Apa Perbedaan Majas Metafora dan Personifikasi Beserta Contohnya?

Kontributor: Ega Krisnawati - 23 Jul 2021 16:36 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Berikut adalah pengertian majas metafora dan personifikasi serta contoh dalam Bahasa Indonesia.
tirto.id - Dalam bahasa Indonesia terdapat berbagai jenis gaya bahasa atau majas, seperti metafora dan personifikasi. Secara garis besar, metafora adalah majas yang mengungkapkan pembandingan dua benda dengan singkat. Sementara personifikasi adalah majas yang menggambarkan benda mati seolah hidup. Berikut penjelasan lebih lanjut.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring versi Kemendikbud mendefinisikan majas metafora sebagai pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan, misalnya tulang punggung dalam kalimat pemuda adalah tulang punggung negara

Sementara majas personifikasi didefinisikan KBBI sebagai pengumpamaan (pelambangan) benda mati sebagai orang atau manusia, seperti bentuk pengumpamaan alam dan rembulan menjadi saksi sumpah setia.


Arti dan Contoh Majas Metafora

Dikutip dari Balai Bahasa Jateng, majas metafora adalah majas yang memakai kata atau kelompok kata dan mengacu pada suatu objek, tapi bukan dengan arti yang sebenarnya. Kiasan yang digunakan mengacu pada persamaan atau perbandingan sifat yang dimiliki objek tersebut. Contoh majas metafora sebagai berikut.

  • Sungguh malang nasib bunga desa itu. (bunga desa: perempuan tercantik di desa tersebut).
  • Dia sering menjadi buah bibir di sekolah. (buah bibir: bahan pembicaraan).
  • Orang itu terkenal karena panjang tangan. (panjang tangan: gemar mencuri).
  • Lionel Messi menjadi mesin pencetak gol klub Barcelona. (mesin pencetak: orang yang selalu mencetak)
  • Subarjo adalah seorang tangan kananku. (tangan kanan: orang kepercayaan)
  • Si kutu buku itu jarang sekali keluar rumah. (kutu buku: rajin belajar)
  • Raja siang keluar dari ufuk timur. (raja siang: mata hari)
  • Perpustakaan adalah gudang ilmu. (gudang ilmu: sumber ilmu)


Arti dan Contoh Majas Personifikasi

Menurut laman Sumber Belajar Kemendikbud, personifikasi merupakan majas yang melekatkan sifat-sifat insani (manusiawi) pada suatu benda mati sehingga seolah-olah memiliki sifat seperti benda hidup.

Ciri majas ini adalah adanya pilihan kata yang mengenakan sifat manusia pada benda mati tersebut. Majas personifikasi memiliki gaya bahasa perbandingan, yaitu mengibaratkan benda mati atau tidak dapat bergerak seolah-olah tampak bernyawa dan dapat berperilaku seperti manusia.

Oleh sebab itu, majas personifikasi dikategorikan juga sebagai majas perbandingan. Majas ini berfungsi untuk memberikan gambaran lebih jelas mengenai situasi yang dilukiskan dan memberikan bayangan angan (citraan) yang konkret. Berikut contoh majas personifikasi.

  • Padi menunduk mengucapkan selamat pagi.
  • Di malam itu, Bulan mengintip di balik awan.
  • Ranting-ranting ikut menari mengikuti alunan gendang.
  • Angin berbisik lembut menyampaikan salamku padanya.
  • Gelas itu saling berdendang satu dengan yang lainnya.
  • Badai mengamuk dan merobohkan rumah penduduk.
  • Ombak bekejar-kejaran ke tepi pantai.
  • Kereta api tua itu merang-raung di tengah kesunyian malam.


Apa Itu Majas?

Sebagaimana dilansir dari buku Majas, Pantun, dan Puisi majas adalah gaya bahasa berupa kiasan, ibarat, definisi dan perumpamaan yang bertujuan mempercantik makna dan pesan sebuah kalimat. Majas juga dipahami sebagai pemanfaatan kekayaan unsur bahasa dan pemakaian ragam bahasa tertentu.

Hal ini guna memberi kesan dan rasa (taste) pada suatu karya sastra. Menurut literatur lainnya, majas merupakan cara dan gaya penyampaian perasaan sekaligus pandangan penulis dalam berbahasa agar terkesan lebih maksimal dan efektif kepada pembaca atau pendengar.

Terdapat empat jenis majas, yaitu majas perbandingan, pertentangan, penegasan, dan sindiran. Majas metafora dan personifikasi termasuk dalam jenis majas perbandingan.


Baca juga artikel terkait METAFORA atau tulisan menarik lainnya Ega Krisnawati
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Ega Krisnawati
Penulis: Ega Krisnawati
Editor: Alexander Haryanto

DarkLight