Apa yang Terjadi Jika Kim Jong-un Benar-Benar Meninggal?

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi Pertanian No. 1116 KPA Unit 810, dalam foto tidak bertanggal yang disiarkan oleh Pusat Agensi Berita Korea Utara (KCNA), Selasa (8/10/2019). ANTARA FOTO/KCNA via REUTERS/hp/cfo
Oleh: Ahmad Zaenudin - 2 Mei 2020
Dibaca Normal 4 menit
Pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un dikabarkan tengah sekarat.
“Saya pikir berita itu adalah berita bohong yang dibuat CNN,” kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, mengomentari pemberitaan soal memburuknya kesehatan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un.

CNN, pada 21 April lalu, menurunkan laporan soal kesehatan Kim Jong-un yang disebut berada “dalam bahaya besar,” pasca operasi-kardiovaskula sepuluh hari sebelumnya. Laporan itu mengutip “pejabat senior AS yang memiliki informasi terkait Korea Utara”. Lantas, dugaan buruknya kondisi kesehatan Kim diperkuat dengan ketidakmunculan sang pemimpin tertinggi di hadapan publik selama dua pekan terakhir. Ia juga tidak hadir dalam perayaan ulang tahun kakeknya, Kim Il-sung , pada 14 April lalu.

Bak virus, laporan CNN itu kemudian menyebar dan banyak pemberitaan yang sukar dipercaya keabsahannya kemudian muncul. Newsweek, misalnya, memperkirakan Kim Jong-un menghilang dari muka publik "karena ia ingin menghindar dari paparan virus corona". Reuters melaporkan “Cina mengirimkan tim medis” ke Korea Utara untuk membantu menangani penyakit yang diderita Kim.

38 North, lembaga yang rajin mengulas apapun soal Korea Utara, bahkan menurunkan laporan tentang posisi Kim Jong-un berdasarkan citra satelit dan menyebut bahwa pemimpin itu kini tengah berada di Wonsan, tempat yang lazim digunakan persiapan peluncuran misil Korea Utara.

“Saya pikir, semua pemberitaan soal kesehatan Kim Jong-un tidaklah benar,” kata Trump kemudian. “Jelas, saya berharap Kim tidak sedang bermasalah dengan kesehatannya. Dan ingatlah, Anda mungkin tengah berperang dengan Korea Utara saat ini jika saya tidak terpilih menjadi presiden,” tutupnya.

Sementara itu, Leif-Eric Easley, profesor pada studi internasional Ewha Womans University, Seoul, sebagaimana dikatakannya pada Kepala Biro Seoul New York Times, Choe Sang Hun, menyebut bahwa sumber utama narasi-narasi sensasional tentang kesehatan Kim Jong-un muncul karena “kurangnya informasi yang dapat diandalkan atas tertutupnya Korea Utara pada dunia luar”.

Menurut Easley, sah-sah saja Kim tidak muncul ke hadapan publik untuk waktu tertentu. Sebagai catatan, pada 2014 silam Kim pernah lebih dari sebulan tidak muncul di hadapan publik. Kala itu, bukan desas-desus kematian yang muncul, melainkan kudeta. Bagai aktor di film-film Hollywood, Kim kemudian muncul, berjalan kaki dengan menopang tongkat. Intelijen Korea Selatan menyatakan ia baru sembuh usai menjalani operasi pergelangan kaki.

Namun, Easley menekankan ketidakhadirannya Kim secara terus-menerus akan membuat Korea Utara tidak stabil. "Karena makin banyak orang di dalam dan di luar negeri bertanya-tanya apakah dia cacat atau mati,” ujar Easley. Hal inilah yang menurut Easley mengikis legitimasi kepala pemerintahan Korea Utara. Terlebih, di saat Kim absen di ruang publik, adik perempuannya, Kim Yo-jong, terlihat memerankan peran yang lebih banyak dari biasanya.

Meskipun kabar-kabar yang menyatakan Kim Jong-un tengah berada dalam kondisi kritis--bahkan dinyatakan telah meninggal dunia--sukar diyakini karena ketiadaan sumber kredibel. Thae Yong-ho, mantan diplomat Korea Utara yang kini membelot ke Selatan menyatakan pada 2011, tatkala ayahanda Kim Jong-un, Kim Jong-il, meninggal dunia, tidak ada seorang pun di kantor kementerian Luar Negeri Korea Utara dan kantor-kantor pemerintahan lain yang mengetahui kematian pemimpin mereka hingga para pegawai negeri dan pasukan Korea Utara dikumpulkan di auditorium masing-masing dan diberitahu bahwa sang supreme leader telah meninggal.

Lantas, bagaimana jika Kim Jong-un benar-benar tengah dalam kondisi yang buruk atau bahkan telah meninggal? Siapa yang akan menjadi penerus? Apa yang terjadi dengan program nuklir Korut? Bagaimana pula nasib reunifikasi Korea pasca-kepergian Kim Jong-un?

Bukan Gosip Baru

Pada 1986, publik Korea Selatan dan Utara heboh setelah sebuah koran di Korea Selatan menyatakan pendiri republik sekaligus pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Il-sung , tewas karena serangan bersenjata.

Dua hari berselang, berita itu dibantah. Sosok yang dikabarkan tewas tiba-tiba muncul, menyapa sekaligus mengabari kabar publik Korea Utara (dan Korea Selatan) bahwa ia baik-baik saja.

Lebih dari dua puluh tahun berselang, pemberitaan serupa menyasar anak sekaligus pewaris tahta Kim Il-sung , Kim Jong-il. Media-media Korea Selatan memberitakan Kim Jong-il memiliki masalah kesehatan yang serius dan sewaktu-waktu bisa meninggal dunia. Berbeda dengan kisah Kim Il-sung , tiga tahun berselang, Kim Jong-il meninggal dunia persis dengan dugaan media-media: stroke.

Kini, di tengah gelombang COVID-19 yang menghancurkan hampir setiap tempat di dunia, pemberitaan seperti yang menimpa Kim Il-sung dan Kim Jong-il muncul lagi, menyasar generasi ke-3 dinasti Kim: Kim Jong-un.

Merujuk dua pemberitaan serupa tentang pendahulu Kim Jong-un, sukar menebak bagaimana sesungguhnya kondisi Kim Jong-un sekarang. Di sisi lain, karena pernikahannya dengan Ri Sol Ju, Kim diyakini memiliki tiga anak, yang termuda lahir pada 2017, sementara yang tertua baru berusia 10 tahun. Sebagaimana dilaporkan Sangmi Cha untuk Reuters, agak mustahil jika satu di antara tiga anak Kim langsung menjadi penguasa baru seandainya Kim berpulang dalam waktu dekat. Kemungkinan, salah satu anak Kim, “membutuhkan bantuan kerabat atau wali politik” untuk menempa mereka menjadi pemimpin.

Dalam sejarah Korea Utara, hal demikian tidaklah aneh. Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Kim Jong-il menjalani pelatihan dari ayahnya, Kim Il-sung , selama 20 tahun. Sementara itu, karena Kim Jong-il tewas mendadak akibat stroke, Kim Jong-un hanya menerima “pendidikan pemimpin” selama satu tahun. Mengingat anak-anak Kim Jong-un masih bocah, waktu yang relatif panjang dibutuhkan untuk menempa mereka.

Masalahnya, jika Kim Jong-un meninggal dalam waktu dekat, siapa yang hendak mengajarkan anak-anak Kim berkuasa? Kim Jong-un punya sikap aneh tatkala berhubungan dengan saudara-saudaranya. Kim Jong Nam, misalnya, dibunuh di Bandar Udara Antar Bangsa Kuala Lumpur pada 2017 silam, memanfaatkan dua perempuan yang dijebak untuk melakukan aksi pembunuhan dalam bungkus acara televisi, yakni Siti Aisyah, asal Indonesia, dan Doan Thi Huong, asal Vietnam.

