Apa Itu Resesi yang Melanda Singapura Saat Pandemi COVID-19?

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 15 Juli 2020
Dibaca Normal 2 menit
Definisi resesi yang mungkin terjadi di sejumlah negara saat pandemi corona COVID-19.
tirto.id - Resesi adalah pelambatan atau kontraksi besar dalam kegiatan ekonomi. Penurunan pengeluaran yang signifikan umumnya mengarah ke resesi.

Diwartakan The Economic Times, pelambatan dalam kegiatan ekonomi dapat berlangsung selama beberapa kuartal sehingga benar-benar menghambat pertumbuhan ekonomi.

Dalam situasi seperti itu, indikator ekonomi seperti PDB, laba perusahaan, pekerjaan, dan lain-lain, turun dan akan menciptakan kekacauan di seluruh ekonomi.

Untuk mengatasi ancaman, ekonomi umumnya bereaksi dengan melonggarkan kebijakan moneter dengan memasukkan lebih banyak uang ke dalam sistem, yaitu dengan meningkatkan jumlah uang beredar.

Langkah ini dilakukan dengan mengurangi suku bunga. Peningkatan pengeluaran oleh pemerintah dan penurunan pajak juga dianggap jawaban yang baik untuk masalah ini.

Salah satu negara yang memasuki resesi saat pandemi COVID-19 adalah Singapura yang pada kuartal II 2020 mengalami kontraksi/perlambatan sampai 41,2 persen dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya.

Angka tersebut merupakan nilai perlambatan paling rendah yang pernah dialami Singapura, salah satunya karena kebijakan karantina yang melumpuhkan sektor dagang di negara tersebut.

Beberapa ekonom memperkirakan ekonomi Singapura akan turun sampai 37,4 persen, dan sektor konstruksi akan mengalami perlambatan paling parah sampai 95,6 persen.

Informasi awal dari Kementerian Perdagangan dan Industri pada Selasa (14/7/2020) menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura year-on-year (yoy) turun sampai 12,6 persen. Pengamat sebelumnya memprediksi PDB anjlok sampai 10,5 persen.

Turunnya nilai PDB Singapura itu merupakan kontraksi kedua yang terjadi berturut-turut pada perekonomian Singapura. PDB sebelumnya turun 0,3 persen (yoy) pada kuartal I dan 3,3 persen jika dilihat dari kuartal-per-kuartal. Kondisi itu menunjukkan perekonomian Singapura menghadapi resesi.

Resesi biasanya terjadi selama dua periode tiga bulan - atau empat bulan - berturut-turut. Jika resesi berlangsung lama, atau sangat buruk, itu dikenal sebagai depresi.

Resesi Saat Pandemi COVID-19


Diwartakan BBC.com, sebagian besar negara maju menunjukkan ekonomi mereka menyusut antara Januari dan Maret, ketika virus corona mulai melanda. PDB Inggris turun 2,2% pada kuartal pertama.

Angka-angka bulanan menunjukkan akan ada pukulan besar bagi perekonomian pada kuartal kedua tahun ini. Periode tiga bulan dari Maret hingga Mei memperlihatkan penurunan PDB sebesar 19,1%.

Jadi ketika angka-angka terakhir untuk April hingga Juni diterbitkan, hampir dipastikan Inggris berada dalam resesi yang parah.

The International Monetary Fund (IMF) memperkirakan penurunan besar PDB untuk tahun 2020 secara keseluruhan - penurunan luar biasa 5,9% untuk AS dan 6,5% untuk Inggris.

IMF memperkirakan seluruh ekonomi dunia akan menyusut 3% tahun ini, menjadikannya resesi terburuk sejak Great Depression pada tahun 1930-an.

Dampak Resesi


Resesi bisa berdampak pada beberapa orang yang mungkin kehilangan pekerjaan atau lebih sulit untuk mendapatkan peluang dan promosi baru. Akan lebih sedikit lowongan yang tersedia bagi lulusan baru yang mencari pekerjaan pertama.

Mereka yang tetap bekerja mungkin akan tidak mengalami kenaikan gaji - atau harus bekerja lebih lama atau menerima pemotongan gaji.

Pengawas pengeluaran pemerintah Inggris, Office for Budget Responsibility (OBR), menyebutkan tingkat pengangguran bisa lebih dari dua kali lipat, menjadi 10% musim panas ini.

Mereka juga memperkirakan, pemerintah mungkin harus meminjam lebih dari £300 miliar untuk menutupi biaya krisis.

Namun, dampak resesi biasanya tidak dirasakan sama di seluruh masyarakat, dan ketidaksetaraan dapat meningkat.

Resesi yang melanda dunia pada tahun 2008 adalah contoh terbaru dari resesi.

Cara Menangani Resesi Ekonomi


Salah satu cara untuk mengatasi resesi dan memulihkan ekonomi adalah mengendalikan COVID-19 dengan penemuan vaksin.

Sebelum vaksin ditemukan, ada beberapa solusi lain. Dalam resesi terakhir, bank sentral memangkas suku bunga untuk mendukung perekonomian. Itu berarti orang dan bisnis dapat meminjam lebih mudah, dan memiliki lebih banyak untuk dibelanjakan.

Tetapi suku bunga sudah mendekati nol di banyak tempat, dan mungkin tidak mungkin untuk memotongnya lebih jauh.

Pemerintah di seluruh dunia sudah meminjam sejumlah besar dana untuk mendukung ekonomi mereka melalui pemotongan pajak dan pengeluaran publik yang lebih tinggi - seperti skema cuti, dukungan untuk bisnis, dan bahkan pembayaran tunai langsung ke warga negara.

Akan tetapi pinjaman itu harus dibayar, yang akan terasa selama beberapa dekade mendatang.

IMF memperkirakan resesi akan berakhir tahun depan dan ekonomi dunia akan mulai bangkit kembali. Namun, tidak ada yang tahu seberapa lama pemulihan berlangsung.

Jika semua bisnis yang tutup selama pandemi dan lockdown dapat dibuka dengan cepat, konsekuensi dari resesi akan sedikit lebih baik.

Namun, ada kekhawatiran virus akan mulai menyebar lagi, dan orang-orang akan waspada bepergian bahkan jika mereka diberitahu bahwa itu aman.

Kapal pesiar, perjalanan udara, dan konferensi bisnis khususnya dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih kembali.

Jadi, menurut BBC.com, konsekuensi dari resesi ini akan terasa sampai bertahun-tahun yang akan datang.


Baca juga artikel terkait RESESI EKONOMI atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Agung DH
DarkLight