Pandemi COVID-19

Apa yang Membuat Varian COVID Omicron Banyak Bermutasi & Berbahaya?

Oleh: Irwan Syambudi - 30 November 2021
Dibaca Normal 3 menit
Varian Omicron membawa lebih banyak mutasi pada spike protein virus dibandingkan dengan varian sintetis.
tirto.id - Varian baru COVID-19 B.1.1.529 atau Omicron dengan cepat mendominasi penularan di Afrika Selatan. Varian yang memiliki banyak mutasi itu kini telah menyebar ke berbagai negara di Afrika, Eropa, Asia, hingga Australia.

“Mutasinya sangat banyak dan mutasi-mutasi yang berbahaya dari varian sebelumnya ada di sini [varian Omicron]” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat konferensi pers virtual, Minggu (28/11/2021) malam.

Budi menyebut ada sekitar 50 mutasi varian tersebut. 30 mutasi di antaranya ada pada bagian spike protein di bagian mahkota Coronanya. Dari 50 mutasi tersebut, kata dia, mutasi yang buruk dari varian Alfa, Beta, Delta, dan Gama teridentifikasi di varian Omicron.

“Mutasi yang buruk itu dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok yang pertama adalah kelompok yang meningkatkan keparahan. Kelompok kedua adalah mutasi yang meningkatkan transmisi penularan. Kelompok ketiga adalah kelompok mutasi yang meningkat escape immunity jadi bisa menghindari vaksin,” kata Budi.

Namun, kata Menkes Budi, studi mengenai varian Omicron ini masih berjalan. Terkait dengan bukti bahwa meningkatkan keparahan penyakit sampai sekarang belum ditemukan bahwa varian ini dapat meningkatkan keparahan, kata dia.

“Untuk meningkatkan transmisi penularan. Kemungkinan besar dia lebih cepat penularannya. Kemungkinan besar, sedang difinalisasi risetnya,” kata dia.

Kemudian apakah varian ini dapat menghindari sistem imun, menurunkan kemampuan antibodi dari infeksi alami dan vaksinasi? “Kemungkinan besar iya. Tapi balik lagi belum dikonfirmasi,” ujar Budi.

Yang jelas varian ini telah menjadi dominan di Afrika Selatan. Negara itu paling banyak ditemukan varian ini. Berdasarkan data yang dipaparkan Menkes Budi, ada 99 kasus positif teridentifikasi sebagai varian Omicron dan ada 990 kasus probable. Kemudian di Botswana 19 kasus positif dan 9 kasus probable. Sementara di Belanda ada 66 kasus COVID-19 yang diduga sebagai varian Omicron.


Kenapa Omicron Memiliki Banyak Mutasi?

Pengajar Biologi Molekuler di Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Ahmad Rusdan Handoyo Utomo mengatakan, banyaknya mutasi pada varian Omicron ini terjadi karena penularan yang tak terkendali serta dan kondisi imunitas masyarakat di suatu wilayah.

Ahmad menduga, varian Omicron ditemukan dan mendominasi di Afrika Selatan karena kondisi imunitas masyarakat di sana.

“Dugaan saya, penularan yang tidak terkendali menyebabkan si virus menemukan seseorang dengan imunitas yang sudah terkompromi, apalagi di Afrika Selatan 40% warganya terkena HIV/AIDS yang tentunya imunitasnya tidak sebaik orang yang tanpa HIV/AIDS,” kata Ahmad kepada reporter Tirto, Senin (29/11/2021).

Menurutnya ketika imunitas terkompromi, tubuh kesulitan menghilangkan virus. Akibatnya virus bereplikasi lebih lama, dan kemungkinan melakukan kesalahan (salah ketik alias mutasi) menjadi lebih mudah.

