21 Mei 1921

Andrei Sakharov: Pembuat Bom Nuklir dan Peraih Nobel Perdamaian

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah - 21 Mei 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Ilmuwan Soviet mendapat Nobel Perdamaian atas usahanya menolak bom nuklir. Padahal beberapa tahun sebelumnya ia terlibat pengembangan bom hidrogen.
tirto.id - Selasa pagi, 7 Agustus 1945, Andrei Sakharov bergegas meninggalkan rumah untuk mencari sarapan ke toko roti langganannya. Di tengah perjalanan ia tiba-tiba menghentikan langkahnya untuk melihat berita di koran yang dijajakan oleh pedagang. Berita itu berisi laporan Presiden Harry S. Truman bahwa AS pada pukul 8 pagi, 6 Agustus 1945, telah meluncurkan bom atom dengan kekuatan penghancur setara 20 ribu ton TNT di Hiroshima, Jepang.

Sakharov membisu dan mengalami dilema moralitas. Saat itu, ia adalah peneliti fisika nuklir di Lebedev Physical Institute sekaligus mahasiswa doktoral di bidang serupa di bawah bimbingan fisikawan ternama Soviet, Igor Y. Tamm. Ia sadar dirinya adalah ilmuwan negara pembuat bom nuklir yang secara tidak langsung berkontribusi membawa dunia memasuki babak baru yang sangat mengerikan.

Untuk mensiasati dilema itu, sebagaimana kesaksiannya yang dicatat Gennady Gorelik dan Antonina W. Bouis dalam The World of Andrei Sakharov: A Russian Physicist’s Path to Freedom (2005), ia berkata: “saya mempelajari setiap terbitan baru [terkait penelitian nuklir] karena ketertarikan saya murni untuk ilmu pengetahuan.”

Belajar Fisika Sejak Kecil

Andrei Dmitrievich Sakharov mengawali dan mengakhiri hidupnya di Moskow, Rusia. Ia lahir pada 21 Mei 1921, tepat hari ini 101 tahun lalu, dari keluarga terdidik. Kakeknya, Ivan Sakharov, adalah pengacara. Lalu bapaknya, Dmitri Sakharov, dosen dan peneliti fisika. Sedangkan ibunya, Ekaterina, sosok yang sangat paham agama. Keluarga ini menjadikan pendidikan sebagai prioritas bagi Sakharov kecil.

Sakharov sudah berkenalan dengan fisika sedari kecil. Beberapa kali bapaknya mengajak Sakharov pergi ke laboratorium untuk ditunjukkan berbagai eksperimen fisika. Ia kerap bertanya tentang proses dan metode eksperimen. Bapaknya menjawab dengan memaparkan teori-teori fisika secara ringan. Sejak belasan tahun Sakharov telah memahami hukum dan prinsip fisika, sekaligus mengerti pentingnya penggunaan logika dalam mengurai kerumitan sains.

Pendalaman lebih serius dimulai ketika menempuh studi jurusan fisika di Moscow State University pada 1938. Namun, pendidikannya terhenti tiga tahun kemudian ketika NAZI Jerman merangsek teritori Uni Soviet. Ia terdampak aturan wajib militer dan mengharuskannya ikut serta dalam pertempuran. Sakharov ditugaskan di bagian industri pertahanan. Studinya baru dilanjutkan pada 1942 ketika situasi mulai berubah.

Pada awalnya ia tidak mengenal fisika nuklir. Cabang fisika yang ditekuninya adalah fisika metalurgi. Selama perang, ia banyak mendalami mesin, gravitasi, dan berbagai hal lain tentang gerak benda. Perkenalannya dengan nuklir terjadi pada tahun 1945 ketika ia bergabung dengan FIAN, pusat penelitian ilmu pengetahuan Uni Soviet.


Membuat Bom Nuklir

Berada di FIAN menjadi titik balik kehidupan Sakharov. Ia tidak hanya menjadi peneliti, tetapi ditetapkan juga sebagai mahasiswa doktoral bidang fisika nuklir.

Saat itu, sebagaimana dipaparkan Jay Bergman dalam Meeting the Demands of Reason: The Life and Thought of Andrei Sakharov (2009), ilmu pengetahuan telah memiliki kedudukan yang sangat penting di benak pemimpin Soviet. Tujuan, eksistensi, dan kejayaan Soviet dipercaya akan terwujud jika pengembangan ilmu pengetahuan berjalan baik. Alhasil, Sakharov pun berada dalam posisi yang menguntungkan karena negara mendukung penuh langkahnya. Bahkan agar ia bekerja lebih fokus, negara menjamin kehidupan istri dan ketiga anaknya.

Dalam memoarnya yang diterbitkan Gennady Gorelik dan Antonina W. Bouis, Sakharov mengaku bekerja di FIAN adalah pengalaman yang sangat berharga, “Sebelum berada di FIAN saya tidak pernah sedekat ini dengan level tertinggi dari sains (nuklir).”

Antusiasme inilah yang membuat kinerjanya sangat baik sebagai seorang peneliti muda hingga dipercaya terlibat dalam berbagai proyek nuklir.

Puncaknya terjadi pada Juni 1948. Di usia yang belum genap 30 tahun, Sakharov menjadi anggota tim peneliti pengembangan bom hidrogen Soviet. Ia dan rekan-rekannya, seperti Vitaly Ginzburg dan Yuri Romanov, ditugaskan untuk membuat bom hidrogen berdaya ledak besar.

Melansir Britannica, sepanjang 1948-1949 Sakharov banyak membuat rancangan penelitian terkait bom hidrogen. Dalam dua rangkaian uji coba pertama bom buatan Sakharov berhasil meledak dengan sangat besar.

Ujicoba pertama, 12 Agustus 1953, kekuatan bom mencapai 400 kiloton. Lalu pada 22 November 1955, kekuatan bom mencapai berpuluh-puluh kali lipat dari sebelumnya, yakni 1,6 megaton. Tingkat kekuatan pun diproyeksikan semakin besar. Ini bertujuan untuk menunjukkan kekuatan militer Soviet di mata dunia.

Atas kesuksesan ini, Sakharov dianugerahi status penuh sebagai anggota Akademisi Ilmu Pengetahuan Soviet, sekaligus terdaftar dalam Nomenklatura atau elite nasional Soviet. Ia berhak memperoleh keuntungan lebih dari warga negara lain. Mulai dari hunian, kendaraan, jaminan asuransi dan pendidikan, sampai dana pensiun.

Meraih Nobel Perdamaian

Sekali waktu setelah rangkaian ujicoba, Sakharov berkunjung ke lokasi pengujian. Dia terkejut melihat dampak besar dari efek radiasi bom hidrogen. Meski berada jauh dari permukiman, ledakan bom menyisakan kepedihan. Ribuan orang yang tinggal puluhan kilometer dari titik nol ujicoba harus direlokasi dan tidak bisa kembali dalam waktu singkat. Hunian banyak yang rusak dan kesehatan warga terancam.

Tanggung jawab sosialnya terpantik. Ia mulai memikirkan untuk menciptakan bom hidrogen tanpa efek yang besar kepada umat manusia. Terlebih, setelah pengujian tahun 1955, intensitas pemerintah Soviet meledakkan bom atom semakin sering dilakukan. Sakharov khawatir bom-bom itu akan menyebabkan dampak global: menyebarkan racun di atmosfer bumi.

Namun, keinginan itu tidak terwujud. Mustahil menciptakan bom hidrogen berdaya ledak besar tanpa efek terhadap manusia. Hanya ada satu cara untuk menghentikannya: mencari simpati publik dan melawan pemerintah Soviet.

Langkah ini tentu bukan hal mudah. Sakharov harus berjalan sendirian. Perlombaan nuklir antara AS dan Soviet membuat kawan-kawannya memandang ini adalah pekerjaan menarik karena bergaji tinggi. Akibatnya, tidak ada satupun yang mau mengikuti jejaknya. Apalagi risiko berat pun menyertai mereka jika membelot dari perintah negara. Meski Soviet mendukung penuh perkembangan ilmu pengetahuan, tetap saja terjadi pembelengguan terhadap ilmuwan dan pengetahuan.

Memasuki dekade 1960-an, dimulailah langkah aktivisme Sakharov. Ia banyak mengkritik berbagai kebijakan nuklir Kruschev dan memperjuangkan hak asasi manusia. Terutama setelah Soviet pada 1961 meluncurkan bom atom buatannya dan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah: Tsar Bomba, dengan kekuatan 57 megaton—setara 57 juta ton TNT dan 1.500 kali bom Hiroshima dan Nagasaki. Ia pun dicap sebagai pengkhianat negara dan menjadi target kepolisian.

Pada Mei 1968, Sakharov menulis esai berjudul “Reflection on Progress, Peaceful Coexistence, and Intellectual Freedom”. Ia memperingatkan dunia tentang bahaya besar senjata nuklir yang mengancam umat manusia dan menyerukan pengurangannya. Selain itu, ia juga memaparkan bahwa di Soviet sedang terjadi represi kepada aktivis sosial, termasuk yang dialami dirinya.


Infografik Mozaik Andrey Sakharov
Infografik Mozaik Andrey Sakharov. tirto.id/Tino


Esai ini kemudian viral setelah diterbitkan ulang oleh New York Times. Pada mulanya media asal AS ini tidak menyantumkan nama Sakharov. Mereka hanya menulis keterangan: ditulis oleh “koresponden Moskow, peneliti fisika nuklir yang membantu mengembangkan bom hidrogen Soviet.”

Namun, seiring berjalannya waktu dunia mengetahui jika orang yang dimaksud adalah Andrei Sakharov. Pemerintah Uni Soviet marah besar karena Sakharov berhasil membuka borok dan aib Soviet di tengah Perang Dingin. Akibatnya, status peneliti kehormatan di FIAN dan Nomenklatura dicabut. Bersama keluarga kecilnya, ia dikucilkan dan diasingkan ke kota terpencil di Soviet. Itu semua tidak menghentikan langkah aktivismenya. Ia tetap menulis dan menyuarakan penghentian perlombaan nuklir meski berulang kali didatangi polisi.

Atas usahanya ini, Komite Nobel pada 1975 menganugerahkan Nobel Perdamaian kepada Sakharov. Meski pada masa lalu punya catatan kelam karena usahanya mengembangkan nuklir, panitia tetap memberikan Sakharov penghargaan bergensi itu. Alasannya karena Sakharov telah berani menyerukan perdamaian di tengah kondisi pemerintah yang sangat represif. Sayangnya, ia tidak dapat hadir menerima penghargaan secara langsung di Oslo. Pemerintah Soviet melarangnya pergi keluar negeri. Penghargaan ini kemudian diterima oleh rekannya, Yelena Bonner.

“Pemberian penghargaan kepada seseorang yang membela hak-hak politik dan sipil terhadap tindakan ilegal dan sewenang-wenang berarti penegasan prinsip-prinsip yang memainkan peran penting dalam menentukan masa depan umat manusia. […] Ini adalah tindakan keberanian intelektual dan kesetaraan yang besar untuk memberikan penghargaan kepada orang yang idenya tidak sesuai dengan konsep resmi kepemimpinan negara yang besar dan kuat,” tulis Sakharov dalam pidato penghargaannya.

Aktivismenya terus berlanjut dan terhenti pada 1989 ketika meninggal dunia. Di Barat, namanya diagung-agungkan sebagai salah satu aktivis HAM paling giat dari Timur. Tapi di negerinya sendiri, ia tetap dipandang sebagai pengkhianat dan pembelot. Pandangan negatif ini terus terjadi setidaknya sampai Presiden Mikhail Gorbachev memulihkan nama baiknya.

Baca juga artikel terkait BOM NUKLIR atau tulisan menarik lainnya Muhammad Fakhriansyah
(tirto.id - Humaniora)

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah
Penulis: Muhammad Fakhriansyah
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight