Schlesinger.

Akhirnya, dalam pertemuan kabinet, Schlesinger yang tidak senang dengan rencana itu kemudian hanya menjadi pendengar. Ia justru menyiapkan materi bersama Senator William Fulbright untuk mengajukan pernyataan tidak sepakat secara resmi.

Kiprahnya di lingkaran dalam politik AS terhenti ketika JFK ditembak pada 22 November 1963. Schlesinger yang terkejut kemudian memutuskan untuk mundur dari tugasnya dua bulan kemudian.

Infografik ARTHUR M. Schlesinger JR
Infografik Mozaik ARTHUR M. Schlesinger JR. tirto.id/Fuad

Penentang Nixon

Di awal 1970-an, Schlesinger menjadi oposisi pemerintah. Ia mengkritik Presiden Nixon dengan keras sejak awal maju menjadi calon presiden hingga akhir masa jabatannya. Keputusan ini menjadikannya salah satu lawan politik Nixon. Terutama karena Schlesinger memang seorang Demokrat liberal yang menonjol.

Di sepanjang kariernya sebagai penasihat politik, Schlesinger dikenang terutama karena perannya yang besar dalam menentukan arah kebijakan luar negeri AS. Kedekatannya dengan beberapa presiden AS juga membuat karyanya, The Imperial Presidency (1973), mendapat sorotan publik. Istilah 'imperial presidency' sebenarnya telah muncul di dekade 1960-an untuk menggambarkan institusi kepresidenan AS yang modern. Bagi Schlesinger, istilah yang ia gunakan sebagai judul bukunya pada 1973 itu terutama untuk membahas dua hal pokok dalam politik kepresidenan di AS. Pertama, soal peran presiden yang tidak punya batasan. Kedua, tentang konstitusi negara yang terang-terangan dilanggar presiden.

Belakangan, di akhir kariernya, Schlesinger memang lebih banyak menjadi kritikus politik. Di era Presiden Bill Clinton, ia menjadi kritikus yang sangat vokal. Konsep “Vital Center” yang ia perkenalkan dalam sebuah buku pada 1949 rupanya digunakan oleh Bill Clinton dengan keliru.

Dalam The Vital Center: The Politics of Freedom (1949), Schlesinger merujuk pada pertentangan antara demokrasi dan totaliterisme. Di sisi lain, Bill Clinton justru menggandeng konsep ini dengan tambahan konsep “middle of the road” sebagai posisi politik dalam perselisihan di negara demokrasi antara kelompok liberal dan konservatif. Berang dengan itu, Schlesinger menulis artikel berjudul “It’s My Vital Center” di majalah Slate untuk memprotes Clinton. Baginya, middle of the road bukanlah Vital Center, melainkan Dead Center.

Jawaban Schlesinger atas pertanyaan Richard Hefner dalam acara "Open Mind" tahun 2001 seakan-akan merangkum kariernya sepanjang abad ke-20.

“Ketika anda begitu dekat dengan sekian banyak figur politisi baik sebagai penasihat maupun kritikus," tanya Hefner, "kapan anda merasa buah pemikiran dan ide anda paling dekat dengan aksi-aksi politik nyata?"

Schlesinger menjawab: “Selalu ada batas antara keinginan-keinginan teoritis, dan langkah politik yang mungkin diambil. Tapi eksekusi ide menjadi aksi-aksi nyata tidak pernah bisa benar-benar sesuai harapan yang idealis dan realistis selain di masa Franklin D. Roosevelt dan John F. Kennedy.”

Sejarawan Arthur M. Schlesinger Jr. meninggal akibat serangan jantung ketika makan malam dengan anggota keluarganya pada 28 Februari 2007, tepat hari ini 14 tahun lalu.

==========

Tyson Tirta adalah alumnus Program Studi Ilmu Sejarah UI dan master bidang sejarah dari Kingston University, London. Menulis skripsi tentang Mindere Welvaart Commissie; menyusun tesis berjudul "Favourable Interregnum: Stamford Raffles and the British Administration in Java, 1811-1815".

Baca juga artikel terkait SEJARAWAN atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Tyson Tirta
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight