Apa yang Dilakukan Westerling Ketika Ditugaskan di Medan?

Oleh: Petrik Matanasi - 11 Juni 2021
Dibaca Normal 2 menit
Medan adalah kota pertama yang diinjak Westerling selama berdinas sebagai tentara Belanda di Indonesia.
tirto.id - Setelah Jepang dikalahkan Sekutu, Belanda segera mengirimkan sejumlah personel militernya ke Indonesia. Prajurit dengan pangkat tinggi yang diturunkan dalam operasi itu antara lain Letnan Laut Brondgeest dan Letnan komando Raymond Westerling. Mereka mendarat di Polonia, Medan, pada 14 September 1945. Tugasnya antara lain membebaskan tawanan perang dan mempersenjatainya untuk menjadi serdadu.

Menurut Ahmad Tahir dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan (1995:90-91), militer Belanda di Medan berusaha mengumpulkan bekas serdadu KNIL yang di antaranya diasramakan di Jalan Bali. Kepolisian juga hendak dikuasai otoritas Belanda. Sejak Oktober 1945, militer Sekutu di Medan, yakni Inggris dan Belanda, mendapat perlawanan keras dari rakyat Indonesia.

Bagi Westerling, Medan adalah pertualangan baru. Dia yang lahir dan besar di Turki, sebelumnya sempat bertualang di Kanada dan Eropa dalam Perang Dunia II. Setelah itu dia pergi ke Srilangka lalu dikirim ke Medan. Kota inilah yang jadi kota pertamanya selama bertugas sebagai tentara di Indonesia.

Selama berada di Medan, seperti disebut Maarten Hidskes dalam Di Belanda Tak Seorang pun Mempercayai Saya: Korban Metode Westerling di Sulawesi Selatan 1946-1947 (2018:71), Westerling merasa dirinya sebagai kepala seksi operasi di kantor intelijen, maka itu dia menjalankan tugas di luar struktur kekuasaan militer yang formal. Ia mula-mula mengenakan seragam militer Inggris, tapi kemudian dilarang oleh otoritas bersangkutan.


Seperti Biasa: Ugal-ugalan

Westerling bertanggung jawab atas pemeriksaan seorang Tionghoa yang babak belur dan stres karena disiksa anak buahnya. Orang tersebut dituduh memetakan tangsi militer Inggris di Medan.

“Sudah berulang kali saya memerintahkan para anak buah saya untuk tidak menganiaya yang diinterogasi dan yang pasti juga tidak memukulnya. Jika perlu dipukul, maka sayalah yang akan melakukannya sendiri,” kata Westerling seperti ditulis Hidskes.

Selain menggebuk orang Tionghoa yang dituduh memetakan markas tentara Inggris, Hidskes juga menyebut Westerling memenggal kepala seseorang dan meletakkannya di depan Masjid Sultan Deli.

Di masa itu, seperti terjadi di pelbagai wilayah lain di Indonesia, Medan dipanaskan oleh sejumlah bentrokan antara para pemuda pro Republik dengan para pendukung Belanda.

Suatu hari, masih menurut Ahmad Tahir, sejumlah tentara Belanda bertemu dengan seorang pemuda pro Republik yang memakai lencana merah putih. Pemuda itu dipaksa menginjak-injak dan menelan lencana tersebut.

“Tentu saja kemarahan kita bukan kepalang,” ujar Ahmad Tahir.

Tak lama setelah peristiwa itu, tepatnya pada 13 Oktober 1945, pertempuran antara tentara Belanda dengan para pemuda Indonesia pun meletus: 99 serdadu KNIL berhasil dilumpuhkan.

Peristiwa lain, seperti dicatat dalam buku Republik Indonesia: Sumatera Utara (1953:42), terjadi pada 15 Oktober 1945. Peristiwa itu bermula ketika seorang pemuda Indonesia berdarah Ambon yang pro Belanda menembak ke arah sekolah Timbang Galung yang dijaga barisan pemuda Indonesia pro Republik. Pemuda Ambon itu dikejar hingga ke Siantar Hotel. Pengejaran tersebut mengakibatkan 5 orang Belanda dan 10 orang Ambon tewas. Selain itu, 17 pemuda Ambon dan 10 Belanda ditangkap.

Konflik kemudian semakin meluas yang kelak dikenal dengan sebutan Pertempuran Medan Area. Dalam buku Republik Indonesia: Propinsi Sumatera Utara (1953: 48) disebutkan, Westerling terlibat dalam pertempuran tersebut bersama kepala polisi bernama Van der Plank.


Infografik Westerling di Medan
Infografik Westerling di Medan. tirto.id/Quita


Menurut Mansyur dalam The Golden Bridge, 1945-Volume 2 (1980:81), “NICA dengan menyewa orang-orang jahat tertentu untuk memusnahkan rakyat, melakukan perampokan, pembunuhan, dan penculikan yang dilakukan oleh itu Kapten Reymond Turko Westerling yang membuat sarang di Hotel De Boer Medan dan dibantu oleh algojo Van der Plank.”

Dalam menjalankan aksi-aksi intelijennya yang mengerikan, Westerling membangun jaringan mata-mata. Di Medan dia berkenalan dengan pedagang Tionghoa bernama Tjia Pit Kay. Sebelum tahun 1942, Tjia Pit Kay bekerja sebagai verkoper (penjual) pada maskapai orang Belanda di Medan dan sering bepergian ke Padang. Ia kemudian kawin dengan anak Jap Kwee Eng dari Padang Panjang.

Pada zaman Jepang, Tjia Pit Kay tinggal di Padang. Setelah Jepang kalah dan Belanda masuk kembali, ia segera menawarkan diri menjadi mata-mata Belanda.

“Pekerjaannya jadi satu dengan Westerling,” tulis Komisaris Omargatab dalam Arsip Kabinet Perdana Menteri Djogjakarta nomor 129: Seri Laporan dari Jawatan Kepolisian Negara Bagian PAM Jogjakarta (koleksi ANRI).

Saat Westerling pergi ke Jakarta, Tjia Pit Kay turut serta. Namanya mulai disebut-sebut setelah kudeta Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dipimpin Westerling gagal.

Westerling tinggal di Medan hingga 23 Juni 1946. Setelah itu dia dikirim ke Jawa dan menghimpun pasukan khusus baret hijau. Pasukan ini terlibat dalam operasi militer pembersihan para gerilyawan di Sulawesi Selatan sejak 11 Desember 1946 hingga awal 1947.

Setelah ditinggalkan Westerling dan tentara Inggris, Medan kian dikuasai tentara Belanda hingga kemudian dijadikan ibu kota Negara Sumatra Timur.

Baca juga artikel terkait WESTERLING atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight