Art Jakarta: Berapa Besar Volume Transaksi di Bursa Seni?

Pagelaran pameran seni rupa tahunan bertajuk Art Jakarta yang menghadirkan beragam karya seni perupa Indonesia dan Internasional dari sejumlah galeri seni telah berlangsung mulai dari Jumat 30 Agustus 2019 hingga 1 September 2019 di JCC Senanyan. tirto.id/Hafitz Maulana
Oleh: Joan Aurelia - 3 September 2019
Dibaca Normal 3 menit
Bursa seni sempat menjamur di berbagai belahan dunia pada 1970-an dan 1980-an. Kembali populer setelah krisis ekonomi Asia berlalu sekitar tahun 2000-an.
“Jangan pernah memperlihatkan atau memberi database ke pihak lain,” kata Gil Schneider, Fair Consultant Art Jakarta seraya menjelaskan kunci sukses acara art fair atau bursa jual beli karya seni. Tiga tahun belakangan Schneider bergabung atas kepanitiaan Art Jakarta—yang sebelumnya bernama Bazaar Art Jakarta—dan bertanggungjawab merancang strategi pemasaran.

Dengan bangga Ia menjelaskan acara tahun ini diselenggarakan di Hall A&B Jakarta Convention Centre sehingga bisa melibatkan 70 galeri seni di Asia dan Eropa. Selama sepuluh tahun berturut-turut Bazaar Art Jakarta diikuti sekitar 50 galeri dan diselenggarakan di sebuah hotel bintang lima di Jakarta Pusat. Begitu pula dengan bursa seni lain yang sempat diadakan di ibukota seperti Art Moments dan Art Stage Jakarta.

Schneider optimis acara yang digelar pada 30 Agustus-1 September lalu berpotensi menghasilkan nilai transaksi yang cukup memuaskan. Alasannya, menurut Schneider adalah bahwa Indonesia negara yang cukup produktif menghasilkan seniman. Walhasil, ajang bursa seni yang didesain secara serius bisa menarik hati penikmat seni.


Pendapat itu bukannya tanpa dasar. Tahun lalu South China Morning Post mewawancarai Lorenzo Rudolf, seorang art dealer penggagas Art Stage Singapore dan mantan direktur Art Basel. Rudolf menyatakan bahwa kondisi perekonomian yang relatif kondusif memungkinkan penikmat seni membangun galeri atau museum pribadi sehingga skena seni di Indonesia nampak menggairahkan.

“Seni kontemporer sudah jadi gaya hidup penanda status sosial. Setiap minggu, ada saja pembeli baru yang masuk di ranah seni untuk membeli karya seni dengan harga tinggi. Buat mereka hal itu ibarat ‘tiket’ untuk jadi jetsetter. Bursa seni pun berkembang jadi ajang bersosialisasi. Tujuannya bukan cuma jualan karya,” tuturnya kepada Forbes.

Pendapat Rudolph terbukti kala Tirto berbincang dengan VIP Director Art Jakarta Hafidh A. Irfanda di ruang makan panitia yang letaknya tersembunyi di antara ruang pamer utama. Ia mengaku kurang tidur lantaran berpesta hingga larut malam.

“Kita adakan after party setiap malam. Penting sekali buat networking. Seni adalah ranah yang sangat personal sehingga pendekatannya harus intimate,” kata pria yang bertugas membangun serta menjaga relasi dengan para kolektor seni.

Selama setahun ke belakang Hafidh mengumpulkan dan menjamu dua ratusan kolektor dari dalam dan luar negeri—terutama negara-negara di Asia. Ia juga merancang program khusus untuk para kolektor, misalnya kunjungan ke galeri seni dan rumah sejumlah kolektor papan atas dalam negeri.

Cara-cara tersebut dipercaya bisa mendorong kolektor untuk membeli karya. Terutama bagi para kolektor senior yang sudah lama “hibernasi” dan merasa bosan dengan seni rupa. “Kita berusaha agar mereka kembali mengoleksi karya. Dan sejauh ini saya lihat ada saja yang kembali membeli lewat acara ini.”

Sayangnya, Irfan menolak bicara soal nilai transaksi yang didapat dari bursa seni baik tahun ini maupun yang terdahulu. “Bukan ranah saya,” katanya. Ia hanya bilang bahwa timnya tidak menetapkan target tertentu atau menjanjikan kepada galeri soal potensi transaksi yang bisa diperoleh. Irfan hanya menjelaskan pendapatan acara salah satunya didapat dari biaya sewa booth yang enggan ia sebutkan jumlahnya.

