Apa itu Victim Mentality: Mentalitas Korban yang Manipulatif

Oleh: Yonada Nancy - 27 Desember 2020
Dibaca Normal 1 menit
Beberapa orang yang memiliki mentalitas korban cenderung manipulatif dan berusaha membuat orang lain merasa bersalah
tirto.id - Setiap orang, dalam titik tertentu, akan mengalami kesulitan atau kejadian tidak menyenangkan. Beberapa orang mungkin berhasil mengatasi kesulitan tersebut, namun sebagian mungkin tidak. Beberapa orang, ketika mengalami situasi yang sulit, mungkin akan menyebut situasi tersebut sebagai "ketidakadilan." Dari pola pikir tersebut, mereka lalu menempatkan diri sebagai korban dari situasi yang menyulitkan tersebut.

Kondisi ini kemudian disebut victim mentality atau mentalitas korban. Dilansir dari WebMd Robert Leahy, PhD, direktur American Institute for Cognitive Therapy menyebutkan ada 6 karakteristik yang menunjukkan seseorang memiliki mentalitas korban, yakni:
    • merasa tidak berdaya dalam memecahkan atau mengatasi suatu permasalahan
    • cenderung melihat permasalahan sebagai bencana
    • cenderung berpikir bahwa ada seseorang yang berusaha merugikan atau menyakiti
    • memiliki keyakinan bahwa diri sendiri adalah sasaran penganiayaan
    • menolak untuk mempertimbangkan cara lain untuk mengatasi masalah
    • merasa terus menghidupkan kenangan menyakitkan, sulit memaafkan, dan menyimpan dendam.
Memiliki mentalitas ini dinilai sangat melelahkan. Hal ini karena orang dengan mentalitas korban terus menerus hidup dalam kekhawatiran dan sering marah atau menyalahkan orang-orang di sekitar mereka. Seseorang yang memiliki mentalitas korban juga mungkin memiliki masalah sosial.

Beberapa orang yang memiliki mentalitas korban cenderung manipulatif dan berusaha membuat orang lain merasa bersalah. Selain itu, mentalitas ini juga dapat mengganggu pekerjaan karena menyebabkan seseorang terus menghindari tanggung jawab.


Muncul karena trauma dan ketidakmandirian

Mentalitas korban tidak dimiliki begitu saja oleh seseorang. Dikutip dari Healthline, kondisi ini berakar dari suatu permasalahan tertentu, seperti trauma masa lalu. Pola pikir sebagai korban bisa berkembang sebagai tanggapan atas viktimisasi yang sebenarnya.

Bisa jadi seseorang mengalami perundungan, pengkhianatan, atau pelecehan di masa lalu. Meski demikian, tidak semua orang yang mengalami trauma memiliki mentalitas korban. Ini karena setiap orang bereaksi terhadap permasalahan dengan cara yang berbeda.

Mentalitas korban juga dapat berkembang dari ketidakmandirian. Seseorang yang hidupnya terlalu bergantung pada orang lain lebih mungkin memiliki mentalitas korban. Kondisi ini menyebabkan seseorang merasa frustrasi dan kesal karena tidak mendapatkan apa yang mereka mau, tanpa mengakui bahwa mereka berperan dalam situasi tersebut.

Atasi victim mentality

Untuk bisa mengatasi kondisi ini, orang dengan mentalitas korban perlu memiliki kesadaran dan keinginan untuk lepas dari hal tersebut. Ada sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan kecenderungan mentalitas korban, yakni:
    • mencintai diri sendiri dan mulai memaafkan kejadian-kejadian menyakitkan yang sudah berlalu
    • melepaskan seluruh pikiran negatif
    • hilangkan kecenderungan memikirkan diri sendiri dengan melakukan kebaikan pada orang lain
    • buat keputusan secara sadar lalu tanamkan bahwa setiap keputusan ada baik-buruknya dan itu hal yang wajar
    • keluar dari zona nyaman, belajar hal baru, bertemu orang baru, dan melihat dari perspektif baru
    • berlatih mensyukuri apa yang dipunya saat ini, fokus pada hal-hal yang membangkitkan semangat

Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan menarik lainnya Yonada Nancy
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Yonada Nancy
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight