36 Tahun Bubarnya Led Zeppelin

Apalah Arti Led Zeppelin Tanpa Gebukan Bonzo

Drummer Led Zeppelin John Bonham. GETTY IMAGES
Oleh: Petrik Matanasi - 4 Desember 2016
Dibaca Normal 2 menit
Karena pemuda yang mati muda di usia 32 tahun pada tanggal 25 September 1980 ini, sound drum Led Zeppelin begitu khas dan dahsyat. Setelah kematiannya, Led Zeppelin tinggal legenda rock saja.
tirto.id - Tanpa gebukan drum yang tegas dari John Bonham alias Bonzo, Led Zeppelin kehilangan tempo. Band itu terpaksa memaklumatkan pembubarannya pada 4 Desember 1980. Robert Plant dan personel lain bersolo karir atau ikut proyek musikus lain.

Jikapun mereka manggung bareng, statusnya hanya konser reuni, yang terpaksa memakai drumer cabutan. Jason Bonham tak jarang diajak untuk menggantikan sebentar posisi ayahnya dalam beberapa konser reuni.

Bonzo diakui sebagai drumer karena teknik dan gaya pukulannya yang tegas sehingga lagu Led Zeppelin terasa keras, meski liriknya cengeng.

“Bonzo adalah drumer rock terbaik sepanjang masa. Bonzo memainkannya dari hati,” ujar eks drumer Nirvana yang sekarang pentolan Foo Fighters, Dave Grohl, dalam situs www.fooarchiev.com. Media musik sohor Rolling Stone tahun 2016 menempatkannya di urutan pertama pada jajaran 100 Drumer Terbaik Sepanjang Masa.

Kunto Nurbito, drumer yang dulu biasa bermain rock dan kini bermain reggae bersama band-nya Bakat Terpendam, tak bisa banyak berkata soal Bonzo. Untuk kerasnya pukulan, Kunto memberi nilai 9 untuk powernya. Akurasi pukulan juga 9. Soal bagaimana Bonzo menjiwai permainannya, Kunto juga tak bisa tak menilai 9.

Urusan teknik, Bonzo sudah tingkat dewa. Bagi Kunto, “Bonzo itu ibarat mesin tempur kekuatan tinggi, kalau dalam serial Kapten Tsubasa dia seperti Hyuga, powernya tak ada yang kalahkan.”

Bonzo, menurut pengakuannya, bermain dengan rasa. “Rasa jauh lebih penting dibandingkan teknik,” kata Bonzo dalam buku Led Zeppelin Blak-Blakan yang disusun Dave Lewis dan Paul Kendall. Soal teknik, tentu tak perlu diragukan lagi. Banyak drumer mengakui teknik permainan Bonzo dahsyat. Tapi Bonzo berkata, “kalau kamu terlalu memperhatikan teknik, kamu akan terdengar sama seperti drumer-drumer lainnya. Menurutku, yang penting adalah orisinalitas.”



Bonzo suka drum sejak usia lima tahun. Di usianya yang kelima belas, ayahnya membelikan drum set. Bocah keras kepala dan nakal ini dulunya jago mengolah kayu, sebab keluarganya memang tukang kayu. Di sekolah, dia ikut serta membangun rumah kaca di sekolahnya. Yang diseriusinya saat itu memang hanya kayu dan drum.

Suatu kali gurunya bertanya di kelas, apa yang akan mereka lakukan setelah lulus. Tak ada yang menjawab kecuali Bonzo.

“Aku ingin jadi drumer,” sahutnya, seperti ditulis dalam John Bonham: A Thunder of Drums (2001) yang disusun Chris Welch dan Geoff Nicholls. Belakangan dia mengaku, “niatku begitu besar sampai-sampai aku mau main tanpa dibayar. Aku bahkan cukup lama melakukannya. Tetapi orangtuaku mendukungku."

Itu jawaban yang aneh. Zaman itu, drum bukanlah posisi impian, karena posisinya di belakang. Saat The Beatles mulai jaya di awal 1960an, Bonzo tak menggilai mereka sebagaimana remaja lainnya. Ia lebih terkagum-kagum pada Gene Krupa, seorang drumer jazz sohor.

Kata Mick, adiknya, Gene Krupa adalah Dewa Drum bagi Bonzo.

“Orang-orang tidak sungguh-sungguh memperhatikan drum sebelum Gene Krupa. Dan juga Ginger Baker di dunia musik rock....saat seorang drumer bisa menjadi musikus di barisan depan di sebuah band rock, bukan lagi sesuatu yang menancap di latar belakang dan terabaikan,” kata Bonzo.

Di hari-hari terakhirnya di sekolah, kepala sekolahnya di Lodge Farm County bilang, “John jadi tukang sampah yang baik pun tidak akan bisa.” Untung saja, John Bonham tentu saja tidak pernah jadi tukang sampah. Dia hanya menjalani takdirnya: duduk di belakang drum set dan menggebuknya.

Sambil ikut jadi tukang kayu bersama ayahnya, Bonzo bermain bersama band-band lokal di kampungnya, salah satunya The Avengers.

Sebelum bertemu Robert Plant sang vokalis Led Zeppelin, Bonzo sempat bermain sebagai musisi semi-profesional di Terry Webb and the Spiders. Di The band of Joy, Bonzo bertemu Robert Plant, yang belakangan merekomendasikan Bonzo pada gitaris Jimmy Page dan Peter Grant, mantan manager Yardbirds.

Bersama Page, Plant, basis sekaligus keyboardis John Paul Jones, Bonzo dan band barunya sempat diperkenalkan sebagai New Yardbirds. Pada Oktober 1968, mereka memakai nama Led Zeppelin. Nama itulah yang membawa mereka jadi superstar. Album-album yang mereka rilis laris manis di pasaran.

Seperti personel lain, Bonzo pun ikut kaya raya. Ia kemudian dikenal sebagai pembuat gaduh di mana pun dia berada. Tapi meski garang di atas panggung dan doyan mabuk, dia adalah family man: ayah dan suami yang penyayang.

Kebiasaan buruk mabuk-mabukan pada akhirnya membuatnya mangkat. Tiga bulan sebelum Natal 1980, Bonzo ditemukan tepar setelah menengak 40 botol vodka. Tak ada yang menggantikan pukulan drumnya. Terpaksalah, pada 4 Desember 1980, Led Zeppelin tutup buku.

Baca juga artikel terkait LED ZEPPELIN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Musik)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight