Apa Kata Ramalan Bintangmu Hari Ini?

Ilustrasi [Foto/Shutterstock]
Oleh: Arman Dhani - 9 Oktober 2016
Dibaca Normal 3 menit
Bagaimana zodiak dimaknai setelah NASA, sekali lagi, mengumumkan bahwa peradaban melupakan rasi bintang ke-13? Bagaimana zodiak dimaknai oleh peradaban modern dan kaum milenial?
tirto.id - “Gemini cocoknya sama Aries. Yang satu angin yang satu api. Membara."

Mungkin Anda pernah mendengar seseorang mengatakan hal semacam itu pada kawan atau koleganya yang berzodiak Gemini, disertai tips mendekati seorang Aries. Bisa jadi orang yang melontarkan ucapan macam itu hanya bermain-main, tapi tak bisa dipungkiri banyak orang sungguh-sungguh menganggap ramalan astrologi sebagai sains.

Lalu, sebuah kabar datang. NASA mengumumkan temuan lama mereka tentang rasi bintang yang membuat penasehat jodoh terkait astrologi harus mengubah peta konstelasi asmara karena ada zodiak baru yang menyebabkan banyak Gemini tak lagi jadi Gemini dan banyak Aries menjadi Pisces atau Taurus. Rasi bintang itu bernama Ophiuchus.

Ada kesalahpahaman soal kabar ini. Beberapa media mengartikan munculnya konstelasi rasi bintang Ophiuchus sebagai zodiak baru. Padahal, konstelasi ini telah ada sejak lama.

Phil Plait, astronom dari Amerika Serikat, menuliskan celotehan panjang mengapa orang kerap salah paham antara astronomi dan astrologi. Dalam situs New Scientist, ia menjelaskan bahwa Ophiukus tidak muncul begitu saja dan mengubah konstelasi yang ada.

Menurut Plait, planet-planet, termasuk bumi, mengelilingi matahari dengan cara sama. Jika dilihat dari bumi, matahari memang tampak mengelilingi kita di jalan yang sama dari tahun ke tahun. Ini yang disebut sebagai ekliptika. Tapi yang bumi seebenarnya terjadi adalah bumi melintasi konstelasi yang sama setiap tahun seperti jarum jam.

NASA membuat panduan memahami ini. Bayangkan sebuah garis lurus yang ditarik dari bumi menembus matahari dan menuju angkasa di luar sistem tata surya kita. Lantas bayangkan bumi mengikuti orbit mengelilingi matahari. Setiap garis imajiner ini berotasi, ia akan mengarah ke satu bintang setiap satu putaran, atau dalam satu tahun. Nah setiap bintang yang tegak lurus dengan garis imajiner inilah yang disebut sebagai konstelasi zodiak.

Setiap konstelasi dari kumpulan bintang ini adalah titik-titik yang bila digabungkan akan membuat satu imaji. Ia bisa berupa singa, timbangan, domba, atau kalajengking. Konstelasi ini kemudian disebut sebagai Sagitarius, Libra, Scorpius, Aries, Gemini, dan seterusnya. Orang-orang Babilonia kuno yang hidup tiga ribuan tahun lalu mengenali sistem ini dan membagi sistem konstalasi bintang ini menjadi 12.

Setiap bumi mengorbit mengelilingi matahari, garis imajinernya akan sejajar dengan ke-12 sistem konstelasi zodiak tadi. Karena orang Babilonia memiliki kalender berdasar 12 bulan, maka setiap bulan merepresentasikan satu zodiak.

Masalahnya, menurut NASA, ada lebih dari 12 rasi bintang matahari dapat dilewati garis imajiner bumi tadi. Beberapa lebih kecil atau memiliki bintang redup, sehingga mereka seringkali diabaikan. Salah satu bintang terbesar dan diabaikan adalah Ophiuchus, yang disimbolkan sebagai manusia pembawa ular.

NASA menyebut garis imajiner antara bumi dan matahari menghabiskan lebih banyak waktu sejajar dengan Ophiuchus daripada Scorpius. Scorpius sendiri memiliki bintang terang dan bentuk kalajengking yang jauh lebih jelas daripada Ophiuchus, sehingga ia mendapat perhatian lebih banyak.



Tapi NASA juga menggarisbawahi bahwa sebenarnya tidak hanya ada 13 rasi bintang zodiak dalam sistem tata surya kita. Secara keseluruhan ada 21 rasi bintang. Yang menarik, dengan perkembangan pengetahuan, kita bisa mengetahui bahwa pergerakan bumi yang lambat selama berabad-abad dan pergeseran tanggal lahir yang ada, bisa jadi Anda yang lahir pada akhir Maret di Yunani Kuno berasi Aries, namun menjadi Pisces jika lahirnya di akhir abad ini.

Tapi sebenarnya apa zodiak itu? Urusan jodoh menurut zodiak muncul dari astrologi. Sementara saat NASA menunjukkan satu rasi bintang yang terlupakan dalam sistem konstalasi kita, itu adalah soal astronomi.

Astrologi dan astronomi adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan astrologi/as·tro·lo·gi/ sebagai ilmu perbintangan yang dipakai untuk meramal dan mengetahui nasib orang atau dengan kata lain ilmu nujum. Sementara astronomi, menurut blog resmi NASA, adalah ilmu yang mempelajari segala hal yang ada di luar angkasa.

Orang-orang seperti Phil Plait atau para peneliti di NASA menganggap astrologi sebagai ilmu bual-bual. Ia tak punya faedah apapun bagi peradaban manusia. Tapi strologi membuat hidup menjadi lebih indah dan bergula. Ia adalah pseudosains, tak jauh berbeda dengan spiritualisme baru seperti New Age.

Zodiak, selain untuk senang-senang, juga memberikan jawaban atas pertanyaan yang tak mampu dijawab sains atau agama. Bagi yang sungguh-sungguh mempercayai astrologi sebagai ilmu pengetahuan, ini tak sekadar seseorang lahir sebagai Aries, Cancer, atau Pisces. Astrologi bagi mereka adalah ilmu (atau kaidah) yang memberikan para pengikutnya panduan untuk menjalani hidup.

GaneshaSpeaks, sebuah perusahaan astrologi di India, pada 2010 mempekerjakan lebih dari 200 astrolog dan mendapat satu juta telepon setiap harinya. Penghasilan tahunan mereka mencapai 100 juta rupee atau $1,5 juta. Belum ada data yang menjelaskan secara rinci tentang industri astrologi di dunia.

Namun di Amerika Serikat industri astrologi menjadi bagian dari industri metafisika (satu genus dengan pembacaan tarot, aura, perdukunan) yang nilai totalnya mencapai $2 miliar dan mempekerjakan lebih dari 85 ribu orang dan 81 ribu cabang bisnis.

Riset yang dilakukan oleh PEW Forum menunjukkan bahwa satu dari empat orang Amerika Serikat dewasa percaya astrologi. Dari angka itu, 23 persen yang beragama Kristen mempercayai ramalan bintang. Hasil riset pada 2014 menunjukkan satu dari lima orang di Amerika Serikat tak bisa membedakan astrologi dengan astronomi. Dalam studi yang dilakukan Science and Engineering Indicators, sejak 2004 orang di Amerika Serikat yang percaya dengan astrologi meningkat terus.

Derek Beres pernah menulis di Bigthink ihwal mengapa manusia terobsesi dengan astrologi. Ia menulis bahwa manusia secara alamiah adalah makhluk reaktif dan kerap bereaksi pada yang tak kasat mata daripada yang berdampak langsung pada diri kita. Ia mencontohkan bagaimana orang Amerika Serikat bisa demikian menyangkal perihal kebenaran global warming namun mempercayai Tuhan.

“Bagaimana kita yakin pada hal yang tidak jelas, sementara yang benar-benar terjadi malah tak kita percayai?” katanya.

Astrologi, menurutnya, memanfaatkan itu semua. Kita memilih narasi atas sebuah hal yang kita anggap cocok sebagai musabab atas peristiwa yang kita alami. Misalnya jika Anda brengsek dan ditinggalkan, bukannya menelisik penyebabnya, Anda malah berpikir perpisahan itu disebabkan tak bisa bersatunya zodiak berkarakter api dengan zodiak Anda yang berkarakter air.

Tapi apakah astrologi selalu perkara tipu dan bual belaka? Bagi banyak orang, astrologi membantu hidup mereka dan memberikan jalan keluar atas masalah yang demikian pelik.

Robert Currey seorang astrokartografer dan astrolog, membela astrologi sebagai ilmu pengetahuan yang sahih. Ia menggugat dan keberatan astrologi disamakan dengan ilmu ramal atau tebak-tebakan berhadiah. Currey membuka argumennya dengan dialog bahwa astrologi telah ada sejak ribuan tahun lalu.

Ada 4.067 buku astrologi di Oxford University, 4.622 di Cambridge University, dan 2.260 buku serta disertasi tentang astrologi di University of London. Ia tidak bilang banyaknya buku-buku itu otomatis membuat astrologi menjadi sains Currey hanya ingin menunjukkan bahwa astrologi telah menjadi objek studi yang panjang.

Astrologi, bagi Currey, adalah studi tentang korelasi antara posisi dan pergerakan benda langit dan kehidupan dan proses fisik di bumi, dan akibat yang dihasilkannya. Meskipun beberapa astrolog bekerja dengan bintang-bintang dan rasi bintang, astrolog kebanyakan bekerja dengan matahari, bulan dan planet-planet (termasuk Pluto) dalam tata surya.

Bagi Currey, astrologi jauh melampaui kolom ramalan di surat kabar. Ia adalah ilmu yang memberikan panduan tentang pemahaman kita tentang alam semesta dan kaitannya dengan manusia. Hal inilah yang membuat biaya konsultasi seorang astrolog profesional bisa sangat mahal.

Baca juga artikel terkait ASTROLOGI atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight