Menuju konten utama

Arab Saudi Jadi Negara Eksportir Minyak Tapi Kekurangan Air

Arab dikenal sebagai salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia, namun mereka memiliki cadangan air yang sedikit.

Arab Saudi Jadi Negara Eksportir Minyak Tapi Kekurangan Air
Bendera Arab Saudi. AP Photo/Lefteris Pitarakis

tirto.id - Arab Saudi adalah salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia. Ketika orang berbondong-bondong fokus pada pemeliharaan minyak, sebaliknya pada cadangan air yang semakin berkurang justru akan menghancurkan mereka.

Diperkirakan, cadangan air saat ini menurun sebesar 416 persen dari persediaan sebelumnya.

Melansir The Guardian, tingkat konsumsi air rakyat Arab Saudi dua kali lipat air dari rata-rata orang di dunia yaitu 263 liter per kapita setiap hari dan terus meningkat di tengah perubahan iklim yang pastinya akan mengambil dari cadangan air guna tersedianya cadangan air dimasa yang akan datang.

Pada tahun 2016 lalu saja seorang pakar ahli tanah Arab Saudi dari Universitas King Faisal memperkirakan kerajaan hanya mempunyai cadangan air tanah selama 13 tahun lagi.

Sehingga selama beberapa dekade belakangan ini, banyak orang berusaha membuat program untuk menanam tanaman intensif seperti benih gandum di lahan pertanian untuk menyimpan cadangan air bersih.

Manajer salah satu Pabrik Berain di Riyadh, Ahmed Safar Al Asmari tahun ini justru mengungkapkan adanya studi menunjukkan cadangan air di Arab Saudi masih bisa bertahan dan dikonsumsi selama 150 tahun lagi.

Sumber mata air yang terdapat di Arab Saudi ada dua, yaitu laut dan sumur. Karena lokasi Riyadh yang berada di tengah kota, maka sumber air yang digunakan hanyalah sumur.

Sebagaimana diwartakan The Guardian, seiring berjalannya waktu, pada Maret lalu, kerajaan meluncurkan program Qatrah untuk menuntut warga mengurangi penggunaan air mereka, hal ini dilakukan guna mereformasi industri pertanian yang kekurangan air dan mengurangi insentif pemerintah dalam memproduksi sereal.

Jumlah keseluruhan dari lahan pertanian irigasi yang masih belum juga turun disebabkan produsen beralih pada tanaman lain yang lebih menguntungkan dan dapat menghasilkan air lebih banyak.

Salah satunya ialah adanya rencana transformasi nasional Arab Saudi juga dikenal visi 2020 menggunakan air dari bahan bakar fosil dengan menyaring garam air laut untuk dikonsumsi guna mengurangi jumlah air yang diambil dari air bawah tanah untuk pertanian.

Air Laut mengalami Desalinasi

Melansir Independent, sebuah perusahaan intelejen swasta dan analisis geopolitik, Dr. Rebecca Keller mengungkapkan bahwa saat ini Arab Saudi memperbarui sumber air lebih dari 4 kali.

Awalnya air laut di negara ini mengalami desalinasi, di mana prosesnya sangat mahal dan tidak berkelanjutan bahkan limpasan 31 pabrik yang mengoperasikan air cenderung merusak dan membahayakan ekosistem laut.

Arab Saudi adalah negara nomor satu dunia dalam hal volume air desalinasi. Berbeda dari air tawar alami yang membentuk 50 persen dari air konsumsi dan 50 persen ditarik dari tanah. Para peneliti Universitas King Abdul Aziz akan air desalinasi meningkat sekitar 14 persen setiap tahun.

Dorongan penggunaan Tenaga Surya

Baru-baru ini dorongan ke arah penggunaan tenaga surya muncul daripada menggunakan bahan bakar fosil untuk menghilangkan garam, hal ini berarti pabrik komersil pertama diharapkan akan beroperasi paling cepat pada 2021.

Keller mengatakan bahwa penggunaan teknologi desalinasi yang berkembang di Arab Saudi juga dapat mengubah hubungan mereka dengara negara-negara lain di kawasan ini khususnya di Israel. Mereka memproduksi teknologi paling mutakhir untuk desalinasi, terutama pada skala.

Seperti pada dua negara memiliki lebih banyak kesamaan geopolitik dalam hal sikap mereka (Israel dan Arab Saudi) terhadap Iran. Ada banyak ruang untuk hubungan ini tumbuh dan mengambil manfaat dari kerja sama ini.

Tantangan Terberat penyediaan Cadangan Air

Tantangan terberat dari semua ini tetap pada beralih kebiasaan konsumsi untuk menghindari keadaan darurat air yang akan datang. Kerjaan terus maju dengan proyek Laut Merahnya.

Laut Merah yang juga surga wisata seukuran Belgia ada dengan tujuan menarik satu juta pengunjung setiap tahun ke pantai-pantainya yang belum terjamah dan 50 hotel baru.

Konstruksi raksasa seperti itu berarti menumbuhkan penggunaan air dengan perkiraan rangkaian resor 56.000 meter kubik air per hari. Menurut Keller, air adalah kendala alami ketika berada di gurun.

Baca juga artikel terkait MINYAK atau tulisan lainnya dari Yandri Daniel Damaledo

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Yandri Daniel Damaledo
Editor: Agung DH