Apa yang Bikin Hero dan Central Neo Soho Tutup Gerai?

Oleh: Ringkang Gumiwang - 17 Januari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Hero menutup 26 gerainya sepanjang 2018, klaim mereka karena ada masalah di lini bisnis makanan.
tirto.id - Pada Jumat siang (11/1/2019), kantor pusat PT Hero Supermarket Tbk. yang berada di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan mendadak riuh dengan massa. Ramainya bukan karena pembeli, tapi karena ada aksi demo dari karyawan Hero.

Para karyawan menggunakan baju berwarna merah sambil membawa umbul-umbul serta spanduk, mereka berorasi menentang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan perusahaan secara sepihak pada 2018.

Hero Supermarket menutup 26 gerai sepanjang 2018. Tantangan yang semakin berat di sektor ritel, membuat toko modern yang didirikan Muhammad Saleh Kurnia ini memutus hubungan dengan 532 karyawan.


Konflik antara pihak karyawan dan manajemen Hero pun tak terhindarkan. Pihak karyawan menilai secara keseluruhan kinerja Hero masih positif. Hingga kuartal III-2018, perseroan meraup laba bersih sebesar Rp86 miliar. Namun, direksi Hero tetap melakukan kebijakan yang berdampak pada karyawannya. Bisnis di lini makanan yang lesu menjadi penyebab utama Hero melakukan langkah efisiensi dengan cara mengurangi jumlah gerai dan karyawan.

Untuk diketahui, Hero memiliki dua segmen usaha, yakni bisnis makanan dan non makanan. Untuk bisnis makanan, perseroan mengelola Hero Supermarket dan Giant yang menawarkan berbagai kebutuhan sehari-hari termasuk makanan.

Sementara itu, untuk bisnis non makanan, perseroan mengelola gerai Guardian, sebagai penyedia berbagai produk untuk kesehatan dan kecantikan, serta IKEA yang menyediakan berbagai produk perabotan rumah tangga.

Per 30 September 2018, Hero memiliki 448 gerai yang terdiri dari 59 gerai Giant Ekstra, 96 gerai Giant Expres, 31 gerai Hero Supermarket, 3 gerai Giant Mart, 258 gerai Guardian Health & Beauty dan 1 gerai IKEA.

GM Corporate Affairs PT Hero Supermarket Tbk. Tony Mampuk menjelaskan nilai kerugian operasi yang dialami perseroan dari lini makanan terus memburuk. Pada kuartal III-2018, rugi operasi tercatat Rp163 miliar dari sebelumnya Rp79 miliar.

“Perusahaan saat ini sedang menghadapi tantangan bisnis, khususnya dari bisnis makanan. Untuk itu, kami mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna menjaga keberlangsungan usaha di masa yang akan datang,” jelasnya Tony dalam keterangan tertulis.

Perusahaan yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia sejak 1989 ini mengklaim dari sebanyak 532 karyawan, sebanyak 92 persen di antaranya sudah menerima dan sepakat untuk mengakhiri hubungan kerja.

Bukan Hanya Hero

Beberapa tahun terakhir ini, sektor ritel di Tanah Air memang menghadapi berbagai tekanan, di antaranya seperti daya beli yang menurun, persaingan bisnis yang semakin ketat, jual beli daring hingga pola konsumsi yang berubah. Kondisi ini membuat Hero Supermarket pontang panting. Sejak 2015 hingga 2017, penjualan bersih Hero terus mencatatkan penurunan (PDF). Rata-rata penjualan Hero turun sekitar lima persen per tahun.


Di lain pihak, beban usaha justru meningkat. Rata-rata peningkatan beban usaha dalam sejak 2015 hingga 2017 mencapai 3 persen. Khusus untuk beban usaha dari pos gaji dan tunjangan, rata-rata kenaikannya mencapai 8 persen.

Penurunan penjualan yang dibarengi kenaikan beban usaha berdampak terhadap laba Hero. Sejak 2015, hanya tahun 2016, Hero masih sanggup meraih laba Rp121 miliar. Sisanya, Hero meraup rugi yakni Rp144 miliar pada 2015, dan Rp191 miliar pada 2017.

Tekanan yang besar tersebut membuat perseroan akhirnya memilih untuk melakukan efisiensi beban usaha, di antaranya memangkas jumlah toko dan karyawan. Porsi beban dari karyawan sendiri cukup besar dari total beban usaha Hero.

Pada 2017, beban gaji dan tunjangan Hero tercatat sebesar Rp1,34 triliun atau 36 persen dari total beban usaha sebesar Rp3,76 triliun. Beban dari gaji dan tunjangan ini menjadi paling besar ketimbang beban lainnya yang tercantum di beban usaha.

Tahun berikutnya, kinerja Hero mulai membaik. Laba bersih mulai dirasakan lagi kembali, meski penjualan masih dalam tren penurunan. Pada kuartal III-2018 (PDF), Hero mencatatkan laba sebesar Rp86 miliar, naik 23 persen dari kuartal III-2017 sebesar Rp70 miliar.

Kondisi yang terjadi terhadap Hero ini sebenarnya tidak terlalu mengagetkan. Sebelum Hero, ada banyak merek-merek toko ritel modern lainnya yang juga menutup sejumlah gerainya, di antaranya seperti PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk.

Perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia sejak 1996 ini telah menutup sebanyak 16 supermarket sepanjang 2017. Seperti Hero, kinerja keuangan terutama penjualan Ramayana juga sedang dalam tren penurunan.


Kejadian yang menimpa Ramayana dan Hero, juga terjadi pada Central Departement Store di Neo Soho, di kawasan Grogol, Jakarta Barat juga ditutup lantaran pengelola Central Departement Store akan mengalihkan penjualannya ke pasar online.

Public Relation Department Manager PT Central Retail Indonesia Dimas Wisnu Wardana mengatakan perusahaan akan menggunakan omni channel sebagai pendukung gerai fisik yang kini tersisa satu di Grand Indonesia.

“Kami melihat omni channel adalah salah satu jalan keluar kami untuk lebih memberikan layanan terbaik kepada pelanggan dan menjangkau pelanggan secara lebih luas di seluruh Indonesia,” katanya seperti dilaporkan Tirto.

Omni channel adalah saat pelanggan bisa menggunakan lebih dari satu jalur penjualan seperti toko fisik, e-commerce, dan lain sebagainya untuk melakukan riset, membeli, mendapatkan dan mengembalikan hingga menukar barang dari peritel.

Infografik Kinerja Keuangan Hero
Infografik Kinerja Keuangan Hero


Ada "Kambing Hitam"


Awal tahun ini, pelaku ritel offline punya harapan. Ada beleid yang mengatur perdagangan daring dari sisi perpajakan akhirnya terbit juga, yakni Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 210/PMK.010/2018 tentang perlakuan perpajakan atas transaksi perdagangan melalui sistem elektronik.

“Meski sebenarnya telat, namun kami harap PMK itu bisa menolong kami. Apalagi, industri ritel modern juga pelan-pelan mulai membaik,” kata Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia Budihardjo Iduansjah kepada Tirto.

Budihardjo menilai menjamurnya jual beli daring selama ini telah menciptakan persaingan yang tidak adil bagi toko ritel offline. Pasalnya, sebagian besar pelaku jual beli daring tidak patuh dengan perpajakan. Kondisi ini jauh berbeda ketimbang toko offline yang cukup patuh dengan perpajakan.

Hal itu pada akhirnya membuat barang-barang yang dijual secara online menjadi lebih murah ketimbang offline. Secara tidak langsung, kondisi ini menggeser pola konsumsi masyarakat dari sebelumnya belanja dari offline ke online.

“Dari seluruh bentuk ritel, yang berukuran besar seperti supermarket atau toserba itu memang persoalannya paling banyak. Perlu ada format baru dari pengelola agar bisa menarik lagi di mata konsumen,” tutur Budihardjo.


Selain anggapan adanya persaingan yang tidak sehat dengan jual beli daring, supermarket dan toserba bisa jadi tertekan karena semakin menjamurnya minimarket yang satu segmen sama-sama produk makanan dan kebutuhan sehari-hari. Nama-nama baru pemain minimarket seperti 212 Mart, Podjok Halal dan lainnya bermunculan.

Berkebalikan dengan kinerja supermarket seperti Hero yang menurun, kinerja keuangan minimarket moncer. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk misalnya, pengelola minimarket Alfamart ini hingga kuartal III-2018, meraih pendapatan dari Rp45,6 triliun menjadi Rp49,6 triliun, naik 9 persen. Lonjakan penjualan ini membuat laba bersih yang diraup Alfa terbang tinggi. Pada periode yang sama, Alfa meraup laba sebesar Rp345 miliar, naik enam kali lipat dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp48 miliar.

“Pangsa pasar ritel tetaplah besar. Konsumsi kita masih kuat. Terbukti dari penjualan minimarket yang positif. Jadi memang butuh pola atau strategi yang baru untuk Hero dan kawan-kawan,” kata Alfred Nainggolan Kepala Riset PT Koneksi Kapital Indonesia kepada Tirto.

Rontoknya gerai-gerai supermarket atau toserba belakangan ini bukan berarti bisnis ini tidak menarik lagi. Apalagi, pasar ritel saat ini juga terbilang besar. Hal yang harus dilakukan adalah menawarkan nilai tambah baru yang menarik di mata konsumen dan inovasi ketika tren dan kebutuhan konsumen terus dinamis.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI RITEL atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Suhendra