Sebagai gambaran, Bisnis melaporkan bahwa Art Moment, bursa seni yang diselenggarakan di Jakarta pada 3-5 Mei 2019 lalu di Sheraton Hotel Gandaria City menghasilkan transaksi Rp85 miliar dan dihadiri sekitar 10.000 pengunjung (target pengunjung harian Art Jakarta).

Heri Pemad, penggagas bursa seni ArtJog pernah mengaku kepada Jakarta Post bahwa ia tidak mendapat keuntungan dari penyelenggaraan bursa seni. Tapi, ia masih bertekad untuk terus menyelenggarakan acara tersebut karena ada potensi lain yang dihasilkan seperti peluang untuk diundang jadi kurator ekshibisi seni di berbagai negara dan diminta mengorganisir acara seni di berbagai kota.

“Saya ingin ArtJog jadi sebesar Art Basel Swiss,” katanya kepada Jakarta Post.


Schneider pun menjadikan Art Basel sebagai acuan. Bedanya, Schneider lebih suka mengamati Art Basel Hong Kong lantaran lebih relevan dengan Indonesia. Ia pun mengusahakan agar setiap galeri memamerkan karya-karya yang relevan dengan zamannya.

Relevansi karya salah satunya bisa dilihat dari karya yang dilelang. Tahun ini acara lelang seni menyuguhkan karya dari seniman seperti Agung 'Agung' Prabowo, Uji 'Hahan' Handoko, Ronald Apriyan, Faisal Habibi, Natisa Jones, Indieguerillas, Marishka Soekarna, Darbotz, dan Arkiv Vilmansa.



Bagi Schneider, Art Basel adalah cerminan geliat seni di mana pun acara tersebut diselenggarakan baik di Swiss, Miami, atau Hongkong.

Dalam studi bertajuk "Evolution of the Art Fair" yang terbit pada jurnal Historical Social Research (2014), Christian Mogner menyatakan bahwa Art Basel Swiss adalah bursa seni pertama yang melibatkan seniman, art dealer, dan kolektor dari berbagai negara.

Perhelatan tersebut pertama kali diselenggarakan pada akhir 1960-an dan sampai hari ini telah memantik penikmat seni di negara-negara lain untuk menggelar acara serupa. Acara pekan raya seni awalnya sengaja diselenggarakan di kota-kota yang sebelumnya tidak dipandang sebagai kota “nyeni” seperti Cologne, Ghent, Madrid, Brussels, dan Bologna. Lewat bursa seni, para penyelenggara ingin agar seni bisa jadi identitas kota penyelenggara.


Bursa seni kemudian populer pada dekade 1970-an dan 1980-an, serta memicu pegiat seni di kota-kota besar seperti London dan New York untuk menyelenggarakan acara serupa dengan konsep unik. Sayangnya tren ini hanya berlangsung sampai tahun 1990-an akibat situasi perekonomian yang tak stabil, terutama di sejumlah negara Asia. Bursa seni yang masih konsisten diselenggarakan saat itu hanyalah yang sudah mapan seperti Art Basel.

Menurut catatan Bloomberg, skena bursa seni kembali populer pada awal 2000-an. “Bursa seni jadi penting karena ada perubahan besar pada tren orang-orang kaya. Kini yang disebut kaya adalah orang yang masih bekerja. Mereka ingin melihat karya-karya seni dari banyak galeri dan seniman di satu ruang,” kata Marc Spiegler, Global Director Art Basel, organisasi yang kini dipegang oleh perusahaan penyelenggara berbagai ekshibisi.

Sampai hari ini Art Basel Swiss masih jadi bursa seni dengan tarif sewa termahal dengan biaya sewa booth Rp4 juta per meter.

Vox melaporkan bahwa pendapatan yang bisa diperoleh dari tiap galeri yang mengikuti Art Basel di Miami antara $50.000-$100.000. Jumlah yang terbilang tidak spektakuler. Galeri-galeri berskala kecil bahkan bisa saja mendapat keuntungan nol dari acara tersebut. Tak jadi masalah selama relasi baru para pegiat seni dan pembeli karya terus terjalin.

Baca juga artikel terkait SENI atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Joan Aurelia
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight