Agenda Ekonomi Oktober

Apa yang Diharapkan dari Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia?

Infografik Agenda Ekonomi Oktober 2018
International Monetary Fund-World Bank (IMF-WB). FOTO/REUTERS
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 28 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Dampak normalisasi kebijakan moneter yang dilakukan AS terhadap stabilisasi sistem keuangan dunia, menjadi salah satu topik bahasan dalam Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 di Nusa Dua, Bali.
tirto.id - Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan tingkat suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin. Sehingga, posisi tingkat suku bunga acuan BI menjadi 5,75 persen. Sehari sebelum kenaikan BI7DRR, Bank Sentral AS atau The Fed lebih dahulu menaikkan suku bunga jangka pendeknya sebesar 25 basis poin. Posisi Fed Fund Rate saat ini berada di kisaran 2-2,25 persen.

Kenaikan ini menjadi yang ketiga sepanjang tahun. Pejabat The Fed memperkirakan satu kenaikan suku bunga lagi di tahun ini. Sebagian besar pelaku pasar memperkirakan bahwa bank sentral AS itu akan menaikkan suku bunga pada rapat yang digelar Desember 2018.

“Bank sentral melakukan semua upaya yang kami bisa untuk menjaga ekonomi AS tetap kuat, sehat dan maju,” kata Kepala Bank Sentral AS Jerome H. Powell saat mengumumkan kenaikan FFR Rabu (26/9).

Kenaikan suku bunga bank sentral AS itu turut memengaruhi risiko pertumbuhan ekonomi AS yang tengah menghadapi eskalasi perang dagang. Menurut Jerome Powell, dalam pengambilan keputusan The Fed mewaspadai dampak ketegangan perang dagang terhadap upah tenaga kerja dan belanja modal industri AS.

“Kami belum melihatnya dalam angka-angka, tapi kami mendengar serentetan kekhawatiran tentang pelaku usaha yang mengurangi ekspansi bisnis,” kata Gubernur The Fed melansir CNN Money.


Dampak kebijakan moneter yang dilakukan AS terhadap stabilisasi sistem keuangan dunia, menjadi salah satu topik bahasan dalam Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 pada 8-14 Oktober di Nusa Dua, Bali. Penguatan International Monetary System (IMS) perlu dipahami oleh negara berkembang agar dapat memitigasi potensi risiko yang mungkin muncul atas langkah kebijakan normalisasi yang ditempuh negara maju seperti AS.

“Pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia diharapkan dapat menjadi momentum strategis pembahasan isu-isu yang dihadapi berbagai negara di kawasan Asia, khususnya Indonesia. Sekaligus sebagai kesempatan untuk menunjukkan perekonomian Indonesia yang reformed dan resilient,” kata Kepala Departemen Internasional BI.

Pertemuan tahunan kali ini digelar pada saat pertumbuhan ekonomi global mengalami masa sulit. Pembahasan perang dagang yang dikibarkan oleh Presiden AS Donald Trump kepada rival utamanya Cina, diperkirakan mendominasi pertemuan ini.

“Ada sejumlah besar persaingan selama 10 tahun terakhir. Pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia diselenggarakan tahun ini, terasa tepat waktu. Mengingat, masalah seputar perdagangan,” ucap Lucy O’Carroll, Kepala Ekonom dari Aberdeen Standard Investmet sebagaimana dilansir The Guardian.


Christine Lagarde, Direktur Pelaksana IMF memberikan memperingatkan sistem perdagangan global saat ini berada ‘dalam bahaya terkoyak’. Potensinya dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi global dan membuat konsumen menjadi lebih miskin karena mahalnya harga yang harus dibayar saat ini. Dalam pidatonya pada acara Asia Global Institute dan The University of Hong Kong di Hong Kong, April lalu, Lagarde bilang ada ‘awan gelap pekat’ yang menaungi perekonomian global ketika eskalasi ketegangan perdagangan semakin besar antara AS dengan Cina.

Meski agenda IMF-Bank Dunia kali ini tidak akan bertindak sebagai forum untuk mengatasi secara konkret kebuntuan, tapi diharapkan dapat membantu pembuat kebijakan lebih memahami konsekuensi perang dagang. “Atau lebih penting lagi kemungkinan untuk menyelesaikan sengketa dagang tersebut,” kata Lagarde masih mengutip The Guardian.




Munculnya proteksionisme AS dan kemungkinan pendekatan serupa di Inggris pasca Britis Exit (Brexit) dari Uni Eropa, dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi global lebih melambat lagi. Konsultan dari Oxford Economics menyebut perang dagang habis-habisan akan mengarah pada perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 0,5 persen.

National Institute for Economic and Social Research/ NIESR
) dalam salah satu survei yang dilakukan menunjukkan pertumbuhan ekonomi di Uni Eropa melemah pada akhir tahun ini. Pertumbuhan ekonomi di Inggris diperkirakan akan terpangkas setengahnya, menurut survei tersebut.

IMF juga memperingatkan pertumbuhan ekonomi global mungkin akan mulai goyah sejak akhir tahun ini sampai dengan tahun depan. Risiko prospek ekonomi global yang masih condong ke arah negatif bahkan sudah mulai terasa pada pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia 2017 yang dihelat di Washington DC, AS.

Upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan menjadi tujuan gelaran IMF-Bank Dunia sampai saat ini. Bank Dunia mendesak peningkatan koordinasi dan kemitraan lintas bank pembangunan multilateral (multilateral development banks/ MDBs) dan lembaga keuangan internasional (international financial institutions/ IFIs). Tujuanya, untuk membantu meningkatkan pembiayaan yang diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja dan membangun ekonomi yang sehat.

“Untuk memperkuat ketahanan ekonomi, kami mendesak agar pelaku usaha melanjutkan investasi dalam kebijakan dan program yang memungkinkan diversifikasi ekonomi dan meminimalkan dampak negatif,” kata Jim Yong Kim, Presiden Bank Dunia mengenai hasil pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia 2017 di AS.

Hasil pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia tahun lalu juga menyoal manfaat kerja sama multilateral melalui proyek infrastruktur. Tema yang digaungkan adalah Belt and Road Initiative (BRI). Jim Yong Kim bilang, inisiatif kerjasama multilateral memiliki potensi untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan mendesak perlunya reformasi kebijakan pemerintah. Tujuannya, agar negara-negara dapat memanfaatkan sepenuhnya peluang yang diberikan oleh BRI.



“Bank Dunia termasuk semua lembaga di dalamnya mendukung BRI. Kami akan bekerjasama dengan negara-negara yang termasuk dalam daftar inisiatif untuk memanfaatkan kerja sama multilateral ini,” lanjut Yong Kim yang menambahkan Bank Dunia adalah satu dari enam lembaga keuangan internasional yang menandatangani perjanjian pada Mei 2017 untuk berkolaborasi dalam BRI.

Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah juga mengatakan kerja sama multilateral untuk menghubungkan negara-negara dengan lebih banyak perdagangan dan investasi diperlukan di saat ini. "Inisiatif ini akan membawa pertumbuhan ekonomi inklusif ke Indonesia," ucap Sri Mulyani optimistis dalam diskusi panel tersebut.

Pertemuan IMF-Bank Dunia digelar setiap tahun untuk mengawal pertumbuhan ekonomi global. Pertemuan tahunan ini secara tradisional diadakan di Washington DC, AS. Dua dari tiga pertemuan berturut-turut, digelar di markas besar IMF dan juga Bank Dunia di AS.

Namun, untuk mencerminkan karakter internasional dari dua lembaga itu, setiap tahun ketiga pertemuan diselenggarakan di negara anggota yang berbeda. Kali ini, Indonesia menjadi tuan rumah setelah sebelumnya pada 2015, Peru berkesempatan menggelar pertemuan ini.

Lalu, apa yang bisa diharapkan dari pertemuan yang berlangsung nanti?

Baca juga artikel terkait PERTEMUAN IMF DI BALI atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Suhendra
DarkLight