Apa Latar Belakang Terjadinya Peristiwa Rengasdengklok 16 Agustus?

Penulis: Dipna Videlia Putsanra, tirto.id - 15 Agu 2022 20:55 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Apa yang menyebabkan terjadinya peristiwa Rengasdengklok 16 Agustus?
tirto.id - Peristiwa Rengasdengklok adalah salah satu momen penting yang terjadi sebelum Hari Kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat, peristiwa Rengasdengklok terjadi pada 16 Agustus 1945, tepat sehari sebelum Proklamasi. Apa latar belakang terjadinya peristiwa Rengasdengklok?

Ketika Indonesia memiliki kesempatan untuk mendeklarasikan Kemerdekaan, Presiden Soekarno dan Moh. Hatta serta tokoh-tokoh golongan tua menginginkan agar proklamasi dilakukan melalui PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Sementara golongan pemuda menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI yang dianggap sebagai badan buatan Jepang. Golongan muda menilai, Proklamasi harus dilakukan secepatnya agar Soekarno dan Moh. Hatta tidak terpengaruh Jepang.

Para golongan pemuda khawatir apabila kemerdekaan yang sebenarnya merupakan hasil dari perjuangan bangsa Indonesia, menjadi seolah-olah merupakan pemberian dari Jepang, jika pengumuman dilakukan lewat PPKI. Sebelum peristiwa Rengasdengklok terjadi, golongan pemuda telah mengadakan suatu perundingan.

Pertemuan itu dilakukan di salah satu lembaga bakteriologi di Pegangsaan Timur Jakarta, pada 15 Agustus. Mereka memutuskan Proklamasi harus lepas dari segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang. Ketika keputusan itu disampaikan ke Soekarno, ia menolak karena tanggung jawab sebagai ketua PPKI.


Kronologi Peristiwa Rengasdengklok

Dipicu karena penolakan Soekarno, para pemuda kemudian menculik Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Golongan muda yang melakukan penculikan adalah Soekarni, Wikana, Aidit dan Chaerul Saleh dari perkumpulan "Menteng 31". Penculikan dilakukan pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00 WIB.

Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk didesak agar mempercepat Proklamasi Kemerdekaan. Penculikan ini dilatarbelakangi untuk menjauhkan Soekarno dan Hatta agar tak mendapat pengaruh Jepang.

Perundingan di Rengasdengklok antara golongan tua dan golongan muda mencapai kesepakatan tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan terutama setelah Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Pasifik.

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Soekarno dan Hatta pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 di Lapangan IKADA (yang sekarang telah menjadi Lapangan Monas) atau di rumah Bung Karno di Jl. Pegangsaan Timur No. 56.

Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya, dipilihlah rumah Seokarno. Salah satu pertimbangannya adalah karena di Lapangan IKADA sudah tersebar bahwa ada sebuah acara yang akan diselenggarakan, sehingga tentara-tentara Jepang sudah berjaga-jaga.

Untuk menghindari kericuhan saat terjadi pembacaan teks Proklamasi, dipilihlah rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Teks Proklamasi disusun di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan di Rengasdengklok sejak 16 Agustus sebagai bentuk persiapan.

Setelah mendapat kabar kepastian Proklamasi, Jusuf Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur. Pada tanggal 16 Agustus tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta.

Beberapa jam kemudian, tepatnya pada 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Teks Proklamasi diketik oleh Sayuti Melik di rumah Laksamana Maeda.


Baca juga artikel terkait PERISTIWA RENGASDENGKLOK atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Addi M Idhom

DarkLight