Arte Povera: Gerakan Seni yang Menantang Amerika

Reporter: M Faisal Reza Irfan, tirto.id - 28 Okt 2017 11:38 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Datang dari Italia, mereka berusaha mempertanyakan kaidah seni Amerika.
tirto.id - Instalasi seni itu bersandar pada tembok. Ada empat tingkat yang masing-masing di atasnya terletak kain lusuh berwarna abu-abu dan biru muda yang menempel erat. Sepintas, komposisi ini terlihat layaknya karya instalasi yang sering dijumpai. Namun jika diperhatikan lebih seksama, terdapat perbedaan yang bisa tertangkap mata.

Demikian ilustrasi karya salah satu seniman Arte Povera, Jannis Kounellis yang dirilis pada 1968. Arte Povera atau “seni yang miskin” merupakan gerakan seni garda depan (avant-garde) di Eropa pada 1960an. Kata “miskin” mengacu pada penggunaan bahan baku di luar cat minyak, perunggu, maupun marmer berukir. Sebagai gantinya, para seniman Arte Povera menggunakan bahan yang bisa didapat dari lingkungan keseharian seperti tanah, kain, sampai ranting kayu.

Presentasi karya Arte Povera serupa dengan gerakan seni eksperimental lainnya pada era 1960an. Menyelipkan pertunjukan di tengah pameran, misalnya. Seniman Arte Povera juga berupaya memancing respons penonton pada masing-masing karya yang sudah dibuat. Ini semua didasari oleh misi mendasar Arte Povera: menghubungkan kembali kehidupan dan seni.

Konsep Arte Povera sendiri diperkenalkan oleh kurator dan kritikus seni Italia, Germane Celant pada 1967. Celant menekankan bahwa dengan memakai bahan baku yang sifatnya tradisional, sebuah karya seni bisa diciptakan.

Baca juga: Persahabatan-Persahabatan yang Mengubah Dunia Seni

Pada tahun 1967, Celant menggelar pameran bertajuk “Arte Povera e IM Spazio.” Acara itu diselenggarakan di Galleria La Bertesca, Genoa dan melibatkan seniman muda dari Turin, Milan, hingga Roma. Di sana karya-karya Alighiero Boetti, Luciano Fabro, Jannis Kounellis, Giulio Paolini, Pino Pascali, dan Emilio Prini dipertontonkan. Kesamaannya ialah semua karya dibuat dengan bahan “miskin.”

Contohnya, karya Boetti berjudul Pile (1967) disusun atas tumpukan asbes. Sementara Fabro dalam Floor Tautology (1967) menutup lantai keramik dengan potongan surat kabar. Pascali, melalui Cubic Meters of Earth (1967) membentuk gundukan tanah menjadi sesuatu yang lebih padat. Lewat pameran tersebut, Celant berusaha mengajak audiens untuk melihat perspektif karya seni dari hal-hal yang dianggap tidak penting.

Dua bulan selepas acara di Genoa, Celant menulis Arte Povera: Notes for A Guerilla War; sebuah manifesto seni yang di dalamnya berisikan seniman-seniman Arte Povera seperti Giovanni Anselmo, Piero Gilardi, Mario Merz, Gianni Piacentino, Michelangelo Pistoletto, hingga Gilberto Zorio.

Melalui tulisan tersebut, Celant ingin merekatkan hubungan masyarakat Italia dengan gerakan seni. Tak cuma itu saja, Celant juga ingin menyamakan pandangan para seniman secara konseptual sebagai wujud keinginan bersama untuk menghapus dikotomi antara seni dan kehidupan.

Dari sini, kelak muncul seniman-seniman yang bersatu di bawah panji Arte Povera mulai dari Giovanni Anselmo, Alighiero Boetti, Pier Paolo Calzolari, Luciano Fabro, Piero Gilardi, Mario Merz, Giulio Paolini, Giuseppe Penon, sampai Michelangelo Pistoletto. Mereka bekerja dengan cara yang berbeda-beda; melukis, memahat, sampai membuat pertunjukan dan instalasi seni.

Sebaik-baiknya Seni Adalah Untuk Perlawanan

Keberadaan bahan baku yang dianggap “miskin” dalam Arte Povera tidak bisa dilepaskan dari fenomena internasional pada 1950an bernama assemblage, yakni teknik membuat karya seni dengan bahan baku elemen-elemen benda keseharian yang terpisah. Baik seniman-seniman assemblage pada 1950an dan pegiat Arte Povera memanfaatkan teknik yang sama untuk mengkritik lukisan abstrak ekspresionis yang mendominasi dunia seni pada periode tersebut. Lukisan abstrak ekspresionis dianggap terlalu membatasi emosi dan ekspresi individu. Sebagai penggantinya, mereka menawarkan karya seni yang menyentuh sisi kehidupan sehari-hari alih-alih sekedar abstraksi melalui warna.

Infografik Arte Povera


Di luar kesamaan berupa pemanfaatan bahan baku, terdapat perbedaan assemblage dan Arte Povera. Hal yang membedakan yakni Arte Povera cenderung menerapkan pendekatan avant-garde yang berkembang antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II seperti surealisme dan konstruktivisme.

Baca juga: Jalan Hidup Pelukis Jalanan Jean-Michel Basquiat

Di samping merespons dominasi lukisan abstrak ekspresionis, Arte Povera juga menentang kecenderungan Minimalisme Amerika, yang menurut mereka bertumpu pada spirit modernisme, penguasaan teknologi, komersialisasi nilai lewat sistem galeri saat itu, dan yang lebih penting dari itu semua: impersonal dan berjarak dari kehidupan sehari-hari.

Dunia seni Amerika di mata seniman Arte Povera merupakan bentuk konsumerisme yang diejawantahkan ke dalam Pop Art ala Andy Warhol. Tak ada yang namanya substansi dan keterhubungan dengan lingkungan sekitar. Alih-alih merekatkan relasi seni dan kehidupan nyata, seni Amerika justru terjebak dalam dunia imajinasi senima dan kuratornya sendiri.

Walaupun perjalanan Arte Povera semakin populer di kalangan masyarakat, gerakan ini harus bubar pada pertengahan 1970. Faktor utamanya adalah gaya individual seniman Italia terus tumbuh ke arah yang berbeda. Tidak ada kesamaan visi maupun misi dari para seniman guna mempertahankan gerakan tersebut.

Kemunculan Arte Povera bagaimanapun juga telah menorehkan jejak dalam sejarah seni Eropa. Para kritikus, yang awalnya condong ke gerakan seni Amerika, mulai memperlihatkan antusiasmenya pada gerakan-gerakan seni yang mengikuti jejak Arte Povera.

Baca juga artikel terkait SENI atau tulisan menarik lainnya M Faisal Reza Irfan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: M Faisal Reza Irfan
Penulis: M Faisal Reza Irfan
Editor: Windu Jusuf

DarkLight