Menuju konten utama

Apa Itu Virus Cacar Monyet, Apakah Menular & Bagaimana Mengobatinya

Apa itu cacar monyet atau monkeypox? Gejala, penyebab dan cara mengobatinya.

Apa Itu Virus Cacar Monyet, Apakah Menular & Bagaimana Mengobatinya
Ilustrasi Cacar Monyet. foto/istockphoto

tirto.id - Virus cacar monyet atau Monkeypox dilaporkan semakin menyebar di banyak negara dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, sejak 13 Mei 2022, kasus cacar monyet telah dilaporkan ke WHO dari 12 Negara Anggota yang tidak endemik virus cacar monyet, di tiga wilayah WHO.

Hingga kini, investigasi epidemiologis sedang berlangsung, namun, kasus yang dilaporkan sejauh ini tidak memiliki hubungan perjalanan yang mapan ke daerah endemik dan tidak ada kematian yang dilaporkan sampai saat ini.

Situasinya pun semakin berkembang dan WHO memperkirakan akan ada lebih banyak kasus cacar monyet yang teridentifikasi seiring meluasnya pengawasan di negara-negara non-endemik.

Bukti yang ada saat ini menunjukkan bahwa mereka yang paling berisiko adalah mereka yang pernah melakukan kontak fisik dekat dengan penderita cacar monyet, sementara mereka masih menunjukkan gejala.

Penyakit cacar monyet dikategorikan berbahaya dan virusnya mudah menular serta dapat menular melalui percikan droplet.

Penularan cacar monyet ini bisa terjadi melalui kontak erat manusia atau benda yang terkontaminasi dengan virus cacar monyet.

Cacar monyet termasuk penyakit zoonis yang artinya dapat menular dari hewan ke manusia.

“Penularan cacar monyet atau monkeypox ini bisa terjadi melalui darah, air liur, cairan tubuh serta ingus saluran pernafasan,” kata Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin RSUD dr. Iskak Tulungagung, dr. Sekar Puspita, seperti dikutip laman resminya.

Sekar menjelaskan, penyakit cacar monyet ini memiliki masa inkubasi 6-16 hari, namun juga bisa mencapai 5-21 hari.

Sampai saat ini Kementerian Kesehatan menyatakan belum ditemukan kasus positif penyakit menular cacar monyet (monkeypox) di Indonesia.

Meski demikian sebagai pencegahan, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) telah mengaktifkan alat deteksi panas di pintu-pintu pelabuhan kapal dan bandara udara untuk memindai penumpang (terutama dari Singapura dan Afrika) yang mengalami kenaikan suhu tubuh lebih dari 37,5° Celsius, lalu memeriksa kondisi tubuh sesuai gejala penyakit cacar monyet.

Langkah ini dilakukan karena Indonesia, sebagai tetangga dekat Singapura, memiliki frekuensi transportasi yang sangat tinggi dari negara tersebut ke beberapa kota di Indonesia.

Penyebab Virus Cacar Monyet

Cacar monyet disebabkan oleh virus human monkeypox (MPXV) orthopoxvirus dari famili poxviridae yang bersifat highlipatogenik atau zoonosis.

Virus Ini pertama kali ditemukan pada monyet di tahun 1958 di Kopenhagen, Denmark, sedangkan kasus pertama pada manusia (anak-anak) terjadi pada tahun 1970 di Republik Kongo, Afrika.

Pada manusia, gejala cacar monyet mirip tetapi lebih ringan daripada gejala cacar. Monkeypox dimulai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.

Perbedaan utama antara gejala cacar dan cacar monyet adalah bahwa cacar monyet menyebabkan kelenjar getah bening membengkak (limfadenopati) sedangkan cacar tidak.

Masa inkubasi (waktu dari infeksi hingga gejala) cacar monyet biasanya 7-14 hari tetapi dapat berkisar antara 5-21 hari.

Gejala Cacar Monyet

Dikutip laman CDC, penyakit cacar monyet dimulai dengan gejala berikut ini:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Sakit punggung
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Panas dingin
  • Kelelahan
Dalam 1 sampai 3 hari (kadang-kadang lebih lama) setelah munculnya demam, pasien mengalami ruam, sering dimulai pada wajah kemudian menyebar ke bagian lain dari tubuh.

Lesi berkembang melalui tahap-tahap berikut sebelum jatuh:

  • makula
  • papula
  • Vesikel
  • pustula
  • keropeng
Penyakit ini biasanya berlangsung selama 2−4 minggu. Di Afrika, cacar monyet telah terbukti menyebabkan kematian pada 1 dari 10 orang yang terjangkit penyakit tersebut.

Pengobatan Cacar Monyet

Hingga saat ini tidak ada pengobatan yang terbukti atau aman untuk cacar monyet, dan kebanyakan orang pulih dan bertahan hidup tanpa intervensi apa pun.

Meskipun Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui vaksin untuk penularan cacar monyet, vaksin tersebut belum digunakan untuk populasi umum selama hampir 50 tahun dan saat ini masih berada dalam Cadangan Strategis Nasional.

Sementara gejala cacar monyet tidak jelas dan tampak seperti banyak infeksi saluran pernapasan yang lebih umum, tetap saja penderitanya harus menghubungi dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Menurut situs Healthline, jika Anda memiliki ruam baru yang tidak dapat dijelaskan, Anda harus menghubungi dokter Anda untuk evaluasi dan pengobatan.

Dokter biasanya dapat menilai kekhawatiran apa pun untuk cacar monyet, dan sebagai tambahan, mengoordinasikan pemeriksaan dan perawatan yang tepat untuk banyak penyebab ruam lainnya juga.

Baca juga artikel terkait CACAR MONYET atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

tirto.id - Gaya hidup
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Addi M Idhom