Valuasi Startup

Apakah Era Bakar Uang Startup Telah Usai?

Ilustrasi UBER Lite yang telah rilis untuk memeberikan kemudahan dalam pengoperasian yang lebih ringan. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 25 September 2019
Dibaca Normal 4 menit
Startup dengan label unicorn tidak lagi mengandalkan kucuran dana investor tapi mulai mencari potensi pendapatan sendiri.
tirto.id - Kenyataan pahit perlahan menghampiri perusahaan-perusahaan rintisan atau yang lebih dikenal sebagai startup. Sejumlah startup besar di penjuru dunia harus mengalami perampingan bisnis di tengah geliat ekonomi digital yang masih terus melaju.

Belum lama, Zomato, startup aggregator restoran asal India memberhentikan 540 karyawan atau setara 10 persen dari total karyawan perusahaan. Mengutip Economic Times, ini merupakan putaran kedua, setelah sebelumnya PHK dilakukan pada Agustus 2019 terhadap 60 orang karyawan startup unicorn tersebut.

Startup lain yang telah IPO di bursa saham New York yaitu Uber, juga melakukan langkah yang sama. Aplikasi ride hailing ini kembali memberhentikan 435 karyawan, masing-masing dari tim teknik dan produk. Manajemen Uber kepada CNN Business, mengaku pengurangan 8 persen karyawan di divisi tersebut dilakukan dalam rangka 'mengatur ulang' perusahaan.

PHK dilakukan karena Uber mengalami kerugian senilai USD5,24 miliar sepanjang kuartal II/2019, yang merupakan kerugian terbesar perusahaan tersebut sejauh ini. Padahal di saat yang sama, pendapatan Uber periode yang sama naik 14 persen menjadi USD3,17 miliar.

"Kami mendorong perusahaan untuk mencapai titik impas (break even point/ BEP) dan berusaha memperkecil kerugian ke depan karena kami melakukan investasi yang agresif sementara ini. Tidak ada keraguan bahwa pada akhirnya bisnis Uber akan menjadi bisnis impas dan menguntungkan," jelas CEO Uber Dara Khosrowshahi, dilansir USA Today.

PHK di Bukalapak

Pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan juga melanda salah satu unicorn di Indonesia, yaitu Bukalapak. 'Penataan internal perusahaan' menjadi alasan utama di balik strategi bisnis tersebut. Chief Strategy Officer Bukalapak Teddy Oetomo kepada sejumlah media termasuk Tirto menjelaskan, PHK dilakukan kepada kurang dari 100 orang karyawan.

Pengurangan karyawan dilakukan agar bisnis perusahaan bisa tetap berlangsung dan mampu mencapai BEP. Bukalapak berambisi menjadi startup unicorn pertama yang meraih titik impas investasi setelah berulang kali mendapat suntikan dana hingga jutaan dolar AS dari investor.

"[PHK] Ini hanya satu dari berbagai langkah sustain yang dilakukan Bukalapak, lainnya adalah system upgrade, pembenahan SOP besar-besaran, dan sebagainya. Targetnya adalah keberlangsungan bisnis perusahaan dengan BEP dan mendapat keuntungan,” jelas Teddy belum lama ini.

Data iPrice menyebut, jumlah karyawan Bukalapak per kuartal II/2019 mencapai 2.696 orang atau naik hampir dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebanyak 1.500 orang. Bukalapak juga menjadi perusahaan e-commerce dengan jumlah karyawan terbanyak ke-empat di Indonesia setelah Tokopedia, Shopee dan Mapemall yang masing-masing sejumlah 3.144 karyawan, 3.107 karyawan dan 2.933 karyawan.

Berbagai langkah pembenahan internal itu dilakukan agar perusahaan juga tidak perlu berlebihan atau eksesif dalam melakukan pendanaan alias fundraising. Dengan nilai transaksi mencapai USD5 miliar per tahun, menurut Teddy sudah saatnya bagi Bukalapak untuk membuktikan diri menjadi perusahaan yang valid dan mampu melakukan monetisasi bisnis.

Teddy mengklaim, laba kotor atau gross profit semester pertama Bukalapak pada 2019 meningkat tiga kali lipat ketimbang 2018. Perusahaan juga telah mengurangi setengah kerugian pada pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) dalam delapan bulan terakhir.


Berdasarkan penelusuran di laporan keuangan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) (PDF), kinerja keuangan Bukalapak sedikit tertahan di enam bulan pertama 2019. Pendapatan turun 41,28 persen menjadi hanya Rp69,77 miliar dibanding periode yang sama 2018 yang mencapai Rp119,05 miliar.

Sementara, beban pokok pendapatan melonjak nyaris 1000 persen dari Rp3,84 miliar menjadi Rp37,73 miliar pada Juni 2019. Utang usaha melonjak dari Rp56,8 miliar di semester I 2018 menjadi Rp84,31 miliar per Juni 2019.

Piutang usaha berkurang dari Rp34,26 miliar pada semester I 2018 menjadi Rp18,99 miliar di semester I 2019. Sebagai informasi, sebesar 35,18 persen saham Bukalapak dimiliki oleh KMK, yang merupakan anak usaha EMTK. EMTK memiliki 99,9 persen saham KMK.

Strategi Bukalapak lainnya dalam rangka mengulik potensi pendapatan adalah dengan mengurangi berbagai program 'bakar uang' yang tidak efektif dan efisien, termasuk mengurangi program promosi yang tidak tepat sasaran. Meski demikian, Teddy enggan buka-bukaan mengenai berapa banyak dana yang digelontorkan Bukalapak untuk berbagai promosi.

"Jumlah uang yang sudah berhasil kami raising tidak sampai sepertiga sampai seperlima kompetitor lain. Kalau dibilang parah banget bakar duitnya, menurut saya, Bukalapak engga parah-parah banget. Setiap tahun biaya promo yang berasal dari sales and marketing mengalami kenaikan, tapi sekarang sudah berkurang seiring efisiensi yang kami lakukan," ungkap Teddy.


Fantasi yang Realistis

PHK yang dilakukan berbagai startup dengan label unicorn ini sedikit banyak menghancurkan fantasi anak muda milenial bahwa startup tidak mungkin mengurangi karyawan. Padahal, pengurangan karyawan bisa dilakukan oleh perusahaan manapun mulai dari startup sampai dengan perusahaan konvensional besar.

Ketua Umum Indonesia E-commerce Association (idea) Ignatius Untung menilai, PHK yang dilakukan Bukalapak sekaligus menjadi bentuk penyadaran dan pengingat bahwa bisnis perusahaan rintisan bisa berdarah-darah.

Tanpa adanya PHK pun, penting untuk disadari bahwa startup merupakan perusahaan rintisan yang memiliki masa depan yang 'abu-abu.' Hal ini karena dana operasional yang dimiliki startup terbatas dan kemungkinan hanya cukup untuk jangka pendek semisal 1-3 tahun.

Memang, dana segar jutaan dolar AS bisa didapat startup dari fundraising, tapi itu pun dengan catatan performa bisnis yang bagus. Jika tidak, tentu tidak ada investor yang melirik dan berani menanamkan modal di startup tersebut.

"Ini yang harus disadari milenial bahwa dana yang dimiliki startup bisa saja habis. Ke depan, bisa terjadi PHK di startup lain dan ini adalah hal biasa bagi sebuah perusahaan. Contohnya banyak perusahaan ritel konvensional yang tutup dan PHK karyawannya. PHK bisa dilakukan perusahaan apa saja,” jelas Untung kepada Tirto.

Lebih lanjut, Untung mengapresiasi langkah Bukalapak untuk mencari sumber pendapatan sendiri. Sebab, pelaku usaha rintisan yang memiliki basis pasar kuat dan valuasi besar, akan beranjak untuk memonetisasi bisnis. Tujuannya adalah untuk menghindari risiko kegagalan saat penggalangan dana baru atau fundraising.

Analoginya begini. Semakin besar valuasi startup, maka kebutuhan biaya investasi juga semakin banyak. Saat bersamaan, tidak mudah mencari investor yang bisa memberikan dana besar yang diharapkan startup tersebut.

"Jika ini terjadi, maka startup harus bisa hidup dengan uang yang ada. Di situlah titik di mana perusahaan sudah harus bisa setidaknya balik modal atau BEP bahkan bisa dapat laba," sebut Untung.


Fenomena monetitasi bisnis ini menurut Untung bisa menular kepada startup lain termasuk yang belum memiliki predikat unicorn. Sebab, jika praktik 'bakar uang' memiliki efek domino maka praktik mencapai BEP dan mendapat cuan juga bisa menular di kalangan perusahaan rintisan. Dengan begitu, praktik 'bakar uang' juga bisa lebih diminimalisir bagi startup.

"Saat ini menjadi momentum pembuktian. Jika sebelum-sebelumnya gencar praktik bakar uang dengan memberikan diskon yang besar, maka sekarang pasar juga harus diuji bahwa dengan diskon dihentikan atau dikurangi, apakah loyal konsumen masih tetap ada. Ini adalah momentum pengujian tersebut," ungkap Untung.

Dengan tujuan akhir startup melakukan IPO, maka berbagai klaim valuasi harus bisa diuji. Oleh sebab itu, valuasi tidak hanya mendasar pada hitungan gross merchandise value (GMV) saja. GMV merupakan akumulasi nilai pembelian atau order dari pengguna aplikasi dalam periode tertentu.

Kucuran dana yang diberikan investor pun, menurut Untung, tidak sekedar memperhatikan GMV tetapi juga profitabilitas dan hal-hal berkelanjutan lainnya dari sebuah startup. Oleh karena itu, jika pembukuan startup tidak memuaskan, maka tak mengherankan saat IPO, pasar bisa merespon secara negatif dan valuasi bisa terpotong seperti yang dialami oleh Uber dan Lyft di AS. WeWork bahkan sudah memangkas valuasinya menjelang rencana IPO mereka.

"Karena investor juga melihat, dana hasil fundraising yang didapat oleh start up digunakan untuk apa saja. Jika dana hanya digunakan untuk bakar uang demi membesarkan valuasi, tentu pada akhirnya tidak akan baik," jelas Untung.

Baca juga artikel terkait BISNIS STARTUP atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight