Apa Itu Emotional Eating atau Makan Berdasarkan Rasa Emosional?

Oleh: Dinda Silviana Dewi - 15 Juli 2020
Dibaca Normal 1 menit
Emotional eating merupakan kondisi di mana Anda menggunakan makanan sebagai cara untuk mengatasi emosi, bukan karena rasa lapar.
tirto.id - Pernahkah Anda merasa ingin mengonsumsi makanan enak saat dalam keadaan sedih atau bahagia, meskipun tidak dalam kondisi lapar sekalipun? Bila pernah, bisa jadi saat itu Anda mengalami emotional eating.

Emotional eating atau makan secara emosional merupakan kondisi di mana Anda menggunakan makanan sebagai cara untuk mengatasi emosi, bukan karena rasa lapar. Saat Anda marah, stres, bahkan senang, Anda akan mencari makanan untuk menenangkan emosi Anda dan mengalihkan perhatian.

“Kebosanan menjadi tipe kelaparan emosional nomor satu,” ungkap psikolog Susan Albers, PsyD dikutip dari Cleveland Clinic. “Kita sering mengabaikan, menghindari, atau menegosiasikan tanda-tanda kelaparan kita yang sebenarnya termasuk ketika kita sudah kenyang dan hanya mencari sesuatu untuk menghibur kita,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Albers mengatakan bahwa masalah yang sering muncul adalah orang-orang sering kali tidak dapat membedakan kelaparan yang nyata dan kelaparan emosional.

Ia menegaskan, kelaparan nyata terjadi secara bertahap dan terikat pada terakhir kali Anda makan. Sementara lapar emosional dipicu oleh hal-hal emosional termasuk stres, khawatir, atau kelelahan dan sering kali muncul secara tiba-tiba.

Untuk membantu dalam menentukan kategori tersebut, maka Anda bisa menjawab sendiri pertanyaan yang disediakan Help Guide:

  1. Apakah Anda makan lebih banyak saat merasa stres?
  2. Apakah Anda makan ketika tidak lapar atau ketika kenyang?
  3. Apakah Anda makan untuk merasa lebih baik, menenangkan cemas, sedih, marah, atau bosan?
  4. Apakah Anda menghargai diri sendiri dengan makanan?
  5. Apakah Anda secara teratur makan sampai kenyang?
  6. Apakah makanan membuat Anda merasa aman, dan merasa makanan adalah teman?
  7. Apakah Anda merasa tidak berdaya atau tidak bisa mengendalikan makanan?

Di samping itu, ada juga lingkaran makan secara emosional yang mungkin tidak Anda sadari seperti di bawah ini:

  1. Anda akan merasa kesal, marah, atau emosional lain yang membuat Anda memilih makanan untuk pelarian.
  2. Anda akan makan bahkan secara berlebihan tanpa disadari.
  3. Anda merasa bersalah telah melakukannya, atau tidak tahan dengan makanan. Pola ini akan terjadi terus menerus.

Healthline menuliskan, makan secara emosional terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi, penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak perempuan yang mengalaminya daripada laki-laki.

Sementara itu, kebiasaan makan secara emosional juga dapat timbul dari kecil. Help Guide menuliskan bahwa kebiasaan orang tua memberikan makanan tertentu saat berhasil melakukan sesuatu akan membuat anak mengartikan makanan sebagai tanda kesenangan.

Mereka yang mengalami kondisi emotional eating merasa bahwa makanan lah yang dapat memuaskan mereka. Sementara itu, faktor pemicu seseorang dapat makan secara emosional antara lain:

  1. Terpisah dari dukungan sosial selama masa-masa kebutuhan emosional
  2. Tidak terlibat dalam kegiatan yang mampu menghilangkan stres, kesedihan, dan sebagainya
  3. Tidak memahami perbedaan antara lapar nyata dan emosional
  4. Menggunakan self-talk negatif terkait makan makanan dengan jumlah besar yang bisa menjadikan seseorang memiliki emotional eating
  5. Perubahan hormon kortisol sebagai respons terhadap stres yang mengarahkan seseorang pada makan secara emosional.

Untuk mengatasinya, Healthline menawarkan beberapa cara seperti melakukan hobi lain yang dapat membantu menenangkan diri Anda, misalnya olahraga, dan meditasi.

Sementara itu, SF Gate menyarankan Anda untuk merencanakan kegiatan yang dapat Anda lakukan seperti mengundang teman, jalan-jalan, atau membaca buku. Selain itu, jangan menyimpan makanan yang menenangkan di rumah, dan sebaiknya tunggu lima menit sebelum Anda memutuskan makan.


Baca juga artikel terkait EMOTIONAL EATING atau tulisan menarik lainnya Dinda Silviana Dewi
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight