Ambisi Membahagiakan Anak yang Timpang Kesehatan

Ilustrasi. FOTO/Istock
Oleh: Aulia Adam - 5 Maret 2017
Dibaca Normal 1 menit
Upaya orang tua untuk memprioritaskan kebahagiaan anaknya seringkali timpang dengan layanan kesehatan. Di Indonesia, persoalan gizi buruk masih menjadi masalah utama anak-anak.
tirto.id - Johan memainkan gitarnya sambil bernyanyi untuk putranya yang baru lahir. Dalam sebuah obrolan, Johan sempat berucap bahwa kebahagiaan untuk putranya di atas segalanya, melebihi kebahagiaan dirinya sendiri. Ia bertekad ingin dapat pekerjaan lebih baik demi masa depan sang anak.

Ia hanya contoh dari sekian banyak orang tua di Indonesia yang tentu ingin memberikan segalanya kepada anaknya. Seorang ayah bisa memaksakan diri untuk sekadar membelikan mainan mobil remote kontrol yang harganya tak murah di saat keuangan keluarga sedang kembang-kempis.

Para ayah tentu ingin anaknya senang dan memprioritaskan kebutuhan pendidikan untuk buah hati. Dari riset HSBC di 16 negara, termasuk Indonesia, sebanyak 64 persen orang tua memang memprioritaskan kebahagiaan anaknya, sementara 30 persen ingin mengutamakan karier anak-anaknya agar sukses.

Prioritas utama orang tua Indonesia untuk anaknya adalah kebahagiaan mereka dalam hidup. Prioritas kedua tertinggi adalah agar sukses dalam hidupnya. Ketiga agar dapat penghasilan baik. Keempat, baru orang tua ingin anaknya hidup sesuai potensi mereka. Dan prioritas paling rendah adalah, orang tua Indonesia ingin anaknya hidup sehat.

Faktor kebahagiaan yang diinginkan orang tua, dalam laporan tersebut, adalah bagaimana anak-anak mereka menjalani hidup agar menjadi sukses dan hidup layak ketika dewasa. Salah satu cara agar cita-cita itu terwujud adalah dengan memberikan pendidikan anak hingga ke jenjang tinggi

Dalam survei yang melibatkan 5.550 orang tua di 16 negara, di antaranya India, Malaysia, Turki, Cina, Indonesia, Hong Kong, Uni Emirat Arab, Singapura, Taiwan, Brazil, Meksiko, Amerika Serikat, Australia, Inggris, Kanada, dan Perancis, sebanyak 77 persen orang tua ingin anaknya lulus sampai perguruan tinggi. Dengan begitu, setidaknya anak-anak mereka punya modal untuk bisa mengatur keuangan. Sebanyak 84 persen orang tua berharap universitas bisa membuat anak-anak mereka mandiri.



Pepatah lama "kasih Ibu dan Ayah memang sepanjang masa" bisa dilihat dari keputusan orang tua yang mempersiapkan masa depan bagi sang anak. Laporan HSBC juga menyebutkan kalau rata-rata orang tua akan menghabiskan 6,7 tahun menyicil pinjaman untuk pendidikan anaknya.

Namun, dalam tujuan mulia menyekolahkan anak dan hasrat agar mereka hidup bahagia, orang tua kerap abai pada isu penting lainnya yang padahal tak kalah penting yaitu kesehatan. Di antara 16 negara tersebut, hanya Cina dan Turki yang memiliki orang tua dengan prioritas utama kesehatan untuk anak-anaknya.

Di Indonesia, prioritas kesehatan ini adalah yang paling rendah. Hal ini yang agaknya membuat Indonesia termasuk tiga negara dengan persoalan gizi buruk paling tinggi di antara negara-negara ASEAN lainnya.

Menurut laporan Global Nutrition 2016, dalam daftar Countries ranked from lowest to highest, stunting prevalence--Indonesia menempati posisi 108 dalam deretan negara-negara yang baik mengurus persoalan gizi buruk. Posisi ini jauh di bawah negara Asia Tenggara lainnya seperti Thailand (46), Malaysia (47), Vietnam (55), Brunei (56), Filipina (88), dan Kamboja (95). Indonesia hanya lebih tinggi dari Laos (124) dan Timor Leste (132).

Padahal menurut laporan yang sama, masalah gizi buruk yang tak diantisipasi oleh keluarga akan memakan biaya tak terduga. Di Amerika Serikat, masalah kesehatan akan memangkas 8 persen pendapatan sebuah keluarga hanya untuk mengurus satu orang obesitas dalam keluarga tersebut.

Bayangkan jika dalam satu keluarga ada lebih dari satu orang yang obesitas. Di Cina, pendapatan sebuah keluarga akan dipakai 16,3 persen untuk masalah diabetes. Sementara di India, 30 persen pendapatan keluarga akan dihabiskan untuk penyakit yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah. Menginginkan anak bahagia tentu saja sebuah cita-cita mulia. Namun, jangan lupa pula mengajarinya jadi pribadi yang sehat. Sebab menjadi sehat adalah hak semua orang, termasuk anak-anak.

Petitih Jamie Oliver, seorang ahli masak sekaligus aktivis makanan sehat ini bisa mencerahkan bagaimana pentingnya kesehatan pada seorang anak, yang tak kalah penting dari aspek kebahagian lainnya.

“Jutaan anak terlalu banyak makan makanan yang salah, sementara jutaan lainnya kekurangan makanan yang baik. Nutrisi adalah hak dasar—mari membuatnya jadi kenyataan.”

Baca juga artikel terkait ANAK-ANAK atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Suhendra
DarkLight