23 Mei 1997

Amuk di Akhir Kuasa Orba: Detik demi Detik Jumat Kelabu Banjarmasin

Oleh: Muhammad Iqbal - 23 Mei 2021
Dibaca Normal 7 menit
Banjarmasin dilamun amuk massa di pengujung kekuasaan Orba. Konflik yang dipadamkan lewat represi aparat.
tirto.id - Banjarmasin, 23 Mei 1997, tepat hari ini 24 tahun lalu. Ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan ini membara dilanda kerusuhan massal. Semua bermula dari kampanye Golongan Karya pada hari terakhir putaran kampanye menjelang Pemilihan Umum 1997. Ditilik dari skala kerusuhan dan jumlah korban serta kerugiannya, peristiwa yang kemudian dikenal sebagai “Jumat Kelabu” (atau “Jumat Membara”) itu termasuk salah satu yang terbesar dalam sejarah Orde Baru.

Tapi, akibat ketertutupan rezim Soeharto, tidak ada laporan yang akurasinya bisa dipercaya penuh mengenai apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan pada waktu itu. Dibandingkan dengan skalanya, berita-berita media tentang Jumat Kelabu sangat terbatas dan tidak sebanding.

Sebelum Jumat Kelabu benar-benar kelabu, telah tersebar isu bahwa akan terjadi kerusuhan besar di Banjarmasin pada 3 Januari 1997. Massa yang datang dikabarkan berasal dari luar kota dan hendak melakukan unjuk rasa yang berpotensi menimbulkan kerusuhan. Isu ini mengakibatkan banyak pertokoan tutup, lantaran ada juga desas-desus bahwa toko, swalayan, dan mal karena akan menjadi sasaran amuk. Karena itu, para pedagang terpaksa menutup toko dan memulangkan karyawan mereka lebih cepat.

Suasana semakin mencekam karena rakyat Banjarmasin yang ingin mengetahui apa yang akan terjadi di kotanya mengular turun ke jalan. Sementara itu, aparat keamanan dari Polda Kalsel, Korem 101/Antasari, Polresta, dan Kodim 1007 Banjarmasin juga dikerahkan untuk siap siaga mengantisipasi kerusuhan. Namun, kerusuhan lalu terbukti sebagai isu belaka. Selain itu, juga tersebar selebaran hitam yang mengklaim dikirim dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur bertanggal 21 Februari 1997. Selebaran itu menghasut orang-orang melakukan kerusuhan pada 28 Mei-30 Mei 1997.

Bermula dari Kampanye Golkar

Bagi sebagian besar masyarakat Banjarmasin, Jumat Kelabu merupakan peristiwa yang meninggalkan kesedihan dan trauma mendalam. Peristiwa ini terjadi pada hari Jumat sesaat sebelum berakhirnya sembahyang Jumat.

Ribuan simpatisan Golkar sudah terlihat mulai mendatangi Lapangan Kamboja pada pukul 10.00 WITA. Di antara yang hadir adalah kalangan ulama (tuan guru), yang memang selalu mendapatkan undangan setiap kampanye Golkar. Dalam perjalanan konvoi, para simpatisan Golkar meraung-raungkan kendaraan dan melakukan kebut-kebutan secara tidak karuan, sehingga mengganggu pengguna jalan lain. Mereka semakin lepas kendali dengan tetap meraung-raungkan kendaraan tanpa memedulikan kumandang azan salat Jumat. Ini secara langsung mengusik kekhusyukan umat Islam yang sedang melaksanakan sembahyang.

Pada kampanye putaran terakhir ini, Golkar mendatangkan Menteri Sekretaris Kabinet Saadillah Mursjid dan Ketua Majelis Ulama Indonesia K.H. Hasan Basri. Keduanya adalah tokoh penting etnis (urang) Banjar.

Tragedi Jumat Kelabu berawal dari kesalahpahaman di antara masyarakat Banjarmasin seusai sembahyang Jumat. Kejadiannya berlokasi di sekitar Jalan Pangeran Antasari di depan Masjid Agung Miftahul Ikhsan, di ujung perempatan Jalan Kolonel Soegiono, dan di depan Mitra Plaza sampai ke ujung Jalan Pangeran Samudera. Konflik itu terjadi sekitar pukul 13.30 WITA antara massa yang sedang mempersiapkan kampanye Golkar dengan sekelompok orang yang mungkin tidak suka dengan keberisikan mereka. Lalu terjadilah letupan kecil di depan Pos Polisi Sudimampir dan merambat sampai ke depan Masjid Noor Jalan Pangeran Samudera sekitar pukul 14.00 WITA.