Mundur ke tahun 2013, Kim Jong-un mengeksekusi pamannya, Jang Song Thaek, yang dianggapnya “sampah manusia tercela yang lebih buruk dari seekor anjing” atas dugaan bahwa sang paman “kontra-revolusioner”.

Di sisi lain, hubungan Kim Jong-un dengan kakaknya, Kim Jong Chol, terasa hambar. Pasalnya, alih-alih tinggal di Korea Utara dan ikut mengurus negara, Kim Jong Chol memilih hidup di London, Inggris, menjalani kehidupan yang tenang dengan memainkan musik.

Praktis, hubungan Kim Jong-un yang hangat dengan saudaranya hanya terjadi dengan Kim Yo-jong, adik perempuannya.

Masih merujuk laporan Cha untuk Reuters, Kim Yo-jong, dalam dua tahun ke belakang, semakin terlihat terlibat dalam urusan negara selama dua tahun terakhir. Salah satu momen terpenting kemunculan Kim Yo-jong ke publik terjadi pada 2018 silam. Saat itu untuk pertama kalinya Kim Yo-jong, sebagai anggota keluarga Kim, dikirim ke Korea Selatan menghadiri Olimpiade. Yo-jong merupakan anggota dinasti Kim pertama yang menginjakkan kaki di Korea Selatan pasca-Perang Korea.

Saat ini, Kim Yo-jong menjabat sebagai wakil direktur Komite Pusat Partai Pekerja sekaligus kepala staf Kim Jong-un. Ia diyakini “memiliki kontrol yang kuat terhadap fungsi-fungsi partai kunci, menetapkan dirinya sebagai sumber kekuatan utama di balik kepemimpinan kolektif”.

Kepada Financial Times Michael Madden, peneliti Korea Utara pada Johns Hopkins University, menyatakan bahwa Kim Yo-jong “mempunyai kemampuan masterclass dalam dunia politik Korea Utara”.

Pertemuan-pertemuan penting Kim Jong-un dengan Xi Jinping dan Donald Trump diyakini diatur oleh Kim Yo-jong.



Sementara itu, Rachel Lee, mantan analis Korea Utara untuk pemerintah AS, menyebut bahwa Kim Yo-jong “adalah bagian dari garis keturunan Gunung Paektu,” gunung suci bagi warga Korea Utara.

Banyak yang percaya kekuasaan keluarga Kim akan jatuh ke tangann Kim Yo-jong. Bahkan, masih merujuk Financial Times, Kim Yo-jong akan mampu mengambil alih kekuasaan seandainya ia mau memberikan “rasa aman” bagi petinggi Partai Pekerja Korea Utara.

Selain Kim Yo-jong, nama lain yang mungkin menggantikan posisi Kim Jong-un jika ia meninggal dalam waktu dekat ialah Choe Ryong-hae, salah satu petinggi negara dan orang kepercayaan Kim Jong-un.

Yang perlu dicatat, meskipun Kim Jong-un di kemudian hari wafat, program-program yang telah dijalankannya, khususnya program senjata nuklir dan hubungan dengan Korea Selatan, diyakini tidak akan banyak berubah. Daniel DePetris, dalam paparannya di Defence One, menyatakan bukan hanya Kim Jong-un yang meyakini bahwa melucuti persenjataan nuklir adalah tindakan bodoh. Cina dan Rusia juga diyakini akan terus menjadi teman baik oleh Korea Utara.

Kim Yo-jong, misalnya, dipercaya memiliki cara berpikir yang sama dengan kakaknya. Sebab, tatkala belia, ia dan sang kakak dilatih oleh Kim Ki Nam, ahli propaganda Korea Utara.

Baca juga artikel terkait KONDISI KIM JONG UN atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Politik)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight