Apakah Gempa Berulang di Mentawai Bagian dari Gempa Pembuka?

Oleh: Yulaika Ramadhani - 6 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Meski tak melihat gempa Mentawai sebagai gempa pembuka, Daryono menekankan pentingnya mitigasi.
tirto.id - Kepulauan Mentawai diguncang gempa bumi beberapa kali pada Sabtu, 2 Februari 2019. Gempa bumi teknonik berkekuatan 5,3 Magnitudo dan 6,0 Magnitudo mengguncang Kabupaten Kepulauan Mentawai yang diikuti gempa susulan lebih dari 50 kali.

Kejadian ini disusul gempa lanjutan pada hari Selasa (5/2/2019) kemarin yang mengguncang wilayah Kabupaten Nias Selatan.

Terkait hal ini, peneliti di BMKG dan Vice President Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Divisi Mitigasi Bencana Kebumian Daryono menyebut BMKG terus memonitor terkait meningkatnya aktivitas gempa di mentawai ini.

Terkait dugaan serangkaian gempa tersebut adalah gempa pembuka atau foreshocks, Daryono masih menyangsikannya

"Ada pakar yang menduga itu bagian dari foreshocks (gempa pembuka). Tapi menurut saya bukan, jika dilihat aktivitas seismik dan kokasi seismisitasnya," tutur Daryono kepada Tirto.

Menurut keterangannya, sejumlah praktisi kebencanaan dan media menanyakan apakah kedua aktivitas gempa tersebut merupakan gempa pembuka (foreshocks) di Segmen Mentawai.

"Tentu tidak mudah untuk mengatakan sebuah aktivitas gempa disebut sebagai gempa pembuka atau bukan," katanya.

Ia juga menjelaskan, ada beberapa karakteristik gempa pembuka. Gempa pembuka biasa terjadi pada zona dengan seismisitas rendah atau secara statistik kegempaan memiliki nilai b-value rendah.

"Jika kita amati wilayah Mentawai memang memiliki tingkat aktivitas kegempaan yang relatif rendah," terangnya.

Karkateristik berikutnya adalah adanya migrasi titik hiposenter gempa yang semakin cepat menuju titik inisiasi lokasi estimasi gempa utama (mainshock). Semakin mendekati waktu terjadinya gempa utama, maka aktivitas gempa pembukanya akan makin banyak.

Ciri lain adalah munculnya aktivitas gempa-gempa yang mirip atau disebut sebagai repeaters.

Repeaters merupakan serangkaian gempa yang terus terjadi secara berulang-ulang di tempat yang relatif “sama” di suatu zona tertentu dekat lokasi yang diestimasi sebagai gempa utama.

Fenomena tersebut menggambarkan adanya proses pembebanan (loading) yang semakin lama semakin intensif sebelum gempa utama terjadi. Analoginya mirip kalau kita mau mematahkan sepotong kayu, secara perlahan-lahan ada retakan-retakan kecil di sekitarnya sebelum benar-benar patah.

"Sedangkan untuk kasus Kepulauan Mentawai, saat ini meski nilai b-value cenderung rendah, belum terlihat ada tanda-tanda atau karakteristik gempa pembuka seperti yang tersebut di atas. Kita harus terus melakukan monitoring aktivitas gempa di Segmen Mentawai secara intensif," terangnya.

Daryono menjelaskan, jika memperhatikan aktivitas kegempaan Kepulauan Batu dengan segmen megathrust Sumatera, tampak lokasi pusat gempa yang aktif terletak pada batas antara Segmen Mentawai yang belum lepas energinya dan segmen Nias yang sudah lepas energinya sebagai gempa 8,7 SR pada tahun 2005.

"Dengan memperhatikan lokasi dan karakter aktivitasinya blm menunjukkan gempa pembuka," ujarnya.

Sementara itu, lanjutnya, gempa berkekuatan 6,1 SR yang terjadi pada Sabtu petang 2 Februari 2019 lalu juga terletak pada batas antara Segmen Mentawai yang belum lepas energinya dan Segmen Enggano yang sudah lepas energinya sebagai gempa M=8,4 pada 2007 dan gempa M=7,7 pada 2010.

Hingga Selasa (5/2/2019), gempa susulan yang terjadi di sebelah barat Pagai sudah mencapai sebanyak 116 kali.

"Mengacu kepada peristiwa gempa terbaru di Pagai dan Kepulauan Batu di atas, tampak aktivitas gempa hanya terjadi pada tepi ujung selatan dan utara dari Segmen Mentawai," katanya.

Terkait meningkatnya aktivitas kegempaan pada Segmen Mentawai dan sekitarnya akhir-akhir ini, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan waspada, tidak perlu takut dan panik. Secara alamiah, gempa Mentawai suatu saat akan terjadi, tapi tak bisa dipastikan kapan.

"Di dalam ketidakpastian ini, seluruh lapisan masyarakat seyogyanya harus menyiapkan diri untuk terus meningkatkan upaya mitigasi. Bangunan rumah harus didesain kuat untuk menahan guncangan gempa. Masyarakat juga harus mengerti bagaimana cara selamat saat terjadi gempa dan tsunami," imbuhnya.


Baca juga artikel terkait GEMPA MENTAWAI atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Maulida Sri Handayani