Anne Bonny, Ikon Bajak Laut Perempuan yang Terlampau Difabrikasi

Penulis: R. A. Benjamin - 16 Jan 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Satu dari sedikit bajak laut populer perempuan adalah Anne Bonny. Namun demikian banyak kisahnya yang telah difabrikasi--tak lagi akurat.
tirto.id - Beberapa abad silam, tak hanya dipandang sekadar pemuas hasrat atau pekerja rumahan, perempuan bahkan dianggap sebagai pembawa sial di kapal. Namun para perempuan perlahan menemukan tempat di lingkungan yang didominasi laki-laki ini. Mereka turut mengarungi lautan dengan kapasitas masing-masing kendati jumlah yang berlayar sebagai pelaut, perwira, maupun bajak laut tentu jauh lebih sedikit ketimbang laki-laki--dengan tugas yang kerap digeneralisasi sebagai pelayan, pencuci pakaian, koki, bahkan prostitusi.

Maka, ketika segelintir nama menyeruak, tak mengherankan kisahnya terus direplikasi. Dalam kategori bajak laut, tiga nama mencuat ketimbang yang lain: Ching Shih, "ratu bajak laut" yang aktif pada awal abad ke-19 di Laut Cina Selatan, dan yang eksis pada era Golden Age of Piracy: Mary Read dan Anne Bonny.

Dalam budaya populer, mereka dirayakan sama meriahnya dengan sebagian perompak laki-laki. Ching Shih, misalnya, digambarkan berdiri sama rata dengan kapten bajak laut lain dalam film Pirates of the Caribbean: At World's End (2007).

Namun sosok yang paling marak digambarkan ulang dalam kisah-kisah romantisasi perompak bukanlah sang ratu. Arketipe perompak perempuan saat ini, dengan kesan femme fatale yang tak kalah berbahaya dari bajak laut laki-laki, hadir berkat sosok Anne Bonny--yang selain perempuan juga kerap digambarkan berambut merah, dua hal yang dihindari sebagian kapten untuk berada di kapal mereka.

Dengan mudah kita bisa menemukan penggambaran atau inspirasinya dari berbagai medium. Mulai dari novel Antkind karya Charlie Kaufman, manga/anime populer seperti Detective Conan dan One Piece, seri gim video seperti Assassin's Creed, hingga dalam ranah musik seperti pada salah satu lagu gubahan Death Grips. Penggambaran live-action-nya pun bisa kita temukan dalam docuseries Netflix, The Lost Pirate Kingdom, hingga serial TV produksi Starz berjudul Black Sails.

Karya-karya itu mengusulkan penceritaan Anne Bonny yang bisa jadi sepenuhnya baru, berangkat dari cerita (atau legenda) sang perompak. Lantas, bagaimana dengan kisah hidup Anne Bonny sesungguhnya?


Karier, Calico Jack & Mary Read

Beragam kesulitan dihadapi para sejarawan dan penulis kronik hidup bajak laut ketika menyusun kisah Anne Bonny. Ini lantaran minimnya dokumen resmi atau kepalang meleburnya cerita yang terverifikasi dengan mitos yang berkembang liar. Berikut adalah kisah hidup Anne Bonny yang lazim beredar:

Anne Bonny lahir dengan nama Anne Cormac, sekitar 1697 di Cork, Irlandia. Dia merupakan anak haram antara pengacara bernama William Cormac dengan seorang pelayan. Istri William membeberkan perselingkuhan itu ke publik, dan memaksa William, sang pelayan, dan Anne kecil harus pindah ke South Carolina, kini bagian Amerika Serikat (AS).

Anne Cormac remaja bertugas mengurusi rumah selepas sang ibu meninggal. Ada beberapa cerita beredar tentangnya di masa itu: mulai dari bahwa dia membunuh seorang gadis pelayan menggunakan pisau hingga kisah soal lelaki yang harus menginap di rumah sakit selama berminggu-minggu setelah upayanya memerkosa Anne gagal dan ia balik dihajar hingga sekarat.

Menginjak usia 16, Anne Cormac jatuh cinta kepada seorang pelaut miskin (beberapa sumber menyebutnya bajak laut receh) bernama James Bonny. James disebut hanya ingin mendapatkan kekayaan keluarga Cormac, tetapi Anne ngotot untuk tetap menikahinya. Singkat cerita, Anne Cormac lantas menggunakan nama Anne Bonny.

James memboyong istrinya itu ke Bahama, tepatnya di Nassau, kota Republik Bajak Laut pernah berdiri. Sialnya, di sana ia justru kesulitan untuk menafkahi sang istri dan berakhir menjadi informan, nyepuin bajak laut kepada Gubernur Bahama Woodes Rogers. Anne kecewa dengan pilihan sang suami lantaran ia memiliki banyak teman bajak laut. Sebagian lagi menyebut ia memang tak bahagia dengan pernikahan mereka. Apa pun itu, Anne telah bertekad meninggalkan James.

Ia menghabiskan sebagian besar waktu untuk minum-minum dan menggoda bajak laut di bar-bar di New Providence. Di sanalah ia bertemu seorang bajak laut yang sedang menanti pengampunan, yang juga mengisi waktunya dengan berpindah dari satu bar ke bar lain. John "Calico Jack" Rackham adalah bajak laut flamboyan nan romantis yang merebut hati Anne.


Bersama Rackham, Anne melarikan diri ke lautan, merengkuh karier sebagai perompak. Untuk menenangkan para awak dari takhayul, bahwa kehadiran perempuan di kapal tak ubahnya pembawa sial, Anne mengenakan pakaian laki-laki dan mengenalkan diri sebagai Adam Bonny.

Dua bulan lamanya Rackham dan Anne mengarungi lautan Karibia dan membajak kapal-kapal kecil. Mereka lantas singgah ke Kuba lantaran Anne bakal segera melahirkan. Tak punya cukup uang, anak itu ditinggalkan di Kuba di bawah asuhan teman Anne (atau teman Rackham, tergantung sumber). Sepasang orang tua baru itu sendiri berangkat kembali menuju lautan.

Suatu waktu, datanglah awak baru bernama Mark Read yang baru belakangan identitas aslinya tersingkap: seorang perempuan bernama Mary Read. Tak butuh waktu lama bagi Anne dan Mary untuk menjadi teman baik. Sebagian orang bahkan meyakini keduanya menjalin hubungan romantis.

Anne dan Mary acapkali memimpin serangan terhadap kapal-kapal sasaran. Mereka bertarung berdampingan, mengenakan jaket tebal, bercelana panjang, sapu tangan melilit kepala, parang, dan pistol digenggam di kedua tangan. Tiada bedanya dengan perompak laki-laki.

Karier perompak mereka tidak panjang. Yang panjang adalah daftar dakwaan terhadap kapten mereka, 'Calico Jack' Rackham, yakni sejumlah pembajakan dan merebut pasangan sah orang lain. Maka, tak hanya oleh Rogers (Gubernur Bahama), Richard Lawes (Gubernur Jamaika) pun menjadikan kru itu target operasi.

Pada Oktober 1720, pemburu perompak yang diutus Lawes bernama Jonathan Barnet berhasil menyudutkan Revenge, kapal milik Rackham. Hampir seluruh kru Rackham mabuk saat penyerangan terjadi usai merayakan keberhasilan membajak kapal dagang Spanyol semalam suntuk. Pertarungan berlangsung singkat karena hanya Merry dan Anne yang melawan. Seluruh anggota kru diringkus untuk diadili.


Sejarah dan Mitos yang Kusut Masai

Kapten Rackham dijadwalkan dieksekusi dengan cara digantung pada 18 November 1720. Permintaan terakhirnya adalah untuk menemui kekasihnya, Anne. Saat itulah Anne Bonny membikin pernyataan yang paling dikenang sekaligus sangat mungkin difabrikasi, ditujukan kepada sang kekasih: "Jika kau bertarung layaknya laki-laki, kau tidak perlu digantung seperti anjing."

Rackham akhirnya digantung. Sementara Anne Bonny dan Mary Read hanya ditahan lantaran mengklaim sedang mengandung. Ketika Mary meninggal di balik jeruji, Anne disebut-sebut selamat dan berhasil keluar dari penjara berkat pengaruh keluarganya.

Sebagian besar cerita soal kehidupan Anne Bonny bersumber dari A General History of the Robberies and Murders of the Most Notorious Pyrates (1724). Buku ini menjadi sumber utama penggambaran bajak laut era itu hingga kini, tiga abad kemudian. Masalahnya, sang penulis, Captain Charles Johnson (diyakini sebagai nama samaran penulis Inggris Daniel Defoe), dinilai sering menyertakan imajinasinya ke dalam hikayat para perompak yang ia dokumentasikan. Belum lagi kisah yang ia tulis kadang kontradiktif dengan dokumen faktual.

Upaya memisahkan fakta dan mitos yang menyelubungi hidup Anne Bonny dituliskan Tony Bartelme dalam tulisannya di The Post and Courier. Dalam artikel yang sama, sejarawan bajak laut David Cordingly menilai bahwa Captain Charles Johnson bukan sumber terpercaya terkait perompak perempuan, terutama menyangkut kisah awal hidup mereka.

Penelusuran dan bukti-bukti terus digali berbagai pihak. Tyler "Bioshock" Rodriguez, orang di balik kanal Youtube Debunk File, menjadi salah satunya. Dengan bantuan Bartelme, ia menyusun teori yang lebih masuk akal soal hidup Anne Bonny. Rodriguez juga tak lupa menyanggah banyak hal yang lazim disertakan dalam tulisan-tulisan perihal sang perompak, mulai dari soal tempat lahir dan warna rambut dia sesungguhnya. Begitu pula soal pertarungan dua-lawan-banyak antara dia dan Mary kontra kru Kapten Barnet, hingga profesi dan status pernikahannya saat beredar di Nassau (yang berarti mengubah keterkaitannya dengan Gubernur Woodes Rogers).

Testimoni saat Anne diadili pun dikumpulkan. Tidak banyak yang bisa diajukan dari kumpulan bukti itu selain beberapa kesaksian soal pakaian--bagaimana Anne dan Mary terlihat. Dan, tentunya, sama sekali tak ditemukan kesaksian maupun dokumentasi soal kisah lesbian antara keduanya, apalagi bukti aksi duet ini yang banyak dikutip secara liar: kegemaran mereka memamerkan payudara sebelum membunuh musuh.


Infografik Anne Bonny
Infografik Anne Bonny. tirto.id/Quita


Ihwal keluarga Anne Bonny pun tak luput menjadi kisah yang kadung merebak liar. Nama keluarga Cormac, yang banyak dikutip dan menjadi asal-usul Anne, datang dari buku berjudul Mistress of the Sea yang ditulis John Carlova pada 1960-an. Dan itu tak pernah terverifikasi. Alih-alih anak orang berada yang sadis, bertualang sebagai perompak untuk lantas diselamatkan keluarganya ketika tiang gantung menanti, Anne Bonny bahkan diperkirakan sangat mungkin adalah seorang perempuan miskin atau bahkan PSK di Nassau--yang terdengar lebih masuk akal mengingat kondisi hidup perempuan pada tiga abad silam di Karibia.

Penelusuran ini pun sampai kepada akhir hidup Anne Bonny yang tak terjelaskan, termasuk dalam buku Captain Charles Johnson. Sang perompak sangat mungkin dikuburkan pada 29 Desember 1733 di Spanish Town, Jamaika, dengan nama Ann Bonny. Selain mengungkap nama resmi sang perompak, temuan ini juga menyanggah teori bahwa ia mati di penjara seperti halnya Mary. Anne Bonny malah memiliki kesempatan untuk pensiun sebagai perompak--kesempatan yang tidak didapat nyaris seluruh kompatriot bajak laut pada zamannya.

Temuan-temuan dan teori-teori baru itu kembali mengingatkan kita akan betapa diromantisasinya penggambaran para bajingan lautan, terutama bajak laut perempuan.

Pada akhirnya, kita mungkin bakal terus mengingat karakternya yang murung dan garang seperti yang ditampilkan Clara Paget dalam Black Sails, atau terus memfantasikan dia sebagai perempuan haus darah berambut merah yang menyanyikan lagu-lagu rakyat Celtic. Kita mungkin selamanya menyebutnya Anne Bonny alih-alih Ann Bonny.

Meskipun pelik, para sejarawan bakal terus memeriksa dokumen dan petunjuk dari tiga ratus tahun lalu, mencari bukti dan pemahaman baru akan sang ikon bajak laut perempuan sekaligus hidup yang lebih mungkin dijalani perempuan masa itu, meskipun kisah liar Anne Bonny telah jauh melampaui fakta-fakta hidupnya.

Baca juga artikel terkait BAJAK LAUT atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Rio Apinino

DarkLight