Antihero Sergio Ramos Berpotensi Membuatmu Jadi Moralis

Sergio Ramos saat diganjar kartu merah. Foto/AFP/Getty Images
Oleh: Eddward S Kennedy - 2 Juni 2018
Dibaca Normal 6 menit
Sergio Ramos memantik orang untuk bicara tentang moral, etika, dan sportivitas. Itulah arti penting antihero.
tirto.id - Sergio Ramos seperti karakter antihero yang jamak ditemui dalam novel-novel picaresque.

Artikel "Para la Etimología de Pícaro", yang tayang di jurnal Filologi Hispanik, Vol. 17 (Nueva Revista de Filología Hispánica), menyebut kata picaresque ditakik dari kata picaro yang muncul pertama kali pada 1545. Artinya kurang lebih: penipu, atau sifat yang "cerdik". Cikal-bakal novel picaresque dalam pengertian umum dapat dilihat dalam Lazarillo de Tormes (La Vida de Lazarillo de Tormes) yang terbit pada 1554 secara anonim.

Lazarillo de Tormes menceritakan petualangan bocah bernama Lazarillo untuk bertahan hidup. Setelah ayah tirinya dituduh mencuri, ibunya menitipkan Lazarillo kepada pengemis tua yang pelit. Demi mengatasi rasa lapar, Lazarillo sering mencuri roti dan anggur. Kebiasaan mencuri tersebut tak pernah hilang kendati ia kerap berganti majikan. Pemicunya sama: majikan-majikan Lazarillo selalu pelit dan serakah. Lazarillo menjadi bajingan cilik karena kelaparan.

Dalam dunia yang dipenuhi orang-orang mampu tapi berengsek, bocah badung seperti dirinya bukanlah aib. Ia suatu keniscayaan. Di situlah terletak aspek penting dalam tradisi picaresque: genre tersebut juga bisa berfungsi sebagai kritik sosial.

Novel picaresque mulanya identik dengan petualangan remaja miskin dalam bertahan hidup. Penceritaannya intens dengan humor yang pahit, di sana-sini kadang terselip petuah. Seiring waktu, karakteristik ketokohan dalam novel picaresque menjadi lebih melebar. Jika dulu ada Lazarillo, kelak ada tokoh lebih tua macam Don Quixote atau para pemuda pemalas di Tortilla Flat-nya John Steinbeck.


Kendati berkembang, benang merah dalam karakter-karakter picaresque selalu bertindak di luar norma sosial. Menjadi bajingan yang pemberani di satu sisi, tetapi juga digambarkan tanpa dosa di sisi lain. Jika dirincikan, karakter tokoh utama dalam novel picaresque "wajib" memiliki tiga sifat ini: rogue, rascal, knave. Cerdik (dapat pula ditafsirkan menjadi nakal atau penipu), beringas, bajingan.

Tiga sifat itu menonjol dengan kuat pada sosok Ramos di lapangan hijau.

Sergio Ramos dalam Sejarah Real Madrid

Sejarah Real Madrid tidak dapat dilepaskan dari kekuasaan. Terutama karena pernah menjadi kendaraan politik Generalissimo Franco ketika menjadi diktator Spanyol. Ia tak hanya membuat Madrid menjadi amat dominan di skala lokal, dalam persoalan transfer pemain pun Franco ikut campur. Keterlibatannya dalam membajak Alfredo di Stefano dari Barcelona terbukti mengubah trek sejarah kedua klub selamanya.

Bersama Di Stefano, plus kehadiran bintang-bintang lain seperti Ferenc Puskas dan Fransisco Gento, Madrid menguasai Benua Biru. Raihan gelar European Cups selama lima musim beruntun (1956-1960) adalah bukti betapa mereka pernah menjadi monster. Dan perlu dipahami, kedigdayaan Madrid di level Eropa bukan karena campur tangan Franco. Semata karena saat itu mereka memang terlalu tangguh bagi klub-klub lain.


Madrid punya arang hitam di masa silam yang sukar dimaafkan, terutama bagi Barca dan Atletico. Namun fakta bahwa hingga kini mereka masih menjadi klub terhebat di dunia juga tak dapat diganggu gugat. FIFA bahkan sempat menganugerahi Madrid sebagai Klub Terbaik Abad 20 dan baru beberapa hari lalu mereka menjadi tim pertama di era Liga Champions yang sukses meraih gelar tersebut selama tiga musim berturut-turut.

Madrid pada akhirnya akan selalu tentang kejayaan, elegansi, dan dominasi. Konon pemilihan warna putih sebagai warna utama jersey mereka juga karena citra tersebut yang hendak ditunjukkan, selain sebagai simbol supremasi raja-raja kulit putih Castilla. Maka ketika ada dua pemain brutal macam Pepe dan Ramos yang menjadi figur penting di Santiago Bernabeu, sesungguhnya Madrid sedang menorehkan sesuatu yang baru di atas kain putih identitasnya.

Mari kesampingkan Pepe karena yang dapat dikenang dari pemain ini nyaris hanyalah kebinatangannya saat menendang Javier Casquero berkali-kali. Ramos tak berbeda jauh dengan Pepe dalam soal kebuasan, tapi ia memiliki kualitas yang jauh lebih baik dari companero-nya tersebut. Ia memiliki seluruh syarat lengkap sebagai bek tangguh. Atletisisme yang cemerlang sekaligus kecerdasan dalam membaca permainan. Yang pertama membuatnya menjadi bek yang sukar dilewati, yang kedua membuatnya menjadi bek yang tidak sekadar mampu memulai penyerangan melainkan juga produktif mencetak gol.

Untuk ukuran bek, Ramos tergolong produktig. Ia mencetak 50 gol bersama Madrid di La Liga. Total sudah 81 gol ia cetak sepanjang kariernya sejauh ini dan membuatnya tercatat sebagai salah satu dari 22 bek yang mencetak gol terbanyak.

Giorgio Chiellini, yang juga bek kelas satu dari Juventus, tak sungkan memuji Ramos sebagai "bek terbaik dunia".

Ramos yang Tak Terganggu dengan Kebencian

Ramos lahir di Camas, Sevilla pada 30 Maret 1986. Ketika usianya masih 19 tahun, Ramos sudah diboyong Madrid dari Sevilla ke Bernabeu dengan banderol cukup fantastis: 27 juta euro. Sejak saat itu, Ramos pun segera dicap sebagai musuh bersama publik Estadio Ramón Sánchez Pizjuán.

Ketika Madrid bertandang ke markas Sevilla tersebut dalam babak delapan besar Copa del Rey musim 2017, Ramos masih tetap menerima berbagai caci maki. Sejak bus Madrid tiba, barisan Biris Norte -- ultras Sevilla -- sudah mencecar Ramos dengan berbagai makian seperti "Caraponi" ("muka kuda", ejekan untuk seseorang dengan bentuk muka lonjong dan gigi besar seperti kuda) dan “Hijo de puta” (maknanya kuang lebih sama dengan "son of a bitch" alias "anak sundal").

Ramos merasa heran sekaligus jengkel dengan hal tersebut. Menurutnya, selama ini ia diperlakukan berbeda dengan Dani Alves atau Ivan Rakitic, dua pemain Sevilla lain yang kemudian hijrah (dan menjadi) superstar bersama Barca.

"Saya tak pernah menghina atau tak menghormati seseorang. Ini (Sevilla) akan selalu menjadi rumah saya, tidak peduli berapa orang yang tidak memahami hal tersebut, mereka menyiuli saya dan menghina ibu saya. Saya telah berkali-kali datang ke stadion ini dan mereka tak pernah menyambut saya dengan baik. Mereka meyambut Dani Alves dan Ivan Rakitic seperti dewa-dewa," sesal Ramos.

Memang mudah untuk membenci Ramos jika melihat aksinya di lapangan. Ia kasar sekaligus teatrikal, senang memprovokasi namun kerap juga terprovokasi. Atas hal tersebut, kini ia punya rekor dahsyat: pemain yang paling banyak meraih kartu (kuning dan merah) di La Liga, Liga Champions, dan juga bersama tim nasional Spanyol, yakni 274 kartu.


Saat bertemu Liverpool di partai puncak Liga Champions, Ramos seakan menjadi musuh publik karena membuat Mohamed Salah cedera dislokasi bahu. Menit 30, dalam sebuah situasi perebutan bola, Ramos tampak menarik lengan Salah lalu membanting bintang Mesir tersebut ke tanah. Sebuah teknik yang semestinya, dalam klaim Jurgen Klopp, hanya dapat disaksikan dalam olahraga gulat.

"(Apa yang dilakukan Ramos) itu itu kurang lebih seperti gulat dan sialnya Mo jatuh dengan bahunya lebih dulu," keluh Klopp.

Berselang detik setelah Salah keluar, tayangan ulang menunjukkan wajah Ramos yang tengah tertawa. Tak perlu menunggu waktu lama, warganet segera menyerang Ramos di media sosial. Mereka menganggapnya aib bagi kemuliaan sepakbola. Setelah Madrid menang 3-1 dari Liverpool berkat dua blunder fatal Loric Karius dan gol spektakuler Gareth Bale, makian terhadap Ramos kian bergema.

Nyaris setengah juta orang telah menandatangani petisi agar UEFA dan FIFA memberi hukuman untuk Ramos karena sengaja membuat Salah cidera.

Ramos menanggapi semua serbuan tersebut seperti tanpa beban. Ia bahkan menjadi pemain Madrid yang paling awal mengunggah perayaan kemenangan mereka di Instagram. Sementara di akun Twitter resminya, Ramos mengeluarkan cuitan dan turut me-mention akun Salah.

"Sometimes football shows you it's good side and other times the bad. Above all, we are fellow pros. #GetWellSoon @MoSalah." Hingga artikel ini dibuat, cuitan tersebut sudah mendapat 40,7 ribu balasan, 37,7 ribu retweet, dan 109 ribu likes.

Dalam film Usual Suspect, ada kutipan menarik dari tokoh Verbal (diperankan dengan brilian oleh Kevin Spacey) ketika ia tengah menceritakan sosok Keyser Soze kepada Agen Kujan: "The greatest trick the devil ever pulled was convincing the world he did not exist. And puff, just like that... he is gone."

Tak ada yang melarang Anda untuk menuduh Ramos sebagai iblis dan cuitannya di Twitter hanyalah tipu muslihat. Tapi, yakinlah, Ramos tak peduli.




Ramos sebagai Rorschach, Materazzi menjadi Comedian

Prinsip bermain Ramos sederhana belaka: ia menjaga area pertahanannya dari serangan lawan. Dan jika itu harus dilakukan dengan mematahkan kaki, menyikut hidung, atau meninju dahi lawannya, ia akan tetap melakukannya.

Beberapa hari lalu, surat kabar Catalan, La Vanguardia, menurunkan artikel berjudul "Sergio Ramos, a History of Violence" yang berisi daftar pemain yang pernah dibuat cidera oleh Ramos. Jauh sebelum Salah, Ramos pernah membuat pemain Levante, Nacho Gonzáles, cidera selama enam bulan, terlibat insiden serius dengan Fernando Torres dalam sesi latihan bersama timnas, mencederai Gustavo Cabral dari Celta Vigo, menghantam kaki gelandang Italia, Riccardo Montolivo, hingga membuat pemain muda Real Betis yang masih 17 tahun, Alvaro Vadillo, meringis kesakitan.

Gaya bermain Ramos yang kasar sebetulnya tak langka. Dalam waktu yang tak terpaut jauh jaraknya, ada nama Marco Materazzi yang juga terkenal sebagai bek kurang ajar. Suatu waktu, ia kedapatan menendang biji zakar Andriy Shevchenko. Pada waktu yang lain, ia juga sengaja menghajar mata kaki Zlatan Ibrahimovic. Namun yang tak terlupakan tentu saja ketika ia sukses memprovokasi Zinedine Zidane di final Piala Dunia 2006.


Secara ideologis, bek-bek dengan atribusi macam Ramos atau Materazzi diasosiasikan sebagai Machiavellian. Sebuah sikap yang merujuk pada dalil Niccolò Machiavelli: demi meraih kemenangan, cara apa saja dihalalkan, sekotor dan selicik apapun itu. Baik Ramos atau Materazzi secara sadar memilih berseberangan dari konstruksi sosial dalam hal berbuat "baik". Mereka menjadi antihero.

Salah satu bentuk terbaik konsep antihero dapat ditengok dalam novel grafis legendaris karya Alan Moore, Watchmen, yang menceritakan segerombolan orang-orang dengan kekuatan luar biasa yang menyamar sebagai vigilante untuk membasmi kejahatan.

Dua karakter tokoh yang menarik dalam Watchmen antara lain adalah Rorschach, vigilante yang beroperasi di malam selayaknya Batman, tapi juga seorang sosiopat dengan pandangan moral absolut dan mengintimidasi orang dengan mematahkan jari mereka. Rorchach, yang tiap beraksi selalu mengenakan topeng dengan bercak-bercak hitam, adalah suara parau yang enggan berkompromi terhadap segala jenis mala, "bahkan sampai di hadapan Armageddon sekalipun".

Rorschach memulai cerita Watchmen dengan menulis dalam catatan hariannya, 12 Oktober 1985: "Kota ini takut kepadaku. Aku telah melihat mukanya yang sebenarnya." Jalanan kota telah jadi "selokan memanjang" dan "penuh darah", lalu "semua cabo serta politikus kelak akan memandang ke atas dan berteriak, 'Selamatkan kami'."

Adapun Edward Blake, "The Comedian", adalah seorang begundal yang selalu menertawakan hidup dengan penuh sinisme. Sosoknya adalah ejawantah dari brutalitas. Di Vietnam, ketika Watchmen dikirim ke sana untuk membantu Amerika berperang, Blake membunuh perempuan yang menuntut bertanggung jawab karena telah dihamilinya. Ia melakukannya tepat di hadapan Dr. Manhattan, sosok terkuat di Watchmen.

Kekuatan Dr. Manhattan serupa para dewa: sanggup mengendalikan struktur atom, mampu melayang langsung ke Mars, bisa berjalan di atas matahari, dapat menjelma raksasa, termasuk memindahkan tubuh manusia dari jarak jauh. Namun, toh, Dr. Manhattan, tetap tak berdaya menghentikan tembakan Blake.


"Dia sedang hamil," ujar Dr. Manhattan sesaat setelah perempuan itu tewas.

"Benar, dan kau tahu, kau melihat itu semua. Kau dapat mengubah senjata menjadi uap, peluru menjadi merkuri, botol menjadi serpihan salju, tapi kau tidak melakukannya bukan? Sesungguhnya kau tidak peduli dengan kemanusiaan, Doc," balas Blake, menohok.

Rorschach, sebagaimana Ramos, memilih jalan kekerasan untuk menangkal segala hal yang mereka anggap sebagai mala. Sementara sinisme Materazzi saat mengatakan kepada Zidane "aku lebih kepingin adik perempuanmu [daripada kaosmu]", menggemakan ucapan Blake ketika ia berseloroh: "Once you realize what a joke everything is, being the Comedian is the only thing that makes sense."

Lewat Watchmen, Moore seolah hendak menunjukkan bahwa tak ada kebaikan yang murni, sebagaimana pula tak ada kejahatan yang orisinal.

Perangai macam itulah yang membuat antihero kerap membuat orang-orang terpelatuk menyerukan lagi pentingnya norma, moralitas, dan kode-kode sosial yang dianggap baik (dalam hal olahraga: sportivitas, fair play); dengan nyaris tak peduli bahwa -- di kesempatan yang lain -- tiap-tiap kita boleh jadi pernah melakukan kebrengsekan serupa, atau kebangsatan yang lain, dengan cara diam-diam. Bukankah di setiap klub, di salah satu fase dalam sejarahnya, selalu ada sosok -- baik yang menyerupai atau bahkan melebihi atau setidaknya pernah sesekali berulah -- seperti Ramos?

Hal paling menarik dari antihero adalah potensinya untuk membuat seseorang menjadi moralis, sekaligus juga hipokrit.

Baca juga artikel terkait LIGA CHAMPIONS atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Zen RS
DarkLight