Apa Makna Prosesi Bleketepe pada Pernikahan Kaesang dan Erina?

Kontributor: Lucia Dianawuri, tirto.id - 7 Des 2022 19:24 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Bleketepe diletakkan di atas genting rumah pengantin perempuan dan dilakukan oleh orang tua pengantin, yaitu ayah dari calon mempelai perempuan.
tirto.id - Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Joko Widodo akan melepas masa lajangnya dengan menikahi Erika Gundono pada Desember 2022.

Prosesi pernikahan Kaesang dan Erina, akan berlangsung selama dua hari, dan akan dilangsungkan di dua kota yaitu Solo dan Yogyakarta.

Prosesi ijab kabul akan dilaksanakan di Pura Mangkunegara Solo pada 10 Desember 2022, dan resepsi akan dilaksanakan di Yogyakarta di Pendopo Agung Kedaton Ambarukmo, Yogyakarta.


Pernikahan Kaesang dan Erina ini akan menggunakan adat dari dua daerah di Indonesia, yaitu Solo dan Yogyakarta.

Salah satu prosesi penting dalam pernikahan adat Jawa yang digunakan oleh Kaesang dan Erina adalah prosesi bleketepe.

Lalu apakah makna bleketepe yang akan dipasang pada pernikahan Kaesang dan Erina ini?

Bleketepe adalah daun kelapa yang masih hijau dan dianyam dengan ukuran rata-rata 50 cm x 200 cm. Anyaman daun kelapa ini digunakan sebagai atap atau peneduh saat resepsi pernikahan.

Bleketepe ini diletakkan di atas genting rumah pengantin perempuan dan dilakukan oleh orang tua pengantin, yaitu ayah dari calon mempelai perempuan.

Dinukil dari jurnal online yang diterbitkan oleh Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah, Tulungangung, bleketepe berasal dari dua kata yaitu Bale dan Ketapi.

Bale adalah tempat atau kediaman, sedangkan Ketapi berasal dari kata tapi yang berarti membersihkan, mensucikan, serta memilah-milah hal kotor yang akan dibuang. Oleh karena itu, bleketepe berarti orang tua pengantin yang mengajak pasangan pengantin untuk menyucikan diri.


Bleketepe sendiri adalah tradisi peninggalan dari Ki Ageng Tarub, salah satu leluhur Raja-Raja Mataram. Ketika itu, anak Ki Ageng Tarub, Dewi Nawangsih akan menikah dengan Raden Bondan Kejawan. Ki Ageng Tarub kemudian membuat peneduh dari anyamam daun kelapa.

Alasan Ki Ageng Tarub membuat anyaman daun kelapa adalah, karena rumah Ki Ageng Tarub sangat kecil, akibatnya banyak tamu undangan tidak bisa masuk ke rumahnya. Guna memberi atap peneduh kepada tamu yang tidak bisa masuk ke rumahnya, Ki Ageng Tarub akhirnya membuatkan atap peneduh dari anyaman daun kelapa itu.

Dilansir dari Siap Nikah, bleketepe akan dipasangkan dengan tuwuhan. Tuwuhan akan dipasang di kiri dan kanan gerbang, dan biasanya terbuat dari tumbuh-tumbuhan. Salah satu yang wajib adalah pisang raja, kelapa muda, batang padi, dan janur.

Prosesi pemasangan bleketepe yang dipasangkan bersamaan dengan tarub dan tuwuhan ini, menurut Siap Nikah, menjadi simbol tolak bala. Selain itu, bleketepe juga berarti kerjasama antara orang tua dan calon pengantin.

Prosesi pemasangan bleketepe yang menjadi awal dari pernikahan adat Jawa ini, juga berbicara tentang sebuah harapan, serta doa dari para sesepuh dan orang tua kedua mempelai, agar pasangan yang akan menikah ini diberikan kebahagiaan, keselamatan, dan rejeki yang cukup.

Selain itu, pemasangan bleketepe, tarub dan tuwuhan ini juga berisi harapan agar pasangan yang akan menikah ini segera diberikan keturunan yang sehat dan berbudi baik.


Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan menarik lainnya Lucia Dianawuri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Lucia Dianawuri
Penulis: Lucia Dianawuri
Editor: Nur Hidayah Perwitasari

DarkLight