MRT Jakarta

Apakah MRT Jakarta Benar-Benar Bisa Tepat Waktu?

Oleh: Ringkang Gumiwang - 27 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
PT MRT Jakarta perlu membuktikan diri bahwa MRT bisa beroperasi secara tepat waktu sesuai yang dijanjikan.
tirto.id - Warga Jakarta dan sekitarnya masih euforia dengan kehadiran Mass Rapid Transit (MRT) yang dianggap sebagai "peradaban baru" di ibu kota. MRT yang dilokalkan dengan istilah Moda Raya Terpadu memang menjanjikan prinsip ketepatan waktu layanan.


Di negara maju seperti Jepang, ketepatan waktu jadi hal yang wajib. Layanan kereta di Jepang sangat berkomitmen untuk urusan ini. Saat rangkaian kereta MRT datang lebih awal saja publik justru komplain. Pada medio 2018, publik Jepang mengkritik operator JR-West Railway karena tiba lebih awal 25 detik.

“Ketidaknyamanan terhadap penumpang ini sebenarnya tidak dapat dibenarkan,” tegas pihak operator dikutip dari South China Morning Post.

Operator kereta rel Jepang sangat serius dengan ketepatan waktu, Jepang dikenal secara global sebagai negara dengan sistem rel kereta yang tepat waktu, tapi keterlambatan memang masih ada terutama saat jam-jam sibuk di Tokyo. Namun, Indonesia tetap perlu mencontoh dari Jepang soal MRT. Apalagi pendanaan, kontraktor, hingga rangkaian kereta, dan teknologi mengadopsi dari Jepang.

Perlu pembuktian memang, setelah 24 Maret 2019, Presiden Jokowi meresmikan MRT Jakarta dengan nama Ratangga. Ratangga bukan satu-satunya "MRT" di Jakarta. KRL Commuter Line yang mencakup Jabodetabek juga pada prinsipnya adalah berbasis MRT. Keduanya sama-sama menggunakan kereta rel listrik dan memiliki kapasitas angkut yang besar.



Secara umum, memang Ratangga dengan KRL ada perbedaan, antara lain dari aspek pengendalian. Ratangga didesain bisa beroperasi tanpa menggunakan masinis atau otomatis. Sementara KRL masih manual dengan kendali masinis.

Perbedaan lainnya adalah soal jalur rel. Untuk Ratangga, jalur rel yang dipakai hanya untuk Ratangga. Berbeda dengan KRL, setiap hari KRL harus bergantian dengan kereta api jarak jauh atau kereta api barang.

“Sebenarnya KRL itu MRT karena angkutan massal yang memakai kereta rel listrik. Hanya saja masih kurang rapid (cepat),” ujar Aditya Dwilaksana, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bidang Perkeretaapian DKI Jakarta kepada Tirto.

Banyak halangan yang harus dihadapi KRL selama ini saat beroperasi. Misalnya, jalur rel yang digunakan KRL saja sampai dengan saat ini masih harus bergantian dengan moda kereta api lainnya.


Belum lagi, jalur rel KRL juga memotong jalan raya atau biasa disebut dengan perlintasan sebidang. Gara-gara perlintasan sebidang, masinis KRL harus mengurangi kecepatan, sehingga turut berdampak terhadap waktu tiba dan keberangkatan.

Selama ini KRL memang kerap dikeluhkan para penumpangnya. Keluhan yang sering terjadi adalah soal ketepatan waktu. Menurut jadwal, kereta KRL tiba di stasiun seharusnya setiap 5-10 menit. Namun kenyataannya seringkali meleset.

Anggota Commuter Line (CL) Mania Bimo Nugroho mengaku cukup sering merasakan KRL Jabodetabek yang waktu tibanya tidak tepat waktu. Rata-rata waktu keterlambatan sekitar 10-20 menit. Pernah juga merasakan terlambat sampai 45 menit atau 1 jam.

“Saya menjadi pengguna KRL sejak 2014 sampai sekarang. Dan saya lihat, memang semakin parah [terlambat]. Jadi bukan hal yang aneh lagi,” kata Bimo.

Infografik MRT vs KRL
undefined

Pembuktian MRT Jakarta


Peluang Ratangga tepat waktu sangat tinggi. Apalagi, dua jalur rel yang digunakan Ratangga terbilang steril. Tidak berbagi jalur dengan kereta lainnya, dan juga tidak melintas sebidang dengan jalan raya.

Operator MRT, yakni PT MRT Jakarta optimistis MRT bisa dioperasikan secara tepat waktu. “Kami berkomitmen penuh agar MRT berjalan tepat waktu,” kata Division Head Corporate Secretary PT MRT Jakarta Muhammad Kamaluddin kepada Tirto.

Sama hal seperti KRL, PT MRT Jakarta menargetkan waktu tiba kereta dari Bundaran HI sampai dengan Lebak Bulus mencapai 30 menit. Di setiap stasiun, kereta akan tiba setiap 5 menit sekali untuk jam sibuk, dan 10 menit sekali untuk jam tidak sibuk.


Untuk mengejar waktu 5 menit, jumlah rangkaian kereta yang dioperasikan mencapai 14 unit (1 unit=6 rangkaian gerbong). Sementara untuk mengejar waktu 10 menit, jumlah rangkaian kereta yang dipakai hanya sebanyak 7 unit. Adapun, MRT Jakarta menyiapkan dua unit cadangan.

Selain itu juga, jumlah rute MRT saat ini hanya ada rute Bundaran HI-Lebak Bulus dengan panjang 16 km, dan melewati 13 stasiun. Berbeda dengan KRL yang jaringan lebih jauh dan lebih kompleks.

Jumlah rute KRL saat ini mencapai lima rute dengan panjang jaringan hingga 418,5 km. Setiap hari, KRL melayani 79 stasiun di seluruh Jabodetabek, Banten dan Cikarang dengan kekuatan armada sebanyak 900 unit rangkaian kereta.

Saat beroperasi komersial mulai 1 April 2019 nanti, tak ada alasan bagi Ratangga untuk tak tepat waktu. Bila persoalan ketepatan waktu masih bermasalah, maka MRT Jakarta tak ada bedanya dengan KRL Commuter Line.

Baca juga artikel terkait MRT JAKARTA atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Ekonomi)


Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Suhendra