Menuju konten utama

Apa Perbedaan Infeksi Virus dan Infeksi Bakteri?

Apa perbedaan infeksi virus dan infeksi bakteri? Berikut penjelasannya.

Apa Perbedaan Infeksi Virus dan Infeksi Bakteri?
Ilustrasi Virus. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Semakin mewabahnya virus Corona (COVID-19) membuat masyarakat harus semakin berhati-hati ketika sedang berada di tempat umum. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerangkan, bahwa cara penularan penyakit yang disebabkan oleh virus bernama SARS-CoV-2 ini dapat melalui berbagai medium, seperti droplet atau cipratan batuk dan bersin, atau pun sentuhan secara langsung.

Maka dari itu, berbagai imbauan diberikan guna meminimalisasi penyebarannya dengan cara rajin mencuci tangan dengan sabun, hingga melakukan pembatasan jarak fisik dan sosial (physical distancing).

Gejala awal yang dialami ketika seseorang telah terinfeksi biasanya batuk, sesak nafas, hingga demam, dengan suhu tubuh dapat mencapai 37,8 derajat celcius.

Namun, kadang beberapa orang salah, dengan menganggap penyakit seperti batuk berasal dari virus. Padahal, tidak selamanya batuk disebabkan oleh virus, melainkan infeksi bakteri. Lantas, apa yang membedakan infeksi virus dengan bakteri?

Dokter Betty Staples, MD, sebagaimana dilansir dari Duke Health, memberikan catatan penting untuk membedakan antara infeksi virus dengan bakteri.

Infeksi virus umumnya meliputi saluran pernapasan atas yang biasanya dapat dideteksi dengan pilek, batuk, demam ringan, sakit tenggorokan, dan sulit tidur.

Bila dibandingkan dengan orang dewasa, infeksi saluran pernapasan atas pada anak-anak dapat bertahan lebih lama yaitu hingga 14 hari, dan terjadi lebih sering sekitar enam hingga delapan kali per tahun.

Penyakit akibat virus biasanya berupa flu, herpes, dan cacar air, atau penyakit serius seperti hepatitis B dan C, HIV/AIDS dan Ebola. Dan yang paling penting, infeksi virus bersifat merusak.

Sementara itu, berbeda dengan virus, infeksi baktei ia katakana sebagai hasil dari "infeksi sekunder". Artinya, virus memulai proses tetapi bakteri mengikuti. Ini biasanya terjadi ketika:

  • Gejalanya menetap lebih lama dari yang diperkirakan 10-14 hari yang cenderung dimiliki oleh virus
  • Demam lebih tinggi dari yang biasanya diperkirakan dari virus
  • Demam semakin memburuk dalam beberapa hari

Penyakit yang disebabkan bakteri, meliputi sinusitis, infeksi telinga, dan pneumonia.

Penyakit bakteri lain yang juga dikhawatirkan meliputi infeksi saluran kemih yang bisa sulit dideteksi dan dapat menyebabkan kerusakan ginjal jika tidak diobati. Namun, berbeda dengan virus, karena beberapa bakteri juga dibutuhkan tubuh, seperti Lactobacillus acidophilus dan Escherichia coli.

Cara penyembuhan

Beda infeksi, tidak sama juga metode untuk menyembuhkanya, karena penyakit yang diakibatkan pun juga berbeda. Laman Webmd memberi penjelasan singkat terkait cara penyembuhan dari kedua infeksi ini.

Pada dasarnya, infeksi bakteri bisa disembukan melalui antibiotik. Penemuan antibiotik untuk infeksi bakteri, dianggap sebagai salah satu terobosan paling penting dalam sejarah medis.

Namun, karena bakteri sangat mudah beradaptasi dan penggunaan antibiotik yang berlebihan, telah membuat bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik sehingga menciptakan masalah serius.

Sebaliknya, antibiotik tidak efektif melawan virus. Akibatnya kini banyak organisasi terkemuka merekomendasikan untuk tidak menggunakan antibiotik kecuali ada bukti yang jelas tentang infeksi bakteri.

Sementara untuk infeksi virus, para ahli menggunakan vaksin. Sejak awal abad ke-20, vaksin telah dikembangkan. Vaksin telah secara drastis mengurangi jumlah kasus baru penyakit virus seperti polio, campak, dan cacar air.

Selain itu, vaksin dapat mencegah infeksi seperti flu, hepatitis A, hepatitis B, human papillomavirus (HPV), dan lainnya.

Tetapi pengobatan infeksi virus terbukti lebih menantang, terutama karena virus relatif kecil dan berkembang biak di dalam sel. Untuk beberapa penyakit virus, seperti infeksi virus herpes simpleks, HIV / AIDS, dan influenza, obat antivirus telah tersedia.

Tetapi penggunaan obat antivirus telah dikaitkan dengan pengembangan mikroba yang resistan terhadap obat. Maka itu penggunaanya perlu dilakukan dengan hati-hati dan di bawah pengawasan dokter.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan lainnya dari Ahmad Efendi

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Ahmad Efendi
Penulis: Ahmad Efendi
Editor: Alexander Haryanto