21 Desember 1913

Apa Kabar Teka-teki Silang?

Reporter: Petrik Matanasi - 21 Des 2021 00:05 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Teka-teki silang (TTS) diciptakan oleh Arthur Wynne lebih dari satu abad lalu. Kini, sudah semakin terpinggirkan oleh hingar bingar dunia digital.
tirto.id - Indonesianis Ben Anderson terbiasa mendekatkan matanya ke sebuah buku atau koran yang dicoreti dengan sebuah pulpen ketika sedang santai. Salah satu tangan mengapit tongkat di ketiaknya. Ben asyik mengisi TTS rupanya. Hobi itu sudah lama dia lakoni. Sejak masih sekolah, Ben terbiasa mengasah otak, termasuk dengan TTS. Ketika awal-awal hidup jauh dari keluarganya, Ben sering dikirimi guntingan kliping TTS, yang dikirim bersama surat dari ibunya.

“Tante Celia mengirimi saya kliping teka-teki silang yang umumnya lebih sulit daripada teka-teki silang Amerika,”aku Ben seolah mengejek betapa remehnya Amerika, dalam Hidup di Luar Tempurung (2016), yang baru dirilis.

Tentu saja TTS bukan hobi pesohor ilmu pengetahuan macam Ben Anderson semata. Hobi ini tak ditentukan oleh tingkat penghasilan atau tingkat pendidikan. Dalam sebuah peguyuban penggemar TTS sulit seperti Kaki Langit, anggota datang dari beragam profesi, mulai dari mantan pejabat, pensiunan atau mahasiswa, hingga sopir.

Namanya paguyuban, tentu sesama anggota saling bertukar, termasuk bertukar pertanyaan TTS yang sulit. Jika menemukan pertanyaan sulit di TTS, mereka akan berkonsultasi dengan anggota lain. Tak jarang di antara anggota mengoleksi kamus, juga enskilopedia.

Menurut, Manang Wahjudi, paguyuban Kaki Langit terbentuk 15 Januari 2006 di Semarang, namun anggotanya tersebar juga di Jakarta dan Yogyakarta. Di antara anggota, ada yang sering menang kuis TTS yang rutin diadakan surat kabar.

Manang sejak SD mengisi TTS. Dia pernah menang di majalah Kuncung. Sudah puluhan kali Manang menang TTS. Dari hadiah Rp 50 ribu hingga Rp 150 pernah digondolnya. Manang tentu bukan satu-satunya orang yang sering menang. Ada anggota Kaki Langit yang memenangkan hadiah sepeda motor di tahun 2010 dari permainan mengisi kata dalam kotak-kotak itu.


Iseng-iseng Editor asal Liverpool

Di tahun 1891, ketika usianya belum genap 20 tahun, Arthur Wynne yang kelahiran Liverpool, naik kapal ke Amerika. Dia bermaksud mengadu nasib di tanah harapan bernama Amerika itu. Dia pernah bekerja di surat kabar Pittsburghs Press, sebelum akhirnya pindah ke surat kabar New York World. Dia juga pemain biola.

Menurut Tony Augarde, dalam The Oxford Guide to Word Games (2003), ketika menjadi editor New York World, dia meramaikan surat kabarnya dengan permainan asah otak. Dalam sebuah edisi terbit pada Minggu, 21 Desember 1913--tepat hari ini 108 tahun silam, Wynne meluncurkan permainan tebak kata, seperti dalam sebuah puzzle, dengan mengisi kolom mendatar dan menurun berdasarkan pertanyaan yang diajukan.

Belakangan, permainan ini disebut sebagai teka-teki silang (TTS). Rubrik TTS dikelola secara serius oleh redaksi New York World. Sejak 1920, Wynne dibantu lulusan Smith College bernama Margaret Petherbridge.

Menurut Tom Walsh, dalam Timeless Toys: Classic and the Playmaker Who Created Them (2005), pada 1924, Plaza Publishing mencetak 3.600 eksemplar buku kumpulan teka-teki silang, The Cross Word Puzzle Book. Prosesnya hanya berselang beberapa tahun setelah Arthur Wynne sang pencipta permainan ini mendapatkan status kewarganegaraan Amerika Serikat.

Seorang peneliti di tahun 1980-an menyebut 99 persen surat kabar merilis kuis TTS. Jutaan orang sudah keranjingan TTS. Sejumlah majalah bahkan ada yang secara khusus hanya berisi TTS. Di era 1970-an di Jakarta setidaknya ada majalah TTS, Asah Otak.

TTS tak melulu permainan di kala senggang. TTS sangat berguna dalam dunia pendidikan. Di sekolah, TTS bisa menjadi salah satu media pembelajaran, sehingga punya variasi dalam mengerjakan soal. TTS biasanya ada dalam pelajaran bahasa, sosial atau sejarah.

TTS pun rupanya menjadi bentuk tes. Pada Perang Dunia Kedua (1939-1945), TTS digunakan sebagai tes rekrutmen agen rahasia Inggris. Agen-agen ini sangat penting dalam memecahkan sandi militer Jerman. Jawatan intelejen Inggris, punya perhatian khusus terhadap orang-orang yang terbiasa memecahkan angka sejak Perang Dunia Pertama (1914-1918). Salah satunya adalah kakek Ben Anderson.

“Kadang-kadang saya bertanya-tanya apakah kegemaran seumur hidup saya akan teka-teki silang ini bawaan dari gen kakek,” tulis Ben.

Infografik Mozaik Teka Teki Silang
Infografik Mozaik Teka Teki Silang. tirto.id/Tino




Dari Kertas ke Online

Di era digital, TTS masih bisa ditemukan dalam bentuknya yang berbeda. Sebelum ini, TTS kebanyakan menempel di koran ataupun buku khusus TTS. Buku TTS biasa dijual dengan harga murah, tak sampai Rp3 ribu. Sampul buku TTS biasanya adalah model wanita dewasa. Buku TTS, yang sering kali berhadiah stiker perempuan-perempuan seksi, biasanya dijual bersama koran. Beli satu buku TTS kadang bonus pulpen satu.

TTS di koran-koran, biasa menawarkan hadiah ratusan ribu rupiah. Salah satu koran yang terkenal dengan TTS di Indonesia dalah Kompas. Peminat TTS Kompas cukup banyak, bahkan segelintir orang membocorkan jawaban setelah pemenang diumumkan. TTS Kompas minggu biasanya tersedia hadiah bagi 25 pemenang, dan TTS Kompas di hari kamis hanya 12 pemenang saja. Hadiah untuk tiap pemenang Rp 250ribu. Surat kabar lain yang punya kuis TTS lain adalah Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka dan lainnya.

Ketika senjakala media cetak menjelang seperti malaikat maut bagi banyak koran cetak, TTS yang sering hadir bersama koran-koran, tak lantas berakhir riwayatnya.

TTS kini hadir seperti tetris. Tinggal mengetik huruf di tiap kolom yang ingin diisi. Beberapa situs yang menyediakan permainan TTS di Indonesia antara lain www.indotts.com, www.teka-tekisilang.com atau www.games.co.id, ataupun blog bernama andimendunia.blogspot.co.id, yang juga punya permainan TTS. Android apps atau Apple Apps pun menyediakan permainan teka-teki silang. Tak perlu lagi membawa pulpen, buku atau koran TTS seperti Ben, cukup bawa smartphone saja. TTS akan kembali hadir, dengan nuansa yang lebih modern.


==========

Naskah ini pernah terbit pada 1 Agustus 2016 dengan judul yang sama. Redaksi melakukan penyuntingan ulang untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait TTS atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Hobi)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti

DarkLight