Lalu, orang yang terkompromi tersebut menularkannya ke yang lain, dan karena kombinasi mutasinya bagus untuk virus mudah menular, akhirnya mudah tersebar. Saking mudahnya menular, varian ini berdasarkan studi kasus, kata Ahmad, mampu menular antar orang di dalam hotel di mana mereka tidak saling bertemu, namun diduga tidak menggunakan masker yang memenuhi standar.

“Varian ini dianggap berbahaya karena angka penularan yang cepat di Afrika Selatan didominasi varian Omicron dan menggantikan posisi varian Delta,” kata dia.

Pengajar virologi di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Daniel Joko Wahyono mengatakan varian ini memiliki sekitar 30 mutasi pada bagian spike protein (taji protein). Bagian ini adalah alat yang digunakan virus untuk membuka pintu ke sel-sel tubuh. Dan pada bagian itulah yang juga disasar sebagian besar vaksin.

Daniel mengatakan dalam riset sebelumnya varian sintetis dengan 20 mutasi pada protein spike berkaitan dengan virus hampir sepenuhnya dapat menghindari dari zat imun serum convalescent dan vaksin.

“Oleh karena, varian Omicron membawa lebih banyak mutasi pada spike protein virus dibandingkan dengan varian sintetis, maka dikhawatirkan varian ini memiliki efek yang sangat signifikan pada netralisasi sistem imun,” kata Daniel kepada Tirto, Senin (29/11/2021).

Namun, kata dia, untuk mengetahui bahwa varian Omicron mampu lolos dari sistem imun perlu dilakukan studi, setidaknya studi mengenai efikasi vaksin terhadap varian baru tersebut.

Sementara itu terkait dengan pengaruh terhadap tingkat keparahan penyakit juga belum ada penelitian terkait hal itu. “Informasi awal dari Afrika Selatan adalah bahwa saat ini tidak ada gejala yang tidak biasa telah dikaitkan dengan Omicron, dan mirip dengan varian lain, beberapa individu tidak menunjukkan gejala,” katanya.


Merespons Kecepatan Omicron

Epidemiolog asal Indonesia di Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan yang membuat suatu varian COVID-19 berbahaya adalah dari tingkat kecepatan infeksinya atau kecepatan menular pada manusia. Kalau satu varian itu memiliki kecepatan menular, maka kata Dicky akan sangat berbahaya.

“Dalam konteks varian Omicron, dapat dibayangkan dalam 3 minggu dia bisa membuat dalam satu wilayah yang positivity rate 1 persen jadi 30 persen. Lokasinya adalah di Afrika Selatan, negara maju di Afrika,” kata Dicky saat dihubungi, Senin (29/11/2021).

Varian ini pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada 14 November 2021. Dan dalam kurun waktu kurang dari 2 pekan kini varian Omicron sudah menjadi dominan di negara tersebut.

“Sudah menjadi 75 persen mendominasi, dan diperkirakan akhir November jadi 100 persen. Ini sesuatu yang luar biasa di tengah tadinya varian Delta yang mendominasi,” kata Dicky.

Menurutnya jika ada varian yang bisa menggeser dominasi varian delta di satu wilayah, maka dapat dipastikan bahwa varian tersebut lebih serius khususnya terkait kemampuannya dalam menginfeksi atau menyebar.

“Artinya lagi dia [varian Omicron] menginfeksi varian Delta termasuk yang sudah divaksin. Makanya ini berbahaya,” katanya.

Namun menurutnya, tak perlu panik menghadapi varian ini. Khawatir memang perlu agar menjaga kehati-hatian dan kewaspadaan. Tetapi tak melulu ditanggapi dengan reaktif dan melakukan blokade terhadap negara lain.

Sayangnya, menurut Dicky, sejumlah negara menghadapinya dengan reaktif. Sedangkan penanganan pandemi di dalam negeri masing-masing tidak konsisten. “Kenapa pandemi menjadi panjang ini karena memang banyak negara yang abai dan kolaborasi internasional kurang,” kata Dicky.


Baca juga artikel terkait VARIAN OMICRON atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight