Amnesty Sebut Tahanan Muslim Uighur di Xinjiang Mirip Kamp Perang

Oleh: Yantina Debora - 17 Desember 2018
Dibaca Normal 1 menit
Kamp tahanan untuk Muslim Uighur mirip kamp perang.
tirto.id - Amnesty Internasional mengungkapkan kamp yang digunakan pemerintah Cina untuk menahan etnis Muslim Uighur dan minoritas Muslim lainnya seperti kamp perang.

Mengutip Independent, kelompok HAM menyatakan terdapat lebih dari satu juta etnis Uighur, Kaakh dan minoritas lainnya di kamp tersebut. Mereka ditahan secara sewenang-wenang di wilayah Xinjiang barat.

Namun menurut aktivis Uighur dan peneliti Cina di Amnesty International, Patrick Poon, jumlah tahanan di Xinjiang itu bisa mencapai 3 juta.

“Skala ini menakutkan. Kami belum melihat dalam sejarah Cina baru-baru ini bahwa akan ada skala besar dalam penahanan orang di kamp dalam jumlah yang sangat besar,” kata Patrick.

“Jadi saya pikir itu sah bagi orang-orang untuk menyampaikan kekhawatiran tentang bagaimana kamp-kamp tersebut dijalankan serupa dengan kamp konsentrasi masa perang. Ini sebanding dalam skala."


Patrick melanjutkan bahwa Amnesty memiliki laporan dari mantan tahanan yang mengatakan mereka dipaksa untuk menghadiri pelajaran pendidikan politik dan menyanyikan lagu-lagu politik Cina.

Laporan sebelumnya mengatakan etnis Muslim Uighur dipaksa untuk bersumpah setia kepada Partai Komunis Cina Mereka juga dipaksa untuk makan daging babi dan minum alkohol - tindakan terlarang dalam agama Islam.

Pihak Cina menepis tudingan Amnesty Internasional dan mengatakan bahwa pihaknya menahan warga yang melakukan kejahatan ringan dan mengirim mereka ke pusat-pusat pelatihan.

Mengenal Etnis Uighur di Cina

Uighur atau bisa juga Uygur atau Uyghur merupakan orang berbahasa Turki di pedalaman Asia. Kaum Uighur sebagian besar di Cina barat laut, di Wilayah di Xinjiang.

Etnis Uighur di Cina diperkirakan mencapai sekitar 10.000.000 orang dan setidaknya terdapat 300.000 di Uzbekistan, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan.

Orang Uighur termasuk suku tertua yang berbahasa Turki di Asia Tengah. Mereka disebutkan dalam catatan Cina dari abad ke-3.

Mereka mulai dikenal pada abad ke-8, ketika mendirikan kerajaan di sepanjang Sungai Orhon yang kini merupakan Mongolia.


Kota-kota utama Uighur adalah Urumqi, ibu kota Xinjiang, dan Kashgar (Kashi), pusat perdagangan kuno di Jalur Sutra bersejarah dekat perbatasan antara Rusia dan Cina.

Kaum Uighur tidak memiliki kesatuan politik dalam beberapa abad terakhir, kecuali memasuki abad ke-19 ketika mereka memberontak melawan Beijing.
Organisasi sosial mereka berpusat di desa. Orang Uighur Xinjiang adalah Muslim Sunni.

Kekerasan mulai terjadi dan salah satu yang terbesar pada Juli 2009. Dalam insiden di Urumqi, tercatat 200 orang kebanyakan dari etnis Han terbunuh dan sekitar 1.700 terluka.

Pemerintah Cina mencurigai uighur terkait kejadian itu. Beijing juga mengungkapkan Uighur sebagai pembangkang dan separatus.

Baca juga artikel terkait AMNESTY INTERNATIONAL atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Yantina Debora
Editor: Yantina Debora