Apakah Benar Anak Tunggal Cenderung Manja Berlebihan?

Oleh: Nurcholis Maarif - 5 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Ketiadaan saudara bukan satu-satunya faktor dalam pertumbuhan karakter anak tunggal, baik dalam mengasah kemampuan sosial maupun kognitifnya.
tirto.id - Anak tunggal sering kali dianggap sebagai seseorang yang cenderung manja. Namun, beberapa penelitian menunjukkan saudara bukan satu-satunya faktor dalam pertumbuhan karakter anak tunggal, baik dalam mengasah kemampuan sosial maupun kognitifnya.

Pada 1986, EW Bohannon dari Universitas Clark menerbitkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa anak tunggal atau anak yang tidak memiliki saudara cenderung manja berlebihan. Kesimpulan ini Bohannon ambil dari 196 kasus dari 200 kuisioner yang menjadi subjek penelitiannya seperti dikutip Scientific American.

Banyak yang setuju dengan penelitian Bohannon. Apalagi sejak awal abad ke-20, banyak juga orang tua yang khawatir saat anak-anak yang tumbuh tanpa saudara menyebabkan mereka menjadi lebih sensitif.

Penelitian Toni Falbo pada abad ke-21 menentang kesimpulan Bohannon yang mengatakan bahwa seorang anak akan tumbuh lebih baik saat memiliki saudara. Psikolog dari Universitas Texas tersebut memeriksa lebih dari 200 studi dan survei yang dilakukan Bohannon dan menyimpulkan bahwa karakteristik anak dengan atau tanpa saudara tidak jauh berbeda.

Menurut Toni, satu-satunya perbedaan karakteristik anak terletak di ikatan yang lebih kuat dengan orang tua mereka dibandingkan dengan anak yang memiliki saudara.

Temuan Toni hampir sama dengan temuan penelitian Andreas Klocke dan Sven Stadtmüller dari Universitas Frankfurt pada 2018. Klocke dan Stadtmüller menggunakan data longitudinal dari 10 ribu siswa di Jerman untuk melihat keistimewaan anak sulung, anak tunggal, dan mereka yang memilik saudara.

Hasilnya, hanya 25 persen anak-anak Jerman yang menganggap hubungan dengan orang tua mereka positif. 24 persen anak sulung, 20 persen anak tengah, dan 18 persen anak bungsu juga mengatakan memiliki hubungan yang sangat baik dengan orang tua mereka.

Pada 2001, Lisen Robert dari Universitas Western Carolina dan Priscilla Blanton dari Universitas Tennese Knoxville meminta orang-orang dewasa yang lahir sebagai anak tunggal untuk mengingat masa kecil mereka.

Robert dan Blanton menemukan banyak dari orang dewasa tersebut menyayangkan mereka tidak tumbuh dengan teman bermain yang dapat dipercaya seperti saudara.

Namun, faktanya anak-anak usia pra-sekolah seringkali menemukan teman khayalan sebagai teman bermain maupun berbagi.

Teman khayalan bukanlah sesuatu yang dikhawatirkan karena permainan kreatif dengan teman khayalan dapat mengembangkan pengembangan sosial dan kemampuan untuk berkomunikasi.

Selanjutnya, Jiang Qiu meneliti 126 siswa tanpa saudara dan 177 siswa yang memiliki saudara di Cina dalam hal kemampuan berpikir dan kepribadian. Penelitian Qiu merespons kebijakan satu anak yang telah diterap di China selama empat dekade.

Hasil dari survei yang dilakukan Qiu menunjukkan anak tanpa saudara memiliki skor rendah dalam hal seberapa toleran mereka. Pada tes kreativitas, Qiu juga menemukan hanya anak tanpa saudara yang memiliki kemampuan berfikir yang baik, fleksibel, dan dapat menyelesaikan masalah dengan lebih kreatif.

Qiu menjelaskan bisa jadi anak tanpa saudara atau anak tunggal sering harus bergantung pada diri mereka sendiri dan dengan demikian dipaksa untuk berfikir dan kreatif.

Qiu mengkonfirmasi penjelasannya dari tes MRI untuk melihat perbedaan struktur otak antara anak tanpa saudara dan anak yang memiliki saudara. Pada area kortikal terkait kreativitas dan imajinasi, Qiu menemukan lebih banyak area abu-abu (yang berhubungan dengan kecerdasan) hanya pada anak tunggal. Qiu juga menemukan lebih sedikit sel abu-abu di otak bagian depan anak tunggal yang menunjukkan nilai toleransi yang lebih rendah.

Alih-alih mencari saudara untuk anak-anak, peran orang tua dalam menyeimbangkan kemampuan sosial dan kognitif anak menjadi lebih penting, apalagi mereka yang hanya memiliki satu anak. Dan sepertinya, lingkungan penuh kasih sayang dan ketenangan dalam keluarga lebih penting daripada jumlah anak dalam keluarga.

Terkait hal ini, psikolog anak, Probowatie Tjondronegoro menyampaikan, anak tunggal memiliki kecenderungan untuk selalu ingin menjadi pusat perhatian, serta menganggap kedudukannya yang paling benar.

Meski begitu, Probo menyampaikan bahwa karakter itu hanyalah karakter dasar anak yang biasanya akan muncul ketika mereka berkonflik. Karakter anak juga dapat dibentuk dari lingkungan tinggal mereka. Orangtua yang sadar biasanya akan mengajarkan kemandirian pada sang buah hati.


Baca juga artikel terkait ANAK TUNGGAL atau tulisan menarik lainnya Nurcholis Maarif
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Nurcholis Maarif
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight