Apa Saja Jenis-jenis Wayang yang Ada di Indonesia dan Penjelasannya

Kontributor: Endah Murniaseh - 7 Apr 2021 21:50 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Contoh 7 jenis wayang di Indonesia ialah Wayang Kulit, Wayang Beber, Wayang Golek, Wayang Krucil, Wayang Suluh, Wayang Gedog, dan Wayang Orang.
tirto.id - Indonesia merupakan negara yang kaya akan kebudayaan. Salah satu produk kebudayaan tersebut adalah kesenian wayang.

Wayang memiliki arti bayangan, semacam seni drama yang menggunakan boneka-boneka yang digerakkan oleh dalang. Bayangan boneka ini ditangkap di atas kelir. Penonton harus melihat dari belakang layar agar dapat menyaksikan bayangan wayang tersebut.

Pertunjukan wayang pada mulanya adalah upacara pemujaan arwah nenek moyang. Peran wayang dalam upacara itu sebagai perantara atau medium antara dunia nyata dan dunia gaib.

Oleh karena itu, pada masa lalu, wayang dimainkan di ruangan suci dalam rumah orang Jawa yang dikenal dengan Pringgitan. Ruangan pringgitan biasanya ada di perbatasan antara pendopo dalem.

Pertunjukan wayang sebagai upacara keagamaan disertai dengan musik gamelan yang disesuaikan dengan keadaan alam. Misalnya, antara jam 6 sore dan 9 malam, bunyi gamelan mengikuti suara di alam yang seakan-akan sedang istirahat menuju suasana tidur.

Lalu, jam 9 malam sampai 2 malam saat "alam" tidur nyenyak, suara gamelan menjadi lebih berat dan mendalam. Mulai jam 2 malam hingga 6 pagi, ketika "alam" menuju ke suasana bangun, bunyi gamelan bertambah santai dan suaranya keras.

Ada banyak jenis wayang yang berkembang di Indonesia. Mengutip dari buku Antropologi terbitan Departemen Pendidikan Nasional (2009) dan beberapa sumber lain, berikut sebagian jenis wayang yang ada di Indonesia.

1. Wayang Kulit

Wayang kulit adalah wayang yang terbuat dari kulit binatang seperti sapi ataupun kerbau. Nama lain dari wayang kulit adalah wayang Purwa. Purwa berasal dari bahasa Sansekerta “parwa” yang berarti bagian dari buku Mahabharata.

Diperkirakan, wayang kulit telah ada sejak abad ke-11 di masa pemerintahan raja Airlangga. Cerita yang dibawakan oleh wayang kulit diadaptasi dari kitab Mahabharata dan Ramayana. Namun, alur cerita yang berkembang di pertunjukan wayang kulit kemudian disesuaikan dengan suasana dan kepribadian masyarakat Indonesia.

Wayang kulit terdiri dari beberapa gaya atau gagrak. Misalnya, gagrak Kasunanan, Mangkunegara, Ngayogjokarto, Banyumasan,Jawatimuran, Kedu, Cirebon, dan sebagainya.

2. Wayang Beber

Wayang Beber merupakan jenis wayang tertua di Indonesia dan diperkirakan telah ada sejak 1223 M, atau saat zaman kerajaan Jenggala. Nama wayang beber diambil dari cara memainkannya yaitu dengan melukis adegan di kain yang dapat digulung dan dibuka (dibeber). Saat adegan-adegan di Wayang Beber berlangsung akan diiringi oleh gamelan.

Wayang Beber dulu menceritakan tentang kisah dari Mahabharata dan Ramayana. Namun, seiring berjalannya waktu, wayang ini menceritakan kisah sesuai dengan masa. Mulai dari kisah raja-raja di Jawa, hingga kehidupan sehari-hari dan mengkritisi kondisi masyarakat.

3. Wayang Krucil

Wayang Krucil memiliki nama lain, Wayang Klitik, dikarenakan ukurannya yang lebih kecil daripada wayang Purwa. Wayang Krucil biasa menceritakan cerita pada zaman Majapahit atau Menak.

Wayang Krucil merupakan wayang khas Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Selain dari segi bentuknya berukuran lebih kecil, wayang krucil memiliki perbedaan dengan wayang jenis lainnya dalam aspek bahan. Wayang krucil terbuat dari kombhinasi kayu dan kulit sapi.

Wayang Krucil termasuk kedalam 75 jenis wayang punah di Indonesia, demikian tercatat di artikel berjudul "Strategi Melestarikan Kesenian Wayang Krucil melalui Program One Village One Product di Kabupaten Blora" dalam Jurnal Abdimas (Vol 23, No 1, 2019) terbitan Unnes.

4. Wayang Gedog

Wayang Gedog memiliki bentuk seperti wayang kulit, tapi terbuat dari kayu. Nama Gedog memiliki arti kandang kuda. Disebut wayang gedog karena banyak tokoh yang memiliki nama dengan kata “kuda” cerita jenis wayang ini. Contoh, Panji Kudawanengpati. Wayang Gedog biasa menceritakan kisah di zaman Kediri dan Jenggala (cerita panji).

Dikutip dari artikel bertajuk "Pelestarian dan Pengembangan Wayang Gedog" di dalam Jurnal Gelar (Vol 11, No 2, 2013) terbitan ISI Surakarta, posisi wayang gedog berada di antara genre wayang purwa dan wasana. Hal ini berarti cerita wayang gedog berada dalam genre wayang madya.

Wayang gedog memiliki spesifikasi unik dalam hal cerita atau lakon yang dipergelarkan, bentuk boneka wayang, maupun penggunaan gending dan sulukan di pertunjukannya.

Dari segi cerita, wayang gedog mempresentasikan cerita yang bersumber dari Serat Panji, dengan inti lakon mengenai pertemuan tokoh utama Panji Inukertapati atau Panji Asmarabangun dan isterinya Dewi Sekartaji (Galuh Candrakirana).

Sementara dari segi bentuk, boneka wayang gedog dilengkapi dengan tekes, keris, dan rapèkan. Gending dan sulukan di wayang ini juga khusus bernada laras pelog.

Wayang gedog diperkirakan muncul pada abad XV, merujuk keterangan dari Serat Centhini. Pada
masa pemerintahan Paku Buwana X di Surakarta, wayang gedog pernah mengalami perkembangan signifikan. Wayang gedog saat itu kerap dipergelarkan pada berbagai upacara kraton berasamaan dengan pertunjukan wayang purwa.

5. Wayang Golek

Wayang Golek merupakan wayang yang terbuat dari kayu yang dikombinasikan dengan kain untuk pakaiannya. Wayang Golek diperkirakan telah ada sejak abad 17, serta merupakan pengembangan wayang kulit.

Jika wayang Beber dan wayang purwa lebih banyak tersebar di daerah Jawa bagian Timur dan juga Tengah, maka wayang golek lebih banyak tersebar di kawasan Jawa Barat.

Dari segi pertunjukan, Wayang Golek sama dengan wayang lainnya: Lakon dan cerita dimainkan oleh seorang dalang. Sementara vokal pesinden dan suara gamelan jadi pengiring saat wayang ini dimainkan.

Umumnya, wayang golek dipentaskan dengan menggunakan bahasa sunda. Adapun pakem dan jalan cerita wayang Golek sama dengan wayang kulit. Contohnya, mengambil cerita Ramayana dan Mahabarata.

Seiring dengan berkembangnya zaman, wayang golek tidak hanya menceritakan kisah Ramayana dan Mahabarata, tapi juga kisah-kisah bernuansa islam hingga cerita kehidupan sehari-hari.

6. Wayang Orang

Wayang orang adalah wayang yang diperankan oleh orang-orang dengan pakaian seperti wayang. Para pemain dapat berdialog langsung sesuai jalannya cerita.

Wayang Orang pertama kali muncul pada abad ke-18 di Solo dan dicetuskan KGPAA Mangkunegoro I. Wayang Orang terinspirasi dari seni drama yang berkembang di Eropa. Keinginan Mangkunegoro I inilah yang pada akhirnya mendasari terwujudkan pertunjukan Wayang Orang.

Dalang dalam pertunjukan wayang orang berperan sebagai sejenis sutradara. Sumber cerita yang dibawakan adalah Ramayana dan Mahabharata. Serta pertunjukannya diiringi musik gamelan.

7. Wayang Suluh

Wayang Suluh merupakan wayang yang diperankan manusia zaman sekarang termasuk juga cara berpakaiannya. Wayang Suluh ada sejak zaman penjajahan Jepang yang bermaksud memberikan penerangan (penyuluhan) kepada masyarakat. Sumber cerita pada wayang ini diambil dari zaman berdirinya Indonesia dan masa perang kemerdekaan.

Wayang suluh kemudian berkembang di masa revolusi kemerdekaan sebagai alat propaganda yang mendukung perjuangan rakyat Indonesia.

Namun, berdasarkan sumber lain yang dilansir laman Kemendikbud, Wayang Suluh pada dasarnya adaah peningkatan dari wayang wahana.

Merujuk sumber yang sama, Wayang Suluh pada awalnya merupakan wayang yang diciptakan oleh Raden Mas Soetarto harjowahono, di Surakarta pada tahun 1920 dengan cerita-cerita biasa yang realistis.

Lantas, pada tahun 1947, Departemen Penerangan RI mengambil alih bentuk wayang itu sebagai media penyuluhan, sehingga ia dinamakan wayang suluh.

Bentuk tokoh-tokoh di wayang suluh sengaja dibuat realistik, mirip manusia yang digambar miring dan diberi pegangannya seperti wayang kulit. Dari segi potongan maupun pakaian, bentuk tokoh di wayang suluh agak menyerupai orang dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan ceritanya diambil dari cerita kekinian sesuai era kehadirannya. Karena pementasannya mengusung cerita-cerita yang dekat dengan masyarakat pada eranya, ia dapat dikatakan sebagai wayang sandiwara, yang kemudian dinilai cocok menjadi alat perjuangan.


Baca juga artikel terkait WAYANG atau tulisan menarik lainnya Endah Murniaseh
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Endah Murniaseh
Penulis: Endah Murniaseh
Editor: Addi M Idhom

DarkLight