Menurut Muhammad Habibi Darma Saputra dalam penelitiannya, “Peristiwa Kerusuhan Banjarmasin 23 Mei 1997” (2014), ada tiga versi tentang awal kerusuhan. Versi pertama menyebutkan bentrokan terjadi di luar dugaan jamaah salat Jumat. Pada awalnya, jamaah hanya memberikan teguran kepada para anggota satuan tugas (satgas) Golkar yang mengamankan prosesi kampanye; namun anggota satgas Golkar, yang sebagian besar adalah preman, ternyata membawa senjata tajam dan menyerang jamaah hingga berlarian ke perkampungan di sekitar masjid.

Versi kedua menyebutkan bentrokan terjadi karena ada tiga pengendara motor, yang merupakan anggota satgas, babak belur dipukuli jamaah. Mereka kemudian memacu motor menuju kantor DPD Golkar Kalsel untuk mengadu pada teman-teman mereka dan kembali menyerang balik dengan pasukan yang lebih banyak.

Versi ketiga menyebutkan bentrokan terjadi selain antara tiga pengendara sepeda motor itu, di sekitar Masjid Noor, juga karena sudah banyak satgas Golkar yang menyaksikan teman mereka dipukuli. Mereka ikut membantu. Tapi simpatisan dan satgas, yang berjumlah 8 orang, terdesak oleh massa yang semakin menyemut.

Selepas kejadian di Masjid Noor, orang-orang semakin banyak turun ke jalan untuk melampiaskan segala kekesalan. Tujuan utama massa adalah mengobrak-abrik kampanye Golkar. Massa pun menuju titik pusat kampanye, yaitu Kantor DPD Golkar dan Lapangan Kamboja, dan menyerang kedua tempat itu secara brutal. Sweeping di Lapangan Kamboja dilakukan massa yang dari ciri-ciri fisiknya terlihat seperti orang Madura dengan menggunakan atribut Partai Persatuan Pembangunan.

Mereka membubarkan dan "mengudeta" kampanye, sehingga suasana gembira berubah menjadi mencekam. Para penyerbu datang dengan membawa celurit—senjata tajam yang diidentikkan dengan orang Madura. Ratusan peserta kampanye berlarian dan sebagian yang tidak sempat berlari dipaksa melucuti pakaian untuk melepaskan atribut Golkar. Jika ada yang melawan, penyerbu tidak segan-segan melukai.

Serangan terhadap kantor DPD Golkar terjadi dalam dua gelombang. Pada serangan pertama, massa mengejar simpatisan Golkar yang lari ke dalam kantor dan aksi saling lempar antara massa dan simpatisan Golkar pun terjadi. Karena kalah dalam jumlah massa, simpatisan Golkar lari terbirit-birit. Sebelum aparat keamanan berhasil meredakan amuk massa, lima mobil milik simpatisan Golkar yang berada di kantor DPD turut dibakar.

Serangan kedua terjadi pada pukul 18.00 WITA, saat halaman depan gedung kantor masih mengepul akibat terbakarnya mobil pada serangan pertama. Pada serangan kedua ini massa membakar bagian depan gedung dan memblokade jalan ke arah gedung itu, tujuannya agar pemadam kebakaran tak dapat masuk.

Saat bagian luar Kantor DPD Golkar terkepung perusuh, sekitar pukul 14.15 WITA di dalam gedung masih ada beberapa pengurus DPD Golkar Kalsel yaitu Sulaiman H.B., Anang Yusnie, Mahdiansyah Hadarie, dan Ismaun H.M. Di lantai II ruang Bendahara masih terdapat seorang staf bernama Diah Irawati dan Kapten Masran. Sementara dari balik pintu, ada seseorang yang tidak dikenal masuk ke dalam ruangan. Orang itu ingin membawa Sulaiman, yang merupakan Bendahara Golongan Karya, keluar dari gedung untuk menemui Saadillah Mursjid, K.H. Hasan Basri, dan Gubernur Kalsel Gusti Hasan Aman.

“Mari, Pak Haji Sulaiman. Katanya Bapak ditunggu Menteri di Hotel,” ujar orang tak dikenal itu.

Sulaiman menolaknya dan memutuskan untuk melompat tembok dinding beton di antara gedung Golkar ke gedung PLN Banjarmasin. Di sana ada Syaifuddin A.R. yang sudah menyiapkan tangga darurat untuk menaiki tembok beton setinggi 3 meter. Sulaiman dan rombongan akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di rumah Kapolda Kalsel Kol. Sanimbar. Sekitar 7 jam berada di sana, rombongan akhirnya memilih untuk berpindah ke Mapolda.

Infografik Mozaik Kerusuhan Banjarmasin
Infografik Mozaik jumat kelabu Banjarmasin. tirto.id/Fuad


Berubah Menjadi Kerusuhan Rasial

Husnul Khotimah dalam “Collective Memory ‘Jum’at Kelabu’ Di Banjarmasin (Perspektif Resolusi Konflik Atas Peristiwa 23 May 1997)” (2017: 75-116) menjelaskan bahwa setelah "mengudeta" kampanye dengan menyerang Kantor Golkar dan Lapangan Kamboja, dengan komando dari seseorang yang tidak diketahui, massa menuju tempat-tempat ibadah. Sekitar pukul 14.00 WITA, massa bergerak menuju ke arah Gereja Katedral. Mereka mengeluarkan semua isi gereja, merusak, dan membakar kursi dan meja di tengah jalan. Massa sebenarnya hendak membakar gereja, namun gagal karena tembok gereja tersebut terbuat dari beton tebal.

Massa kembali bergerak merusak dan membakar Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) yang bersebelahan dengan kantor surat kabar Banjarmasin Post. Turut dibakar juga rumah-rumah di belakang gereja yang merupakan perkampungan warga Tionghoa. Sementara kantor Banjarmasin Post selamat dari api.

Selain kedua gereja itu, menyusul kemudian tempat ibadah lainnya, seperti Gereja Eben Ezer di Jalan S. Parman; Gereja Santa Maria di Jalan Pekauman; Gereja Pantekosta, Gereja GKKA, dan Gereja Kuning di Jalan Veteran; serta Kelenteng di Jalan Pierre Tendean. Di sepanjang jalan-jalan itu, hampir semua toko milik keturunan Tionghoa dibumihanguskan oleh massa. Namun toko-toko milik urang Banjar selamat. Saat itu jalanan tertutup oleh pawai massa dengan atribut PPP.

Pada saat kejadian tengah berlangsung, banyak simpatisan Golkar dari luar kota berdatangan. Mereka tidak mengetahui bahwa telah terjadi kerusuhan di Banjarmasin. Banyak dari mereka yang baru masuk ke dalam kota langsung diserang massa. Sebagian lagi tidak sempat masuk karena ada imbauan dari masyarakat dan aparat, sehingga mereka bisa kembali dengan selamat ke rumah masing-masing.

Tidak diketahui jelas dari mana datangnya, tapi kerumunan massa perusuh semakin lama kian membesar. Mereka datang dengan senjata tajam. Semua orang yang sudah terlanjur menggunakan atribut Golkar berlarian menyelamatkan diri. Ada pula yang lari ke rumah penduduk dan meminjam pakaian apa saja atau atribut PPP; yang gagal memperoleh atribut terpaksa membuang kaos yang dipakainya ke tepi jalan. Keadaan memang begitu mencekam, sampai-sampai ada beberapa orang berlarian hanya dengan mengenakan pakaian dalam. Para pemilik toko di Jalan Jati juga memasang bendera PPP di depan kios mereka untuk menghindarkan diri dari amukan massa.

Setelah puas merusak dan membakar tempat-tempat ibadah, massa kemudian menjadikan pusat perbelanjaan dan hiburan sebagai sasaran amuk selanjutnya. Pertokoan di Jalan Lambung Mangkurat dan Pasar Lima menjadi sasaran utama. Selanjutnya, Gedung Junjung Buih Plaza yang berlantai delapan— yang di dalamnya terdapat pusat perbelanjaan, Hotel Kalimantan, dan kantor-kantor perbankan—dirusak, dijarah, dan dibakar. Beberapa karyawan Bank Lippo yang sedang berusaha menyelamatkan uang nasabah dikalungi celurit oleh massa. Para penyerbu pun menggasak semua uang itu.

Hermawan Sulistyo dalam "Anarki Enam Jam: Rekonstruksi Kerusuhan Jumat Membara di Banjarmasin" (1999) mendedahkan bahwa massa mengincar Hotel Kalimantan karena mereka mengetahui di dalam hotel itu terdapat K.H. Hasan Basri, yang memang pada saat itu menjadi salah satu sasaran amuk massa.

K.H. Hasan Basri dan Saadillah Mursjid yang seharusnya ikut memeriahkan kampanye terpaksa mengurungkan niat. Jangankan menuju lokasi kampanye, untuk keluar dari hotel saja mereka kesulitan karena hotel sudah dikelilingi api. Rombongan ikut terkurung dalam kobaran api yang semakin besar. Tim evakuasi pun segera diterjunkan ke lokasi untuk menyelamatkan orang-orang yang masih terkurung di Hotel Kalimantan.

Infografik HL Kerusuhan Tasikmalaya
Infografik HL Kerusuhan Tasikmalaya


Pada pukul 20.30 WITA, massa beramai-ramai ke arah Supermarket Mitra, pusat pertokoan terbesar di Banjarmasin. Di gedung berlantai empat ini terdapat toko-toko elektronik, komputer, diskotik, ruang pertemuan, showroom mobil mewah, toko buku Gramedia, KFC, Bioskop 21, dan sarana hiburan anak-anak. Massa berhasil masuk dengan menerobos blokade keamanan dan kemudian menjarah pusat perbelanjaan dan hiburan tersebut.

Melihat amuk massa yang tidak terkendali, seluruh pegawai Mitra Plaza keluar menyelamatkan diri. Salah satu karyawati selamat karena dibantu aparat keamanan. Sebagian lagi keluar melewati pintu belakang sambil mengangkat tangan ke atas agar terhindar dari sasaran amuk.

Massa terus mengamuk dan mengobrak-abrik isi gedung. Pada saat itu tersiar kabar bahwa pasukan keamanan diperbolehkan untuk menangkap dan menembak di tempat. Namun, pasukan keamanan tidak melakukan apa-apa. Akhirnya, massa yang lengkap dengan berbagai senjata tajam itu kian membabi buta.

Hairus Salim H.S. dan Andi Achdian dalam Amuk Banjarmasin (1997) meneroka bahwa pada pukul 22.00 WITA, datang pasukan bantuan dari Kopassus untuk mengamankan keadaan yang semakin tidak terkendali. Versi pertama menyebutkan pasukan tersebut datang menggunakan tiga pesawat Hercules yang kemudian diturunkan di Lapangan Kamboja. Versi kedua menyebutkan pasukan itu datang dengan menggunakan tiga Helikopter yang diturunkan langsung di Jembatan Mitra.

Penelusuran awal Komnas HAM melaporkan bahwa tim investigasinya tidak menemukan korban yang terkena tembakan dalam peristiwa itu. Namun, perihal itu masih perlu ditelusuri lebih dalam karena ketika pasukan Kopassus mendarat di Lapangan Kamboja, mereka kemudian bergerak mendekati Mitra Plaza dengan diiringi sebuah truk. Mereka menghalau dan menembaki massa yang masih ada di sekitar gedung dan kemudian mengangkut mayat-mayat dengan truk.

Sekitar pukul 23.00 WITA, saat massa di Gedung Plaza sudah terkepung oleh pasukan Kopassus, massa lain menuju ke luar kota dan menjadikan rumah-rumah calon legislatif Golkar sebagai sasaran amuk selanjutnya. Terbetik kabar bahwa massa membawa formulir berisi Daftar Calon Tetap (DCT) Golkar. Ada empat rumah yang dibakar walau belum jelas apakah itu rumah caleg Golkar atau bukan.

Sasaran lainnya adalah toko-toko milik orang Tionghoa di sepanjang jalan. Sebagian dirusak, sebagian hanya dilempari batu. Hampir semua toko di sepanjang Jalan A. Yani rusak berat dan api membumbung tinggi. Kali ini pasukan tidak lagi diam. Mereka mulai mengejar-ngejar dan mengamankan massa yang dianggap sebagai perusuh hingga keadaan kembali aman.

Jumat Kelabu 23 Mei 1997 adalah drama tragis di pengujung kekuasaan diktator Soeharto. Hari itu, Banjarmasin menjadi tong sampah besar di mana segala amuk ditumpahkan, sinisme diumbar, kebencian disalurkan, dan kesumat dilampiaskan. Amarah dan darah seperti karib yang tak terpisahkan. Ada yang terluka, ada yang kehilangan harta benda, bahkan ada yang kehilangan anggota keluarga.

Asmara Nababan, anggota Komnas HAM yang menyelidiki peristiwa ini, mengatakan bahwa ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah dan penguasa ikut mendorong peristiwa tersebut. Dalam wawancaranya dengan Tempo (30 Mei 1997), Nababan mengatakan, "Ada kejengkelan yang akumulatif terhadap birokrasi. Celakanya, pemerintah seringkali tidak memperhatikan hal itu."

Saya melihat langsung peristiwa itu sebagai bocah berumur 12. Bagi saya, dan mungkin bagi semua orang Banjarmasin yang menyaksikannya, Jumat Kelabu menyisakan pengalaman traumatis akan kekerasan dalam pelbagai dimensi. Termasuk di dalamnya adalah kekerasan aparat negara terhadap rakyatnya sendiri. Dan dalam setiap trauma, kita tak pernah tahu kapan berakhirnya.

==========

Muhammad Iqbal adalah sejarawan kelahiran Amuntai, Kalsel. Sehari-hari ia mengajar di IAIN Palangka Raya dan menjadi editor penerbit Marjin Kiri. Baru-baru ini ia menulis buku berjudul Menyulut Api di Padang Ilalang: Pidato Politik Sukarno di Amuntai 27 Januari 1953.

Baca juga artikel terkait ORDE BARU atau tulisan menarik lainnya Muhammad Iqbal
(tirto.id - Politik)

Penulis: Muhammad Iqbal
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight