Apa Itu Syok Anafilaktik yang Bisa Jadi Efek Samping Vaksin

Oleh: Addi M Idhom - 26 Januari 2021
Dibaca Normal 1 menit
Meskipun jarang terjadi, Syok Anafilaktik merupakan efek samping vaksin yang perlu diantisipasi.
tirto.id - Syok Anafilaktik atau Reaksi Anafilaktik adalah syok yang disebabkan oleh reaksi alergi yang berat. Syok anafilaktik bisa terjadi akibat vaksinasi, meskipun jarang terjadi. Kondisi ini juga memerlukan pertolongan yang cepat dan tepat.

Reaksi Anafilaktik tergolong ke dalam Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang serius. Maka itu jika syok anafilaktik terjadi, setiap kejadian harus segera dilaporkan secara berjenjang yang lantas ditindaklanjuti dengan investigasi oleh petugas kesehatan yang menyelenggarakan imunisasi.

Prof. Dr. Kusnandi Rusmil, dr., Sp.A(K), MM, guru Besar UNPAD sekaligus Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Sinovac memperkirakan kejadian anafilaktik akan terjadi di penyuntikan vaksin skala besar.

Oleh karena itu, pengelola fasilitas pelayanan kesehatan harus selalu siap mengantisipasi potensi adanya efek samping ini.

"Kalau melakukan vaksinasi 1 juta saja, 1-2 orang akan pingsan. Kalau yang disuntik 10 juta maka yang pingsan 10-20 orang, orang akan ribut, medsos bertubi tubi, media sibuk. Padahal, memang seperti itu. Jadi kita harus siap siap," kata Kusnandi, dikutip dari laman Kemenkes pada 23 Januari 2021.


Sekalipun begitu, Kusnandi mengingatkan bahwa vaksinasi memiliki manfaat yang jauh lebih besar dibanding risikonya.

Dia juga memastikan bahwa vaksin yang kini dipakai dalam program vaksinasi Covid-19 terbukti aman, sesuai dengan rekomendasi WHO, memiliki reaksi lokal dan efek sistemik rendah, memiliki imunogenitas tinggi, sekaligus efektif untuk mencegah infeksi virus corona.

Kusnandi menambahkan, hingga kini kejadian reaksi anafilaktik belum ditemukan selama program vaksinasi Covid-19 dijalankan di Indonesia.

Efek samping yang muncul dari penyuntikan vaksin Covid-19 buatan Sinovac, menurut dia, masih di kategori ringan. Misalnya, sering mengantuk seperti yang dialami Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan pesohor Rafi Ahmad.


Menurut Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI), Dr. dr. Hindra Irawan Satari, SpA(K), MTropPaed, reaksi anafilaktik akibat vaksinasi memang jarang terjadi.

Kata dia, reaksi anafilaktik juga bisa disebabkan oleh faktor lain, selain vaksin. "Anafilaktik dapat terjadi terhadap semua vaksin, terhadap antibiotik, terhadap kacang, terhadap nasi juga bisa, terhadap zat kimia juga bisa," kata dia.

Hindra menjelaskan, jika terjadi reaksi anafilaktik pasca-vaksinasi COVID-19, prosedur yang bakal dijalankan telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) nomor 12 tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.

"Sudah ada di Peraturan Menteri Kesehatan, sudah ada kit [alat] anafilaktik yang harus disediakan, sudah ada petunjuk mengenai gejalanya, juga sudah ada tanda petunjuk untuk cara pelaksanaan vaksinasi," kata Hindra.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC), badan kesehatan pemerintah AS menyatakan, sudah menerima laporan mengenai adanya kejadian Syok Anafilaksis setelah vaksinasi Covid-19.

CDC menerangkan bahwa anafilaksis merupakan reaksi alergi akut serta berpotensi mengancam jiwa, sehingga perlu penanganan segera jika kondisi itu dialami seseorang.

Berdasarkan pantauan CDC, sejumlah tanda gejala Syok Anafilaksis adalah:

  • Pernapasan: sensasi tenggorokan tertutup, stridor (suara bernada tinggi saat bernapas), sesak napas, mengi, batuk.
  • Gastrointestinal: mual, muntah, diare, sakit perut
  • Kardiovaskular: pusing, pingsan, takikardia (detak jantung sangat cepat), hipotensi (tekanan darah rendah yang tidak normal)
  • Kulit/mukosa: gatal-gatal umum, gatal, atau bengkak pada bibir, wajah, dan tenggorokan.

Baca juga artikel terkait VAKSIN COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH
DarkLight