Apakah Laki-Laki dan Perempuan Bisa Bersahabat?

Ilustrasi pertemanan. FOTO/Istock
Oleh: Patresia Kirnandita - 22 April 2017
Dibaca Normal 3 menit
Sejumlah studi menemukan bahwa orang-orang berlatar belakang jenis kelamin berbeda sulit sekali menjalin relasi tanpa niat seksual atau romantis.
tirto.id - Saat duduk di bangku SMA dulu, saya sering mendengar seloroh teman-teman, kalau dua orang berlawanan jenis berdekat-dekatan, maka akan hadir sosok yang ketiga, yakni setan. Belum lepas dari ingatan pula ketika hampir seisi kelas bergunjing dan menyoraki pelajar laki-laki dan perempuan yang kerap tampak jalan berdua, mengobrol intens sampai lupa berkumpul dengan sekelompok teman sesama jenisnya, atau ketika si pelajar laki-laki kedapatan berulang kali mengantar teman perempuannya pulang.

Banyak orang yang menghakimi relasi perempuan dan laki-laki tak pernah murni pertemanan saja. Selalu ada tujuan romantis atau intensi-intensi menggoda secara seksual dari jalinan pertemanan tersebut. Salah satu orang yang mengamini asumsi ini adalah pastor dari Chicago, Hans Fiene, yang sempat dirundung masyarakat lantaran menulis di The Federalist bahwa laki-laki dan perempuan tidak akan pernah bisa berteman.

Tidak hanya itu, dilansir situs Independent, Fiene juga menyatakan bahwa perempuan harus berhenti menjebak laki-laki dalam friend zone. Alasannya—yang bagi sebagian orang terdengar mengada-ada—, adalah untuk mencegah penurunan angka kelahiran di AS lebih jauh lagi. “Friend zone harus dilenyapkan demi masa depan kita. Perempuan harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak bisa mempunyai teman laki-laki,” imbuhnya.

Di tengah dominasi heteronormativitas, tindak-tanduk perempuan kepada laki-laki dan sebaliknya tidak pernah terlepas dari aturan tak tertulis dari masyarakat. Perempuan semestinya begini, laki-laki tidak boleh begitu, perempuan tidak bisa melakukan hal tertentu lantaran ranah tertentu seharusnya untuk laki-laki bukanlah hal yang asing bagi masyarakat dari aneka latar budaya.

Fiene kemudian memanfaatkan normativitas ini untuk menguatkan argumennya bahwa sekalipun perempuan gagal ‘membangun pertemanan yang diinginkan rata-rata laki-laki’, kaum Adam tetap menyukai kehadiran perempuan selama mereka menampilkan nilai-nilai femininitas. Pada pengujung artikelnya, Fiene menyatakan dukungannya terhadap institusi perkawinan dengan menyerukan kepada perempuan, “Beranilah. Menikahlah.”

Apa Kata Penelitian?

Rupanya, tidak cuma Fiene saja yang berpikir bahwa perempuan dan laki-laki tak bisa bersama sebagai teman saja dan menganggap relasi platonik—di mana dua orang berhubungan dekat tanpa menceburkan diri dalam hasrat seksual—sebagai mitos belaka. Sejumlah peneliti pun mengafirmasi asumsi ini lewat observasi beberapa pasangan teman berbeda jenis kelamin.

Mengusung judul Men and Women Can't Be "Just Friends", Adrian F. Ward menulis di situs Scientific American argumen-argumen mengapa kedua jenis kelamin sulit benar-benar menjalin pertemanan. Bisa saja dalam keseharian perempuan dan laki-laki tampak bersanding tanpa hubungan romantis, baik di ranah pekerjaan maupun pergaulan kasual. Walaupun demikian, hal ini tidak menegasikan kemungkinan adanya dorongan-dorongan seksual yang jauh dipendam kedua belah pihak.

Ward juga mengutip studi yang dilakukan Bleske-Rechek et.al. (2012) terhadap 88 pasang orang terkait ketertarikan antarjenis kelamin yang potensial terjadi ketika laki-laki dan perempuan memulai hubungan sebagai teman. Temuan mereka menunjukkan bahwa laki-laki cenderung lebih tertarik (secara romantis) kepada perempuan dibandingkan sebaliknya. Tidak sebatas itu saja, laki-laki juga sering kali menganggap teman perempuan mereka merasakan hal yang sama.

Hasil penelitian Bleske-Rechek et.al. bisa saja dianggap cuma meneguhkan stereotip bahwa laki-laki selalu haus seks dan perempuan adalah sosok yang naif. Akan tetapi, mereka ingin mengetengahkan ide bahwa dalam satu hubungan pertemanan, kedua jenis kelamin bisa memiliki persepsi dan perlakuan yang berbeda. Hal ini seiring dengan tulisan Radhika Sanghani di The Telegraph yang menyatakan, di luar intensi seksual, definisi pertemanan menurut laki-laki dan perempuan juga berpengaruh terhadap bagaimana hubungan akan berujung.

Dari Friend Zone sampai Friends with Benefit

Perempuan umumnya senang meromantisasi pertemanan. Menjaga komunikasi intens dengan kawan-kawan yang berdomisili jauh via telepon atau menganggap wajar kontak-kontak fisik semacam pelukan atau rangkulan adalah beberapa contoh bentuk pertemanan antarperempuan. Mayoritas laki-laki tidak demikian. Lazimnya, komunikasi hingga larut terjadi ketika mereka berkumpul di tempat bermain atau berolahraga, minum, atau ketika berkunjung ke rumah satu sama lain.

Ketika perempuan mendapatkan kenyamanan saat berteman dengan laki-laki sebagaimana didapatkannya dari teman-teman perempuan lain, ia pun akan lebih leluasa membuka diri terhadap temannya tersebut supaya curahan afeksi dapat tersalurkan kepada satu sama lain. Di lain sisi, laki-laki tak jarang menginterpretasi kenyamanan berteman perempuan sebagai sinyal-sinyal ketertarikan seksual atau romantis sehingga berharap mereka lebih dari sekadar teman. Pada titik inilah seseorang kerap merasa terjebak dalam friend zone di mana ekspektasi satu pihak tidak dihiraukan oleh pihak lainnya menurut Jeremy Nicholson M.S.W., Ph.D. dalam situs Psychology Today.

Meski studi menunjukkan kecenderungan laki-laki untuk berekspektasi berlebih dalam menjalin hubungan pertemanan dengan perempuan, dalam praktiknya tidak sedikit pula posisi kedua jenis kelamin ini terbalik. Perempuan juga bisa mengalami mispersepsi ketika laki-laki memberinya perhatian ekstra dan mulai berharap hubungan mereka melibatkan asmara, sementara di posisi laki-laki, bisa saja mereka hanya menganggap teman perempuannya tandem yang asyik untuk mengobrol tentang apa pun atau sekadar sobat minum di akhir pekan alih-alih larut dalam kesepian.

Beberapa pihak menyerah berhubungan ketika menyadari dirinya terjerumus dalam friend zone. Sementara, sebagian lainnya justru menikmati predikat ‘teman’ sebagai landasan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari lawan jenis. Ada banyak laki-laki dan perempuan yang bersepakat untuk tetap tidak berkomitmen sebagai pacar sekalipun mereka telah terlibat dalam aktivitas seksual. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa studi menunjukkan adanya konsekuensi perubahan perasaan dan keterikatan begitu dua orang melakukan hubungan badan. Pertanyaan berikutnya, siapkah kedua pihak menghadapi ini jika mereka tetap ingin mempertahankan status pertemanan?

Tidak ada yang salah dengan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Bermacam keuntungan yang membuat psikologi seseorang bertumbuh kembang bisa diperoleh dari hal ini seperti bertukar cerita dan pengalaman dari perspektif berbeda. Tak peduli bagaimana orang luar memandang, mengabaikan temuan-temuan saintifik yang memojokkan relasi platonik nan tulus dari kedua belah pihak, perempuan dan laki-laki sah-sah saja bersandingan dengan predikat sahabat.

Asalkan kenyamanan dan kesepakatan jadi keutamaan, hubungan pertemanan dua lawan jenis patut dipertahankan. Pun jika keduanya sama-sama menyimpan rasa lebih yang menuntun pada kisah romansa bak Anjali dan Rahul dalam Kuch Kuch Hota Hai, tak perlu malu atau merasa diri naif dalam memandang hubungan pertemanan dengan lawan jenis.

Membuat ‘kontrak hubungan’ di awal memang ada baiknya, tetapi bukan berarti menutup pintu buat segala kemungkinan yang ada. Tak ada yang tak berubah di bumi ini, emosi dan persepsi pada pagi hari bisa jadi berputar 180 derajat saat malam menjelang, bukan?

Baca juga artikel terkait PEREMPUAN atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight