Apa Itu Interleukin-6 untuk Obat COVID-19 yang Telah Disetujui WHO

Oleh: Endah Murniaseh - 17 Juli 2021
Dibaca Normal 2 menit
Interleukin-6 merupakan sitokin yang diproduksi oleh Makrofag yang akan menginduksi respon proinflamasi.
tirto.id - World Health Organization (WHO) menyetujui penggunaan reseptor Interleukin-6 (IL-6) bagi pasien COVID-19 yang dalam sakit parah atau kritis. Obat ini diyakini dapat bekerja secara optimal bila dikonsumsi dengan Kortikosteroid.

Interleukin-6 merupakan sitokin yang diproduksi oleh Makrofag yang akan menginduksi respon proinflamasi.

Sebelumnya Interleukin-6 telah melalui 27 kali uji klinis terhadap 10 ribu pasien. Obat ini merupakan obat pertama yang ditemukan WHO dan terbukti efektif untuk melawan COVID-19 semenjak kortikosteroid direkomendasikan oleh WHO pada Sempetember 2020 untuk melawan COVID-19.

Penderita COVID-19 yang tengah kritis akan memiliki reaksi sistem kekebalan tubuh yang berlebihan dan dapat membahayakan kondisi mereka. Interleukin-6 jenis Tocilizumab dan Sarilumab akan menetralkan reaksi yang berlebihan dalam tubuh.

Obat ini akan mengurangi kemungkinan 13 persen kematian terhadap penderita COVID-19 yang berada dalam perawatan standar. Hal ini juga berarti bahwa akan terdapat penurunan kematian sebesar 15 kasus pada 1000 pasien, serta mengurangi 28 kasus kematian pada setiap 1000 pasien yang kritis.

Selain itu, ventilasi mekanik diantara pasien yang kritis akan berkurang 28% dibandingkan dengan pasien yang dalam masa perawatan regular. Hal ini berarti 23 dari 1000 pasien yang membutuhkan ventilasi mekanik.

Namun sayangnya obat ini tidak akan didistribusikan ke seluruh negara di dunia. WHO hanya akan mendistribusikan ke negara yang sulit untuk mendapatkan akses vaksin karena negara-negara tersebut rentan terinveksi COVID-19 yang parah.

Agar akses serta keterjangkauan produk ini berjalan dengan baik, WHO juga mendorong produsen obat untuk menurunkan harga serta menyediakan pasokan ke negara yang berpenghasilan rendah dan menengah, terutama negara dengan kasus COVID-19 yang tengah melonjak.

“Obat-obat ini menawarkan harapan bagi pasien dan keluarga yang menderita dampak buruk dari COVID-19 yang parah dan kritis. Tetapi penghambat reseptor IL-6 tidak dapat diakses serta dijangkau oleh sebagian besar dunia”, ucap Tedros Adhanom Ghebreyesus selaku Direktur Jendral WHO yang dikutip dari laman WHO.

Mengutip dari COVID-19 Treatment Guidelines, terdapat dua jenis IL-6 yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA), yaitu Antibody Monoclonal Reseptor Anti IL-6 yang terdiri atas Sarilumab dan Tocilizumab. Serta Antibody Monoclonal Anti IL-6, yaitu Siltuximab.

Berikut adalah fungsi dari Antibody Monoclonal Reseptor Anti IL-6 dan Antibody Monoclonal Anti IL-6, serta dampak penggunaannya.

    • Tocilizumab
Merupakan Antibody Monoclonal Reseptor IL-6 yang disetujui oleh FDA untuk pasien dengan gangguan Reumatologi dan sindrom pelepasan sitokin yang diinduksi oleh terapi Chimeric Antigen Receptor (CAR) sel T.

Tocilizumab dapat diberikan untuk injeksi IV atau subkutan. Injeksi IV harus dilaukan untuk mengobati pelepasan sindrom sitokin.

Dampak penggunaan Tocilizumab adalah peningkatan kadar enzim hati. Namun dengan dosis yang semakin meningkat, maka akan meningkatkan risiko infeksi seperti tuberculosis, infeksi bakteri atau jamur serta perforasi usus.
    • Sarilumab
Merupakan Antibody Monoclonal Reseptor Anti IL-6 yang disetujui oleh FDA untuk digunakan oleh pasien dengan Rehematoid Arthritis. Sarimulab juga dapat digunakan sebagai formulasi SQ, namun tidak dapat digunakan sebagai pengobatan pelepasan sindrom sitokin.

Penggunaan Sarilumab akan meningkatkan sementara reversible pada enzim hati. Peningkatan dosis serta penggunaan jangka panjang pada Sarilumab akan meningkatkan risiko infeksi Tuberculosis, infeksi bakteri atau jamur serta perforasi usus.
    • Siltuximab
Merupakan Antibody Monoclonal Anti IL-6 yang mengikat IL-6 dan disetujui FDA untuk pasien dengan penyakit Castlemen Multisentrik. Siltuximab biasa diberikan sebagai infus IV, Siltuximab mencegah pengikatan IL-6 ke reseptor yang larut dan terikat oleh membrane, dan menghambat pensinyalan IL-6.

Penggunaan Siltuximab dapat menyebabkan ruam, serta efek samping lain seperti infeksi bakteri pada usus setelah penggunaan Siltuximab selama 3 minggu.


Baca juga artikel terkait INTERLEUKIN-6 atau tulisan menarik lainnya Endah Murniaseh
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Endah Murniaseh
Penulis: Endah Murniaseh
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight