Apa Itu Imperialisme dan Sejarah Kemunculannya?

Kontributor: Rizal Amril Yahya - 31 Mei 2022 10:15 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Berikut ini pengertian imperialisme dan sejarah kemunculannya sejak zaman kuno hingga modern
tirto.id - Imperialisme merupakan istilah yang merujuk pada sistem perluasan kekuasaan suatu negara kaya dan berkuasa di luar daerah negara tersebut. Kata imperialisme sendiri berasal dari bahasa latin imperium yang berarti kekuasaan, pemerintahan, dan kedaulatan. Lantas, apa pengertian imperialisme dan bagaimana sejarah kemunculannya?

Pada mulanya, istilah ini digunakan untuk merujuk sistem perluasan kekuasaan yang dilakukan kerajaan Inggris di kawasan Asia-Afrika pada abad ke-19.

Imperialisme memiliki tujuan utama untuk mendapatkan sumber daya secara murah dengan mendirikan pemerintahan imperialis di wilayah jajahan yang dianggap miskin dan terbelakang namun kaya akan sumber daya.

Dilansir Britannica, demi mendapatkan tujuan tersebut, negara imperialis menggunakan berbagai cara, mulai dari ekspansi militer hingga cara yang lebih halus, misalnya penerapan budaya negara imperialis di wilayah jajahan.

Eksploitasi ekonomi tersebut seringkali dibarengi dengan klaim bahwa negara imperialis tengah membantu wilayah jajahannya untuk keluar dari jerat kemiskinan dan keterbelakangan lewat imperialisme.

Klaim tersebut sering kali diiringi dengan menyebarnya sistem peradaban Barat yang memperkenalkan kemajuan teknologi dan tata kelola pemerintahan di wilayah-wilayah jajahan.

Perspektif yang etnosentris tersebut sering kali berujung pada penerapan kebijakan-kebijakan di wilayah jajahan yang berlandaskan pada segregasi rasial masyarakat.

Selain itu, imperialisme yang dilakukan Barat turut dipengaruhi faktor agama yang lekat dalam sistem kehidupan bangsa Eropa.

Negara imperialis percaya bahwa imperialisme merupakan salah satu bentuk pengamalan tugas suci keagamaan, berupa penyebaran agama Nasrani. Kepercayaan bangsa imperialis ini sering kali disebut dengan istilah The White Man Burden.

Sejauh ini, penerapan imperialisme terbagi menjadi 2 kategori menurut waktu berlangsungnya imperialisme, yakni imperialisme kuno dan imperialisme modern.


Imperialisme Kuno


Imperialisme kuno merujuk pada praktik imperialisme yang dilakukan negara-negara besar atas negara-negara di luar batas teritorinya sebelum Revolusi Industri pada 1870.

Beberapa imperium yang muncul sebelum 1870 antara lain imperium Romawi, Turki Usmani, Cina, Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, atau Perancis.

Imperium-imperium tersebut telah sejak lama memperluas daerah kekuasaannya di wilayah Asia, Afrika, dan Amerika.

Imperialisme kuno juga dapat dilihat dari tujuan khasnya, yang tidak hanya mendapatkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memperluas pengaruh keagamaan dan kejayaan atau dikenal dengan semangat 3G (Gold, Glory, dan Gospel).

Imperialisme Modern


Berbeda dari imperialisme kuno yang telah dijelaskan di atas, imperialisme modern merujuk pada praktik imperialisme yang terjadi pasca Revolusi Industri 1870.

Revolusi Industri yang menjanjikan efektivitas dan produktivitas sektor industri membuat wilayah Eropa mengalami surplus modal dan barang.

Keadaan ini kemudian mendorong negara-negara Barat melakukan ekspansi ke luar wilayah kekuasaannya.

Corak imperialisme modern yang terjadi usai Revolusi Industri lebih menekankan pada aspek eksploitasi ekonomi wilayah terjajah.

Pasca 1870, praktik imperialisme difokuskan untuk mendapatkan kekuasaan atas wilayah-wilayah yang kaya akan bahan baku untuk keperluan industri Eropa.

Bangsa-bangsa Eropa kemudian melakukan penjelajahan ke berbagai benua (terutama benua Asia, Afrika, dan Amerika) untuk mencari bahan baku murah.

Selain itu, wilayah-wilayah jajahan juga dijadikan sebagai jejaring pasar produk-produk industri Barat.


Perlawanan terhadap Imperialisme di Indonesia


Dari sejarahnya, wilayah negara ketiga, seperti Indonesia yang kaya akan sumber daya alam menjadi tujuan dari praktik imperialisme.

Tercatat, kerajaan Portugis, Spanyol, dan Belanda pernah menguasai wilayah Indonesia untuk kepentingan komoditas rempah.

Dikutip dari buku Galang Rasa Nasionalisme Indonesia (2018) yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, rakyat Indonesia di berbagai daerah di Nusantara melakukan perlawanan terhadap praktik imperialisme dan kolonialisme yang kala itu diterapkan di Indonesia.

Berikut ini beberapa contoh perlawanan rakyat Indonesia terhadap praktik imperialisme dan kolonialisme di Indonesia.

1. Perlawanan Kesultanan Ternate

Setelah Portugis menguasai Malaka, kerajaan dari Eropa tersebut menerapkan kebijakan monopoli perdagangan yang membuat rakyat Kesultanan Ternate merugi.

Sultan Hairun dari Ternate kemudian memimpin perlawanan rakyat dengan berperang melawan pemerintahan Portugis.

Namun, Sultan Hairun gagal, ia kemudian ditangkap dan dieksekusi pada 1570.

Perlawanan rakyat Ternate kemudian diteruskan oleh penerus Sultan Hairun, yakni Sultan Baabullah.

Perlawanan rakyat yang dipimpin Sultan Baabullah berhasil mengusir Portugis dari Ternate pada 1575.

Portugis kemudian menyingkir ke Pulau Timor hingga menjelang akhir abad XX.

2. Perlawanan Kesultanan Demak

Berhasilnya Portugis menguasai Malaka ternyata berimbas pada kerajaan-kerajaan di pulau Jawa.

Malaka merupakan jalur perdagangan kerajaan-kerajaan di Jawa. Oleh karena itu, kebijakan monopoli yang dilakukan Portugis membuat perdagangan kerajaan di Jawa terganggu.

Karena khawatir dengan kemungkinan ekspansi Portugis ke pulau Jawa, Kesultanan Demak mengonsolidasikan kekuatan tempur untuk menguasai Sunda Kelapa, yang waktu itu menjadi salah satu jalur perdagangan penting setelah Malaka.

Berhasil menguasai Sunda Kelapa pada 1526, Kesultanan Demak dibuat geram dengan Portugis yang secara sewenang-wenang mendirikan benteng di Sunda Kelapa pada 1527.

Pembangunan benteng tersebut kemudian memicu peperangan antara Portugis dengan Kesultanan Demak yang dipimpin Fatahillah.

Peperangan tersebut berhasil dimenangkan oleh Demak dan Fatahillah, pemimpin perlawanan rakyat Demak, yang kemudian mengubah Sunda Kelapa menjadi Jayakarta.

3. Perang Jawa

Selama lima tahun sejak 1825-1830, Pangeran Diponegoro memimpin pasukan untuk bertempur secara gerilya melawan pemerintah Hindia-Belanda, yang waktu itu mencoba menguasai Kerajaan Mataram tempat Diponegoro dilahirkan.

Diponegoro, bersama pasukannya, memilih berperang melawan Belanda setelah kolonial Belanda secara sembarangan membuat jalan melintasi makam keluarga Diponegoro. Dalam budaya Jawa, makam memang dipandang sebagai sesuatu yang sakral.

Pembangunan jalan tersebut memperuncing ketidaksukaan masyarakat Mataram terhadap Belanda yang menerapkan politik devide et impera di Mataram dan berbagai pajak yang memberatkan. Oleh karenanya, Diponegoro memilih untuk berperang.

Lima tahun lamanya, pasukan Diponegoro berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain secara gerilya. Benteng-benteng Belanda satu persatu diserbu secara tiba-tiba.

Taktik gerilya yang dilakukan pasukan Diponegoro membuat Belanda kewalahan. Pada 23 Maret 1830, Diponegoro diundang Pemerintahan Belanda untuk melangsungkan perundingan damai.

Akan tetapi, perundingan tersebut hanyalah tipu muslihat Belanda. Pangeran Diponegoro justru ditangkap pada hari itu dan diasingkan ke Makassar.


Baca juga artikel terkait IMPERIALISME atau tulisan menarik lainnya Rizal Amril Yahya
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Abdul Hadi

DarkLight