Angin Monsun: Pengertian, Penyebab Kemunculan dan Jenisnya

Oleh: Abdul Hadi - 10 Januari 2020
Dibaca Normal 1 menit
Aktivitas angin monsun yang bergerak dari benua Asia memicu hujan lebat di sebagian wilayah Indonesia pada awal tahun 2020.
tirto.id - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan soal potensi cuaca ekstrem, berupa hujan lebat, melanda sejumlah wilayah Indonesia pada Januari 2020. Salah satu pemicu cuaca ekstrem itu adalah angin monsun Asia yang aktif bergerak di atmosfer wilayah Indonesia.

Pergerakan angin monsun pada Januari 2020 tersebut bisa memicu pertumbuhan awan-awan konvektif di banyak wilayah Indonesia. Akibatnya, curah hujan bersifat sporadis dan ekstrem berpotensi terjadi.

Berdasarkan siaran resmi BMKG yang dirilis pada 8 Januari 2020, hasil analisis dinamika atmosfer menyimpulkan aktivitas angin monsun Asia masih signifikan. Gelombang atmosfer (MJO) pun masih aktif di wilayah Indonesia.

Selain itu, pola konvergensi angin memanjang mulai Banten bagian utara hingga Nusa Tenggara, sebagai dampak dari adanya pusat tekanan rendah di Barat Laut Australia dan Bibit Siklon Tropis di sekitar Teluk Carpentaria.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia, termasuk kawasan Jakarta dan sekitarnya atau Jabodetabek.

BMKG memperkirakan kawasan Jabodetabek berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang-lebat pada 9-12 Januari 2020, namun tidak separah pada 1 Januari 2020. Di banyak provinsi lain, BMKG memprediksi hujan lebat berpotensi terjadi pada 9-2 Januari.


Apa Itu Angin Monsun?

Angin monsun adalah angin yang berhembus melalui skala regional dalam cakupan benua. Fenomena ini disebut juga angin musim. Sesuai penjelasan di laman BMKG, arah angin monsun minimal 120 derajat dan terjadi dalam jangka enam bulan sekali.

Kemunculan angin monsun disebabkan oleh gerak semu matahari terhadap bumi secara periodik di belahan bumi utara dan selatan. Situasi ini memicu kontras tekanan dan suhu antara benua dan samudera. Selama ini, ada dua angin monsun yang berdampak ke wilayah Indonesia, yaitu monsun timur dan monsun barat.

Angin monsun barat bertiup dari arah barat hingga barat laut. Angin ini muncul pada setiap Oktober sampai April. Kemunculan angin monsun barat adalah indikator terjadinya musim hujan di wilayah Indonesia.

Dikutip dari Jurnal Sains dan Teknologi Modifikasi Cuaca (2016, di setiap periode Oktober hingga Februari, posisi matahari berada di langit belahan bumi selatan. Kondisi tersebut mengakibatkan belahan bumi selatan, khususnya Australia, lebih banyak memperoleh panas matahari daripada benua Asia.

Oleh karena itu, benua Australia bertemperatur tinggi dan tekanan udaranya rendah. Sebaliknya, benua Asia yang mendapatkan lebih sedikit sinar matahari, memiliki temperatur rendah dan tekanan udara tinggi.

Dampak perbedaan temperatur dan tekanan udara itu adalah adanya pergerakan angin dari benua Asia ke benua Australia. Angin dari benua Asia biasanya akan dibelokkan oleh gaya Coriolis saat melintasi Khatulistiwa. Proses ini menyebabkan kemunculan angin monsun barat.

Karena melewati Samudera Pasifik, Samudera Indonesia dan Laut Cina Selatan, angin monsun barat ini membawa banyak uap air. Pergerakan angin monsun barat ke wilayah Indonesia kemudian menyebabkan curah hujan tinggi terutama di wilayah barat.

Sedangkan angin monsun timur bergerak dari arah timur hingga tenggara di setiap periode April sampai Agustus. Pada periode ini, posisi matahari bergeser ke langit belahan bumi Utara.

Akibatnya, temperatur belahan bumi Utara, khususnya Benua Asia, menjadi tinggi dan tekanan udaranya rendah. Kondisi sebaliknya terjadi di Benua Australia yang tak mendapatkan banyak sinar matahari sehingga temperatur kawasan ini rendah dan tekanan udaranya tinggi.

Perbedaan temperatur dan tekanan udara tersebut memicu pergerakan angin dari benua Australia ke Benua Asia melalui Indonesia, yang disebut angin monsun timur.

Angin ini tidak banyak membawa uap air karena hanya melewati laut kecil dan jalur sempit, seperti Laut Timor, Laut Arafuru, dan sebagian selatan Papua serta Nusa Tenggara. Oleh karena itu, pergerakan angin monsun timur biasanya menjadi pertanda datangnya musim kemarau di wilayah Indonesia.



Baca juga artikel terkait MUSIM HUJAN atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Addi M Idhom
DarkLight