Menuju konten utama

Apa Itu Terapi Plasma Konvalesen yang Diklaim Bisa Obati COVID-19

Mengenal terapi plasma konvalesen, benarkah bisa jadi alternatif sembuhkan pasien corona?

Apa Itu Terapi Plasma Konvalesen yang Diklaim Bisa Obati COVID-19
Seorang pasien sembuh COVID-19 mendonorkan plasma darahnya di Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia Kota Surabaya, Jawa Timur, Jumat (18/9/2020). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.

tirto.id -

Plasma konvalesen adalah salah satu jenis pengobatan COVID-19, yaitu terapi dengan menggunakan darah yang berasal dari donor darah pasien yang telah sembuh dari infeksi COVID-19.

Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla mendorong pengelola unit donor darah di daerah untuk memproduksi plasma konvalesen yang dapat digunakan untuk pengobatan COVID-19.

“Unit donor darah ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Apalagi di era pandemi ini, salah satu pengobatan yang dianggap cukup ampuh yakni plasma konvalesen,” kata JK dikutip Antara.

Plasma konvalesen tersebut dapat diberikan kepada pasien yang mengalami kondisi kritis akibat terinfeksi COVID-19.

PMI bekerja sama dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman untuk pengambilan plasma konvalesen dari pasien sembuh COVID-19. Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio menjelaskan plasma konvalesen diambil dari darah pasien yang telah dinyatakan sembuh COVID-19 sejak dua hingga empat pekan.

Durasi tersebut dinilai tepat untuk memproduksi plasma karena tubuh pasien sembuh COVID-19 memiliki antibodi yang sangat baik untuk menetralkan virus.

Terapi plasma konvalesen

Terapi ini telah diterapkan di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Namun, terapi ini belum bisa disimpulkan efektif untuk pasien corona.

Terapi konvalesen dilakukan dengan memanfaatkan plasma darah pasien positif Covid-19 yang sudah sembuh. Plasma darah yang mengandung antibodi tersebut ditransfusikan ke pasien Covid-19 yang masih sakit. Sebenarnya, terapi ini sudah lama digunakan untuk menyembuhkan sejumlah penyakit infeksi, seperti flu spanyol, difteri, pnemonia, cacar air dan lainnya.

Terkait teknik terapi ini, Guru Besar Kedokteran University of Virginia, William Petri belum yakin dengan efektivitas terapi plasma konvalesen. Ia menilai manfaatnya perlu dibuktikan terlebih dahulu dalam uji klinis terkontrol. Dia mengakui ada uji klinis acak yang menemukan bahwa tingkat virus corona dalam tubuh pasien penerima terapi konvalesen menurun drastis. Sayangnya, uji klinis acak itu hanya melibatkan 103 pasien yang menerima terapi plasma selama 14 hari usai sakit. Selain itu, belum diketahui perbedaan dalam hal kecepatan sembuh atau penurunan risiko kematian antara pasien penerima terapi plasma dan tidak.

Sebuah studi India menemukan perawatan COVID-19 dengan menggunakan plasma darah pasien COVID-19 yang sembuh atau plasma konvalesen tidak mengurangi risiko pasien dari sakit parah maupun sekarat.

Al Jazeera melaporkan, studi yang melibatkan 400 pasien COVID-19 di rumah sakit itu menyelidiki plasma konvalesen sebagai perawatan kepada pasien dengan gejala sedang. Hasilnya, yang diterbitkan oleh jurnal kesehatan BMJ pada Jumat menyimpulkan, plasma konvalesen itu menunjukkan efektivitas yang terbatas.

Temuan ini, yang merupakan uji klinik pertama yang mempelajari efektivitas plasma konvalesen, menjadi kontranarasi dan kemunduran dari klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut perawatan ini sebagai “terobosan sejarah” pada Agustus lalu.

Baik Amerika Serikat dan India, dua negara yang tengah berjibaku melawan penularan COVID-19 tertinggi di dunia ini, menggunakan plasma ini untuk perawatan darurat. Sementara negara lain, termasuk di antaranya Inggris, tengah mengumpulkan donasi plasma konvalesen, sehingga dapat segera digunakan jika terbukti sebagai pengobatan yang efektif.

____________________

Artikel ini diterbitkan atas kerja sama Tirto.id dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Baca juga artikel terkait KAMPANYE COVID-19 atau tulisan lainnya dari Yulaika Ramadhani

tirto.id - Kesehatan
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Agung DH